If

If
Curiga



Kacamata bertengger di hidung mancung wanita cantik yang sedang serius dengan berkas-berkas yang menupuk di meja kerjanya. Sesekali wanita itu memijit pelipis yang terasa penat dengan semua laporan di hadapannya.


Vea tampak menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi. Menatap langit-langit ruangannya dengan tatapan menerawang. Tangannya memainkan pulpen dengan di ketuk-ketukkan di permukaan meja.


Pikirannya terasa penuh dengan semua urusan pekerjaan. Kadang ia merasa terlalu letih mengambil alih kepemimpinan di kantor cabang ini. Namun ia harus mengeluh pada siapa ?, ini sudah menjadi tanggung jawabnya. Sebagai bukti bakti pada orang tua.


Ia merasa waktunya terlalu banyak habis dengan urusan klien, dokumen,berkas kerjasama dan seabreg urusan kantor lainnya. Sampai ia merasa kehilangan waktu untuk sekedar me time. Memanjakan diri di salon pun sudah tak pernah bisa ia lakukan. Semenjak harus bergabung dengan perusahaan. Penyesuaian diri, dan mempelajari segala bentuk aturan dan seluk beluk perusahaan membutuhkan waktu yang menyita semua hatinya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Vea. Wanita itu menegakkan duduknya. Memasang wajah seprofesional mungkin.


" Ya, masuk !" titah Vea dengan bada tegasnya.


" Siang ,Bu " sapa Diaz dengan senyum ramah dan anggukan kecil saat melangkah masuk ruangan atasannya.


" Siang Mas Diaz " sahut Vea seraya menanggalkan kacamata dan di taruhannya di atas meja kerja. Dan mempersilahkan asistennya untuk duduk.


" Ada apa Mas ?" tanya Vea yang duduk dengan menyilang kan kaki dengan punggung yang kembali ia senderkan. Matanya tertuju pada bawahnya yang datang dengan sebuah map yang kini di letakkan di atas meja .


'' Berkas yang harus ibu tanda tangani '' ujar Diaz seraya menyodorkan berkas pada Vea. Wanita itu langsung mengambil dan membukanya. Sekilas membaca sebelum membubuhkan tanda tangan.


" Oh ya bu,bu Renata hendak membahas tentang kerjasama kemarin. Tapi beliau mengatakan ingin berbicara langsung dengan Pak Aksa. Bagaimana bu ?" tanya Diaz yang merasa bahwa itu bukan lagi di bawah wewenang Aksara. Karena mereka bekerjasama di bawah naungan perusahaan anak cabang yang kini di pegang Alivea.


" Bilang saja sama kak Aksa, Kalau menurut kak Aksa dia memang harus turun langsung ya gak apa-apa. Tapi kalau menurut Kak Aksa dia tidak perlu turun langsung,saya kasih kamu wewenang untuk bertemu dengan dia." ucap Vea tenang namun dengan nada tegas. Tak bisa di ragukan tentang aura kepemimpinan yang di miliki wanita itu. Tatapan mata yang dimilikinya saja memancarkan ketegasan.


" Nanti saya sampaikan. Kenapa tidak Ibu saja yang bertemu beliau ?" tanya Diaz yang merasa ada kejanggalan.


" Sepertinya dia yang tidak ingin bertemu dengan saya ". sahut Vea yang kini telah menyerahkan kembali berkas yang Diaz bawa tadi.


" Apa ibu bermasalah dengan dia ?" selidik Diaz yang kini menatap langsung wajah sang atasan.


" Menurut saya bukan masalah tapi sepertinya di permasalahkan oleh dia. Terlalu tidak profesional menurut saya kalau ini menjadi hambatan kerjasama saya dengan perusahaan tempatnya bekerja. Tapi kita ikuti saja mau dia,toh seandainya kita tidak jadi bekerjasama dengan mereka, tidak akan mempengaruhi perusahaan kita secara signifikan ". tutur Vea tenang dengan tatapan mata penuh kewibawaan.


" Baik bu saya mengerti, kalau begitu saya pamit." Diaz undur diri setelah di iyakan oleh Vea.


Vea mengambil ponsel di dalam ras saat Diaz menghilang di balik daun pintu ruang kerjanya.


" Aduh Yang, aku masih ada rapat dengan klien sampai jam istirahat. I'm so sorry " bakas Dave penuh sesal.


" It's oke,gak apa-apa. Tapi kamu jangan lupa makan siang. Miss u honey 😘" ketik Vea, tersenyum sendiri sambil menekan tombol send.


" I miss u more n more 😘😘😘 " balas Dave, membuat Vea tertawa sendiri. Menghilangkan sedikit penatnya. Vea kembali memasukkan ponsel kedalam tas.


Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Kemudian beranjak dari duduknya. Menyambar tas yang ia letakkan di atas meja. Kemudian berlalu dari ruangan.


Keluar dari ruangan,dan menghampiri Diaz yang sedang fokus pada laptop yang masih menyala.


" Mas Diaz " panggil Vea membuat Diaz yang tak menyadari kedatangan wanita itu sedikit terlonjak kaget.


" Bu Vea " ucap Diaz tergagap. Vea tertawa kecil,melihat wajah kaget lelaki di hadapannya.


" Udah waktunya istirahat mas, makan di luar yuk !" ajak Vea pada asistennya.


" Oh boleh bu, sebentar saya bereskan ini dulu " ucap Diaz yang langsung menumpuk berkas yang berserakan di atas mejanya . Vea setia menunggu sembari berdiri bersandar di neha Diaz dengan tangan bersedekap di dada.


" Mari Bu " ucap Diaz setelah beres dengan pekerjaannya. Vea mengangguk, kemudian melangkah mendahului Diaz. Keduanya berjalan depan belakang dengan sedikit berjarak . Di lift pun Diaz menjaga jarak dengan atasannya.


Setelah turun dari lift,Vea memberi tahu dimana ia ingin makan siang. Tanpa basa-basi Diaz mengiyakan. Membukakan pintu belakang untuk Vea yang hari ini pergi dengan mobil milik Vea. Tanpa protes Vea duduk di belakang. Dan Diaz berlaku sebagai sopir di depan.


Selama perjalanan yang sedikit memakan waktu karena tempat yang Vea pilih sedikit jauh,Vea memejamkan mata. Tak ada obrolan yang tercipta diantara mereka. Diaz hanya sesekali melirik sang atasan dari kaca mobil.


Sesampainya di restoran yang mereka tuju, Diaz menghentikan laju mobilnya. Vea yang sebenarnya tak tidur langsung membuka mata.


" Sudah sampai bu " ucap Diaz sambil membuka seat belt. Kemudian turun dari mobil tersebut , membukakan pintu untuk Vea .


" Makasih Mas Diaz " ucap Vea yang di bakas anggukan dan senyum manis dari bibir lelaki jangkung itu .


Dengan langkah anggun,Vea memasuki restoran yang sudah cukup lama tak ia datangi. Baru akan membuka pintu kaca itu matanya menangkap dua orang yang duduk dengan begitu mesranya di dalam restoran. Membuat senyum smirk terlukis sempurna fi bibir wanita itu .


" Ckckck, ternyata mereka saling mengenal " gumam Vea dengan tatapan mata tertuju pada dua orang yang duduk berdempetan dengan si wanita bergelayut manja di tangan lelaki itu .