If

If
Ternyata



Melangkah memasuki lobby perusahaan miliknya. Dave tampak sumringah hanya karena sebuah kecupan yang ia layangkan pada pipi wanita yang selalu menghantui pikirannya. Aura jatuh cinta menguar dari dalam diri Dave Mahendra. Seulas senyum tipis terlukis di wajah tampan itu.


Saat ia masuk di dalam lift pun terlihat begitu ramah dengan menjawab sapaan karyawan nya dengan senyum lebar. Sesuatu yang jarang Dave lakukan. Ia memang bukan atasan arogan yang dingin dan kaku. Namun ia juga bukan orang yang ramah,ia tidak terlalu suka berbasa-basi.


" Siang pak Dave " sapa sekertaris nya saat melintas di ruangan wanita cantik yang tampil selalu seksi. Penampilan yang selalu bisa menyegarkan mata Dave setiap di kantor. Namun tidak kali ini,lelaki itu hanya mengangguk tanpa melihat wanita yang telah tersenyum selebar mungkin.


Setelah Dave menghilang di balik pintu ruang kerjanya sang sekertaris hanya bisa mengerucutkan bibir . Merasa diabaikan bos yang biasanya selalu genit terhadapnya.


Tak berapa lama wanita itu beranjak dari kursinya. Mengetuk daun pintu ruangan Dave,setelah suara Dave mempersilahkan ia masuk dengan buku agenda di tangannya.


" Duduk !" titah Dave sambil menunjuk kursi di seberang meja kerja Dave. Tak seperti biasanya yang selalu mengambil kesempatan dengan memangku manja sekertaris seksinya. Dengan tangan bergerilya di bagian lekuk tubuh wanita cantik itu. Dan tak jarang berakhir dengan lenguhan panjang sebagai penutup kepuasan.


" Apa jadwal saya ?" tanya Dave terkesan dingin.


" Ada pertemuan di lokasi proyek perumahan dengan Pak Hardi jam 3 sore " lapor sekertarisnya,yang diangguki Dave kemudian menyuruh sang sekertaris keluar.


Sesuatu yang membuat sekertarisnya merasa aneh. Pasalnya sudah beberapa minggu ini ,sang atasan tak pernah meminta di layani dan tdk pernah ada wanita masuk ruangan itu seperti yang sudah-sudah.


Setelah sekertaris nya keluar Dave menyandarkan kepala di sandaran kursi. Memejamkan mata dan selalu saja sekelebat wajah Vea menghampirinya.


" Kamu udah bikin aku bener-bener gila Ve " lirih Dave sambil meraup wajahnya dengan telapak tangan.


" Aksara " ucapnya membuat hatinya terasa keruh. Sosok lelaki yang cukup berpengaruh di bidang bisnis. Beberapa kali ia bekerjasama dengan lelaki itu. Tapi kenapa ia harus dekat dengan Vea. Kenapa dengan lelaki bernama Aksara itu Vea bisa tertawa lepas ?. Sedang saat bersamanya lebih banyak diam dan seakan malas menanggapi dirinya.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


" Masuk !'' titah Dave. Shandy salah seorang desain interior yang bekerja untuknya masuk dengan gulungan kertas di tangan.


" Bos,ini desain interior apartemen yang bos minta kemarin". ucap sang anak buah yang sudah ia persilahkan duduk di hadapannya.


Dave meraih gulungan kertas itu dan membukanya. Mengamati beberapa saat sebelum menggulung nya kembali.


" Oke,nanti saya temui kliennya,udah pas belum sama yang di minta. Nanti kalau ada yang perlu di ubah saya panggil kamu".


" Oke bos,kalau gitu saya pamit keluar."


" Ya" singkatnya kemudian matanya tertuju pada tumpukan dokumen yang masih utuh tertata di meja kerjanya.


Dan sampai jam 02.30,Dave hanyut dalam pekerjaan. Baru saat sang sekertaris mengingatkan jadwalnya ia segera bergegas. Meninggalkan kantor dengan laju mobil yang lumayan cepat karena takut terlambat.


" Siang Pak Hardi,maaf saya terlambat " ucap Dave seraya menyalami lelaki berumur akhir 50 an itu.


" It's oke,gak masalah. Mari saya antar kan untuk bertemu dengan calon pemilik rumah yang sedang di bangun ini " ucap Pak Hardi yang diyakan oleh Dave yang berjalan mengekor di belakangnya.


" Siang Pak Aksara !" sapa Pak Hardi yang membuat Dave tertegun. Ternyata kliennya Aksara Dwilangga yang sedang duduk di sebuah kursi plastik dalam bangunan rumah yang hampir jadi itu. Aksara menoleh dengan senyum lebarnya.


" Wah ternyata desain interior nya pak Dave Mahendra ?" Aksa berdiri menyalami dua lelaki yang baru masuk ruangan yang tampak lebar karena masih kosong perabotannya.


" Siang Pak Aksa,saya juga tidak tahu ternyata pemilik rumah ini anda " ucap Dave mencoba menyembunyikan ketidaksukaannya pada lawan bicaranya itu .


" Iya,saya memang menyerahkan pembangunan rumah ini pada pak Hardi. Silahkan duduk pak Dave,maaf belum ada sofa. Baru kursi plastik." ucap Aksa antusias.


" Tak apa" sahut Dave pendek kemudian ikut duduk di kursi plastik yang bersebelahan dengan Aksa.


" Jadi gimana tadi,adik saya sudah diantar dengan selamat kan ?" tanya Aksa yang membuat Dave mengerutkan dahi.


" Adik anda yang mana ya ?" tanya Dave bingung. Aksa terbahak,ternyata adiknya belum memberitahu Dave siapa dirinya.


" Wah ternyata adikku jail juga. Berapa lama anda mengenal Vea ?"


" Belum lama, sebulan mungkin " jawab Dave tak pasti.


" Tahu nama panjangnya ?" Dave hanya bisa menggeleng karena ia tak tahu apa-apa dengan wanita yang di pujanya itu. Lagi-lagi Aksa tergelak.


" Namanya Alivea Dwilangga,jadi anda pasti sudah bisa menyimpulkan siapa adik yang saya maksud " ucap Aksa tenang. Dave bengong menerima fakta yang mencengangkan itu.


" Jadi ?" ucap Dave hanya satu kata karena langsung di angguki Aksa sambil tersenyum .


" Maaf,saya benar-benar tidak tahu kalau Vea adik anda " tutur Dave menahan malu. Bagaimana bisa,ia tak menanyakan siapa Aksa pada Vea.


" Tak masalah,saya titip adik saya,karena untuk saat ini saya belum bisa menjaganya lagi." ujar Aksa sambil menepuk pundak lelaki di sampingnya. Dave hanya mengangguk,dan rasa bersalahnya menghampiri batinnya. Bagaimana ia bisa menjaga Vea ?,jika ia sendiri yang telah menghancurkannya.


Tapi dengan kesempatan yang ada ,meski ia tak bisa merubah keadaan, setidaknya ia bisa berada dekat dengan wanita itu dan menjaganya sebisanya.


Pertemuan sore itupun berlangsung cukup lama. Aksa menjelaskan keinginannya untuk desain interior rumahnya. Dave mendengarkan dengan seksama dan mencatatnya.