If

If
Demi Maaf Darimu



Dering ponsel milik Vea menyadarkan dirinya yang kini terhanyut dalam tangis. Nana Diaz tertera di sana. Membuat Vea menghirup nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Berharap mampu mengendalikan diri. Ahar tak terbawa perasaan. Vea menghapus air matanya dan kembali menarik nafas .


" Ya hallo !'' ucap Vea setelah menggeser lambang hijau di layar ponselnya.


" Maaf bu,ibu dimana ?. Sejam lagi kita ada rapat ". ucap Diaz memberi tahu sang atasan yang belum juga datang . Vea melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, benar saja ia sudah terlambat datang ke kantor.


" Saya sudah di jalan Mas,tidak sampai sejam kemungkinan saya sampai kantor" jawab Vea setelah memperkirakan waktu tempuh sampai di perusahaannya.


" Baik bu saya tunggu " ucap Diaz yang langsung mematikan sambungan telepon. Vea mengambil peralatan make up di dalam tas. Menatap dirinya dalam cermin. Sungguh penampilan yang berantakan. Wajah sembab dengan mata memerah, eyeliner sedikit melebar, bedak yang terhapus air mata. Vea menghembuskan nafas kasar.


Diambilnya cairan pembersih wajah untuk menghapus makeup yang berantakan. Setelah terhapus ia mengaplikasikan kembali make up di wajahnya. Setelah ia kira cukup untuk menutupi wajah sembabnya,Vea kembali menyalakan mesin mobil. Menerobos padatnya arus di pagi hari.


Sekitar 45 menit Vea sampai di depan gedung kantornya. Mengambil kaca mata untuk sedikit menyamarkan matanya yang memerah. Ia menarik nafas, apapun yang sedang menimpa hatinya ia harus profesional. Ia tak mau mengecewakan Papa yabg sudah memberinya kepercayaan untuk mengelolah perusahaan tersebut.


Melangkah dengan menegakkan badan, mengangkat sedikit wajahnya membuat Vea tampak percaya diri. Suara derap heels yang di pakainya membuat orang menoleh dan menyadari kedatangannya. Ucapan selamat pagi terus menyapa dari setiap karyawan yang dijumpainya. Ia pun membalas dengan sapaan dan senyum ramah.


Namun senyumnya pudar seketika saat melihat dua lelaki yang duduk berhadapan di kursi tunggu yang terletak di lobby. Lelaki yang tampak sedang mengukur kekuatan satu sama lain. Menatap tajam meski mulut saling diam.


Vea mendengus kesal melihat dua orang lelaki dengan penampilan bertolak belakang. Dave dengan rambut acak-acakan,celana jeans serta kemeja slim fit berwarna navy. Sayangnya, meski dalam keadaan seperti itu pun tak memudarkan ketampanan lelaki itu. Justru sesaat Vea di buat terkesima menatap wajah lelaki yang baru saja memberinya ucapan pedas.


Sedang dihadapan Dave, duduk Fardan dengan penampilan rapi stelan jas berwarna abu. Wajah tampan yang sayangnya tidak bisa membuat Vea terkesima.


" Selamat pagi bu Vea ! " sapa Diaz tiba-tiba, membuat dua lelaki yang tadi belum menyadari keberadaannya kini menoleh pada arah yang sama.


" Pagi Mas , bagaimana rapatnya apa saya terlambat ?'' tanya Vea pada Diaz .


" Belum bu, sepuluh menit lagi rapat di mulai " terang Diaz setelah melihat jam tangannya.


Melihat Vea, Dave dan Fardan bergegas mendekati wanita itu .


" Sayang " ucap Dave dengan tatapan memelas saat sudah beberapa langkah di dekat Vea. Mendengar panggilan sayang membuat Vea melengos.


" Ve...! " suara lirih Fardan terdengar penuh pengharapan.


Vea mengangkat sebelah tangannya dengan wajah tegang. Berharap dua lelaki itu berhenti mendekat.


" Mas Diaz ,tolong sampaikan pada tamu tak di undang ini untuk tidak menggangu saya. Saya sedang banyak pekerjaan " ucap Vea terdengar ketus. Dave hanya mampu menelan ludah saat melihat kilat kemarahan di wajah sang kekasih. Fardan tampak tertunduk lesu. Niatnya meminta maaf dan berpamitan sepertinya gagal. Vea masih marah dengan dirinya.


Vea berlalu meninggalkan dua lelaki itu,Dave hendak mengejar namun di tahan Diaz.


Fardan yang memahami kekesalan Vea memilih pergi dari kantor Vea. Berjalan tertunduk dengan wajah sendu. Ia merogoh saku jasnya, menggenggam kotak kecil itu. Ia memejamkan mata dan memberanikan diri melangkah mendekati pegawai front office.


" Maaf mbak, permisi " sapa Fardan sopan yang langsung di sambut senyum ramah dua wanita cantik yang bertugas di sana.


" Ya Pak,ada yang bisa kami bantu ?" tanya wanita dengan name tag Winda .


" Begini mbak,saya temannya bu Vea. Tapi hu Vea nya sedang sibuk dan tidak bisa menemui saya. Saya hanya ingin titip ini mbak." ucap Fardan menyodorkan benda berbungkus kertas." Tolong berikan pada bu Vea ya mbak ". lanjut Dave.


" Baik Pak, nanti akan kami sampaikan "


" Sebelumnya terima kasih ya Mbak "


" Sama-sama " sahut pegawai itu. Pegawai tersebut tak bertanya-tanya,sebab bisa di pastikan ada polemik cinta segitiga di antara atasan dan dua lelaki yang sedari tadi menunggu di lobby.


Fardan meninggalkan kantor Vea dengan perasaan gundah. Ia menoleh ke belakang sesaat sebelum masuk ke dalam mobil,dan pergi dari sana.


" Selamat tinggal Ve. Kalau seandainya nanti kita ditakdirkan bertemu lagi. Semoga semua rasa ini telah usai. Aku bisa melihatmu sebagai sahabat tidak lebih " ucap Fardan kemudian melajukan mobilnya. Membawa sebongkah rasa yang masih sama. Semoga akan terkikis waktu dan jarak yang memisahkan mereka,hingga cinta itu luruh dan tak lagi tersisa. Tinggal rasa sayang sebagai sahabat yang saling menguatkan.


Sedang Dave,setelah di peringatkan Diaz memilih kembali duduk di sofa. Ia tak mungkin menerobos masuk,yang ada kekasihnya itu semakin marah . Kini ia terduduk menatap cincin yang tadi Vea lepas dari jari manisnya.


" Akan ku pastikan ini kembali di jarimu sayang " gumam Dave. Ia tak perduli dengan tatapan orang yang menatapnya aneh. Berpenampilan awut-awutan pagi-pagi. Sungguh bukan penampilan yang layak untuk duduk di lobby kantor yang semuanya tampil rapi.


Namun Dave hanya ingin menunggu sang kekasih. Ingin memperbaiki semuanya. Ia tak akan pernah rela melepas seorang Vea. Apapun yang harus dia lakukan ia harus mendapat maaf dari wanita yabg tadi ia lukai dengan ucapan kasarnya .


Pengaruh alkohol yang masih belum seutuhnya hilang,dan rasa cemburu yang membakar dada. Membuat ia mengucapkan kata tanpa berpikir akibatnya.


Sampai jam makan siang,Dave masih di sana, tak beranjak dari tempat duduknya. Meski telah berkali-kali di datangi pegawai front office yang merasa tak nyaman dengan keberadaan dirinya di sana. Namun ia berdalih sudah ada kanji dengan Vea untuk makan siang bersama. Dan dia sudah setuju untuk menunggunya.


Suara langkah kaki-kaki yang baru keluar dari lift,membuat Dave menoleh seketika, mencari sosok yang membuatnya gila. Senyumnya terkembang saat melihat wanita yang di tunggu-tunggu keluar dari sana.


" Sayang !" panggil Dave membuat Vea menatapnya dam tercengang melihat lelaki itu masih di sana dengan penampilan yang sama seperti tadi pagi.


Dave tersenyum, mendekati kekasihnya yang berdiri mematung menatap heran lelaki itu.


" Ngapain masih di sini ?" tanya Vea kesal.


" Demi maaf dari kamu, please maafin omongan ngawurku tadi pagi " pinta Dave dengan tatapan memohon. Vea mendengus kesal lalu pergi dari sana. Dave mengikuti langkah wanitanya,ia tak akan melepas wanita itu sampai ia di maafkan.