If

If
Terluka



Air mata Vea masih terus saja mengalir di pipi putihnya. Rasa sakit meremas hatinya. Serendah itu ia di hadapan lelaki bernama Dave. Bodohnya ia malam itu hingga menjadikan dirinya wanita tak berharga. Satu kesalahan fatal menjatuhkan diri pada lubang yang dalam .


Ia tak butuh permintaan maaf seorang Dave,tapi setidaknya tak perlu menjatuhkan dirinya sedalam itu. Dianggap wanita bayaran untuk satu malam yang bahkan tak ia ingat dengan jelas. Hatinya terluka,sesak seperti tak ada arti. Namun perih di hatinya sulit untuk terobati.


Menatap dalam cermin di meja riasnya,pantulan wajah ayu yang terlihat lusuh karena air mata yang terus luruh. Gambaran penyesalan terlihat di mata sayu itu. Begitu banyak" jika" berkelebat dalam benaknya. Ya,semua tinggallah menjadi sesal. Yang bisa di lakukan hanyalah dengan memperbaiki diri, Meski tak kan pernah bisa merubah keadaan.


Vea berdiri dari kursi meja rias,kemudian masuk kedalam kamar mandi. Membasuh tubuhnya yang terasa letih. Meski aktivitas fisik tak terlalu berat tapi tekanan batin membuatnya terasa lelah.


Sedikit lebih lama Vea berada di dalam kamar mandi. Menikmati guyuran air shower. Menenangkan gejolak hatinya yang terluka. Mencoba menerima keadaan diri. Percuma ia terus terpuruk dalam kesedihan. Siapa yang bisa membuat diri berarti kalau bukan dirinya sendiri. Biarlah orang dengan anggapan nya setidaknya ia bisa menghargai diri sendiri. Mencintai dirinya sendiri sebelum hati memutuskan untuk mencintai orang lain.


Dengan menanamkan pikiran positif di benaknya setidaknya cukup bisa menenangkan perasan yang kacau. Ia keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya.


Dengan handuk kecil Vea mengeringkan rambutnya sambil duduk di tepi ranjang. Suara nada notifikasi di handphone membuat ia menghampiri meja rias dimana tadi ia meletakan tas serta hp. Sebuah chat masuk,nama Fardan tertera di layar.


Di bukanya chat dari teman masa kecilnya itu.


/ Ve gue lgi di Jkt,ktmu yuk. kgn gue sm Lo/


Vea tersenyum membaca chat Fardan dengan cepat di balasnya sahabat lelaki satu-satunya itu


/ Blik kpn Lo ?,gk kbr2 , oke ditempat biasa ya. lngsung otw Lo. jng biarin cewek cntik nunggu/


Balas Vea sambil terkikik geli dengan kalimatnya sendiri. Tak menunggu lama balasan masuk di hpnya.


/ Baru tadi siang.Mual gue bcnya,oke gue otewe. Lo buru jgn sampe cowok gnteng di anggurin/


Vea tertawa sendiri membacanya. Ia kembali mengetik balasan.


/ Lbh mual lg gue ngebcanya. sbr tungguin gue,gk rugi nunggu cewek cntik/


/wueek 🤮/ balas Fardan cepat.


Ve bergegas menuju lemari untuk mengambil pakaian. Dress berwarna navy tanpa lengan dengan panjang selutut dipilihnya. Ia segera memakai dress itu kemudian mengeringkan rambut dengan hairdryer. Memoles tipis wajahnya dengan make up. Hmmm,terlihat sedikit bengkak diarea mata. Digunakannya kacamata untuk sedikit menutupi,agar tak timbul pertanyaan dari sahabatnya. Dengan sepatu berhak 5 cm,tas tangan tak lupa di bawa oleh Vea. Cantik sempurna dengan rambut hitam panjang yang tergerai indah .


Dengan mengendarai mobilnya Vea melaju sedang menembus jalanan kota yang masih lumayan padat. Butuh waktu sekitar 45 menit sampai Vea bisa memarkirkan kendaraan di sebuah coffe shop yang lumayan ramai malam itu.


Kaki jenjang itu melangkah anggun memasuki coffe shop ,mencari sosok yang telah lama tak ditemuinya. Senyum tipis terkembang saat matanya menemukan sesosok lelaki bertubuh jangkung yang duduk membelakangi pintu masuk.


''Misi mas,boleh gabung ?'' tanya Vea membuat Fardan menengadah dan menyunggingkan senyum lebar.


'' Kenapa, tambah cantik kan gue ?,jangan naksir lo'' cicit Vea seraya duduk di hadapan Fardan.


'' Beh,pede banget Lo ''


" Harus,udah pesen belum ?''


'' Udah,coffe latte sama red Velvet kan ?''


'' Beneran Lo cinta sama gue sampai hafal gitu , ckckck'' pede Vea yang di balas cibiran Fardan.


'' Najis banget Lo,pedenya gak ilang-ilang'' . Vea hanya tertawa renyah menanggapinya.


Tak lama pesanan mereka datang. Ditemani kopi dan kue favorit masing-masing,obrolan mengalir dari bibir mereka. Lamanya perpisahan membuat mereka memiliki banyak cerita untuk di bagi.


'' Jadi gimana udah ada gebetan belum Lo di Surabaya ?'' selidik Vea pada Fardan yang kini mengelola perusahaan keluarga di sana.


'' Belum nemu yang pas''


'' Fix cinta mati Lo sama gue,hahaha....'' ucap Vea seraya menyuapkan sesendok kue ke mulutnya.


Namun Fardan tak membalas candaan Vea,ia menatap penuh arti wanita cantik di hadapannya. Sampai Vea menyadari sedang di tatap.


'' Kenapa,gitu amat ngeliatnya ?,ada yang salah ?'' tanya Vea . Fardan tersenyum tipis masih dengan tatapan mata tertuju pada sang sahabat.


'' Kalau gue beneran cinta sama Lo gimana ?''


" uhukk'' Vea yang sedang meminum kopinya tersedak . Sesaat Vea tampak canggung,menatap tak percaya pada Fardan.


'' Hahaha,,,,muka Lo jelek banget sumpah, shock kayak gitu. Becanda gue '' ucap Fardan yang membuat Vea menghembuskan nafas lega. '' Sialan Lo,gak lucu banget becandanya''


'' Kenapa?, pengennya beneran ,gitu ?''


'' Ya gaklah,gak mungkin gue sama lo'' jawab Vea yang kembali meminum kopinya tanpa menyadari perubahan di wajah sang sahabat.


'' Gak mungkin juga gue suka sama Lo,kayak yang gak ada cewek lain aja''celetuk Fardan sembari menyuap cake miliknya. Setelah ia bisa mengembalikan raut wajah yang tadi sempat terlihat kecewa. Cinta yang terjebak dalam zona pertemanan akan sulit untuk terungkap. Takut perasaan itu akan menghancurkan hubungan yang terjalin lama diantara mereka. Namun persahabatan dua manusia berlawanan jenis sangatlah rawan dengan rasa bernama cinta .


Sampai cukup larut malam mereka berdua duduk bercerita. Berbagi cerita lucu dan segala hal yang mereka lewatkan . Tanpa menyadari ada sepasang mata yang menatap setajam elang ke arah keduanya. Entah sejak kapan Dave berada dalam coffe shop yang sama. Duduk sendiri di pojok ruangan,menatap wanita yang tadi siang menamparnya dan kini duduk berdua bersama seorang lelaki dengan tawa lepasnya. Ada sebuah rasa tak nyaman menelisik hatinya. Rasa asing yang belum pernah di rasa oleh seorang Dave.