
" Selamat pagi Bu Renata !" sapa Diaz seraya mengulurkan tangan.
" Selamat pagi Pak Diaz " sambut Renata dengan menyambut uluran tangan dari Diaz.
" Oh iya Bu Renata perkenalkan atasan baru saya,ibu Alivea ". Ujar Diaz memperkenalkan Vea pada Renata. Vea tersenyum mengulurkan tangan pada Renata. Yang tampak tersenyum kaku padanya
" Alivea , apa kita pernah bertemu sebelumnya ?" tanya Vea seraya mengernyitkan dahi. Merasa pernah melihat wajah Renata, namun tak ingat di mana.
" Saya Renata,mungkin pernah berpapasan sebelumnya. Karena saya juga merasa pernah melihat wajah anda " sahut Renata berusaha ramah.
" Maaf saya terlambat " imbuh Renata.
" Tidak apa-apa,belum lama juga kami sampai " jawab Vea ramah. Kemudian keempatnya duduk di kursi masing-masing.
" Jadi anda pimpinan baru PT. AA Sejahtera ?" tanya Renata yang penasaran dengan sosok wanita di hadapannya.
'' Ya, sebelumnya masih di pegang kakak saya Aksara . Tapi beliau harus memegang kantor pusat,jadi saya di haruskan terjun langsung di kantor cabang. Semoga ke depannya kita bisa bekerjasama dengan baik'' ucap Vea membuat Renata cukup terkejut,karena ternyata kekasih Dave bukanlah wanita sembarangan. Ternyata dia adalah adik Aksara Dwilangga. Yang berarti dia putri tunggal keluarga Dwilangga yang tak pernah muncul di publik.
Mengesampingkan perasaan tak nyaman berada dalam satu ruang bersama wanita yang meruntuhkan kisah cintanya. Ia berusaha profesional,mau bagaimana lagi. Memperlihatkan ketidaksukaannya pada wanita itupun sia-sia. Ia juga cukup sadar diri,orang di hadapannya bukanlah orang yang tepat untuk di ajak bersaing.
Wanita cantik, berpendidikan tinggi,berkarir cemerlang,dengan kecerdasan yang tak perlu di pertanyakan. Dan lagi ,secara finansial Vea jauh di atasnya. Kini ia paham kenapa Dave memilih wanita itu sebagai kekasihnya.
Selain paras cantik,apa yang di miliki wanita itu bisa memperlancar perusahaan Dave. Itu yang terbersit dalam benak Renata. Dave benar-benar memilih wanita yang berkelas.
Pembahasan tentang kerjasama mereka di temani dengan minuman hangat serta makanan ringan. Sampai mereka merasa cukup dengan pembahasan yang mencapai kesepakatan untuk bekerjasama. Berakhir dengan penandatanganan kontrak dari dua belah pihak.
'' Terima kasih atas kepercayaan anda pada perusahaan kami'' ucap Renata dengan tangan terulur yang di sambut baik oleh Vea.
'' Sama-sama,semoga ke depannya berjalan dengan lancar. '' ujar Vea dengan senyum lebar. Setelah berbasa-basi sejenak mereka undur diri untuk kembali ke perusahaan masing-masing.
"Setelah ini saya ada jadwal apa Mas ?'' tanya Vea setelah keduanya sampai di parkiran restoran .
'' Nanti ada pertemuan lagi di kantor sekitar jam tiga bu. Apa ibu ingin pergi ke suatu tempat mungkin ?'' tawar Diaz yang sebenarnya masih ingin berdua dengan atasan cantiknya.
'' Mmm,valik ke kantor aja deh. Pengen refreshing sih. Seminggu ini rasanya capek banget. ''
'' Kalau ibu ingin saya mengantar ke mana dulu sebelum kembali ke kantor saya siap '' ucap Diaz.
'' Nanti takutnya kak Aksa dateng aku gak ada, ngomel dianya'' sahut Vea dengan bibir sedikit mengerucut. Ia butuh sedikit penyegaran untuk otaknya. Yang di jejali dengan berbagai dokumen yang harus di pelajari.
'' Kan ibu bisa bilang ada rapat di luar'' Diaz memberi ide pada Vea. Membuat Vea mengembangkan senyum.
'' Pinter mas Diaz deh. Ya sudah antar saya ke alamat ini ya mas '' ujar Vea seraya memperlihatkan layar ponsel bertuliskan alamat sebuah perusahaan.
'' Mahendra desaign corp bu ? '' tanya Diaz memastikan.
'' Iya, kantor pacar saya mas. Nanti mas Diaz bisa kembali terlebih dulu ke kantor.'' ucap Vea bersemangat. Berbeda dengan lelaki yang di sampingnya tampak mencelos. Idenya ternyata jadi Boomerang. Bukan dia yang memiliki kesempatan jalan dengan sang atasan justru memberi jalan atasannya untuk bertemu sang kekasih.
🧸🧸🧸
Vea turun dari dalam mobil dengan paper bag berisi cake yang tadi sempat ia beli di perjalanan menuju kantor Dave.
'' Baik bu '' sahut Diaz singkat. Vea melangkah masuk perusahaan milik sang kekasih dengan langkah penuh percaya diri.
'' Suang Mbak, Pak Dave nya ada ?'' tanya Vea di bagian FO.
'' Ada bu,ibu sudah membuat janji ?'' tanya sang petugas dengan senyum ramah.
'' Belum sih, apa pak Dave sedang sibuk ?''
'' Sepertinya tidak bu , tidak ada pertemuan di luar juga sepertinya bu''. tutur wanita itu
'' Kalau begitu,boleh saya bertemu ?''
'' Saya hubungi dulu sekertaris nya bu ''
'' Tidak usah,saya yakin pak Dave tidak keberatan akan kedatangan saya'' ucap Vea.
Mengingat atasannya yang dulu memang sering membawa wanita ke kantor. Akhirnya pegawai FO itu mengijinkan Vea masuk. Memberi tahu ruangan Dave. Dengan langkah ringan Vea meninggalkan lobby kantor sang kekasih.
Memasuki lift menuju lantai dimana ruangan Dave berada. Senyum tipis tergambar di wajah ayu itu. Dia yakin kekasih nya pasti terkejut dengan kedatangannya.
Keluar dari lift,Vea melangkah pasti menuju ruang yang tadi telah di tunjukkan arahnya okeh pegawai front office . Sampai di depan ruangan Dave,Vea melewati sebuah ruangan yang terdapat meja namun kosong. Sepertinya meja sekertaris Dave.
Karena tak ada sekertaris di sana ia langsung menuju ruangan sang kekasih. Tanpa mengetuk pintu Vea membukanya.
'' Sayang...!" seru Vea dengan senyum lebarnya.
Dug
'' Auww...'' seruan seseorang yang sedang tertunduk di bawa meja kerja Dave terdengar karena terantuk ujung meja saat hendak berdiri.
Hilang sudah senyum di wajah Vea. Pemandangan di hadapannya membuat ia tertegun.
'' Honey !'' seru Dave melihat kedatangan Vea,tapi saat hendak menghampiri sang kekasih. Ia terhalang sekertarisnya yang masih mematung di dekat meja kerja Dave.
'' Sorry kayaknya aku ganggu '' ucap Vea dengan mata berkaca-kaca. Kemudian berbalik meninggalkan ruangan Dave .
'' Ve, tunggu. Ini gak kayak yang kamu pikir'' teriak Dave sambil mendorong tubuh sang sekretaris yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.
Dave berlari mengejar Vea,namun Vea keburu masuk ke dalam lift. Tepat di saat dirinya sampai didepan lift, liftnya tertutup.
" Shittt !!" umpat Dave panik. Ia berbalik arah menuju tangga. Dengan berlari Dave menuruni setiap anak tangga, ia harus sesegera mungkin sampai lantai bawah. Ia tak mau kekasihnya pergi dari kantornya dengan segala kesalahpahaman.
Sampai di lantai dasar,Dave mengedarkan pandangan. Tak di lihatnya sang kekasih. Ia berlari ke luar lobby. Tampak Vea berdiri di tepi jalan hendak menyetop taksi. Dave berlari menghampiri wanitanya.
Sampai di dekat Vea tanpa berucap sepatah kata. Dave memeluk erat tubuh Vea dari belakang. Membuat Vea memberontak,ingin melepaskan diri .
" Please sayang, dengerin aku dulu. Please !" ucap Dave memohon. Ia tak lagi perduli menjadi tontonan gratis para karyawannya. Ia hanya tak mau Vea salah paham.