If

If
Cara Kotor



" Jadi gimana Cell ?, siapa saja yang membatalkan kerjasama ?'' tanya Dave saat memasuki lobby kantor yang langsung di sambut oleh Marcell.


" Ini berkas mereka. Mereka cukup berpengaruh untuk perusahaan kita. Ada tiga perusahaan yang tiba-tiba ingin membatalkan kerjasama " tutur Marcell. Dave membuka map yang telah berada di tangannya. Sambil meneruskan langkah.


" Apa alasan mereka tiba-tiba membatalkan kerjasama ini ?" tanya Dave yang merasa aneh dengan pembatalan sepihak ini.


" Belum ada konfirmasi dari mereka tentang alasan pembatalan kerjasama. Tai mereka bilang akan mengganti pinalti sesuai kesepakatan ". terang Marcell yang kini mengikuti langkah atasannya memasuki lift.


" Walaupun mereka membayar pinalti,itu tidak bisa menutupi kerugian kita. Proyek ini berjalan lebih dari setengah . Atur pertemuan saya dengan mereka.'' Ucap Dave sejenak menjeda ucapannya. Marcell masih memperhatikan tanpa menyela. Karena ia dapat membaca raut wajah sang atasan yang belum selesai bersuara.


'' Tolong kamu selidiki,ada apa sebenarnya. Saya merasa ada yang tidak beres '' lanjut Dave dengan tatapan lurus ke depan.


'' Baik Pak,saya akan atur pertemuan dengan mereka. Nanti jadwalnya saya konfirmasikan dengan sekertaris bapak. Untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi,itu sudah mulai saya lakukan. Tapi maaf belum ada hasil yang memuaskan. '' jawab Marcell sebelum lift terbuka. Dave menghela nafas, kemudian keluar dari lift diikuti Marcell.


'' Tidak apa,kamu sudah cukup cekatan dalam bertindak. Saya bangga sama kamu '' tutur Dave sembari menepuk bahu bawahannya.


'' Lanjutkan menyelidiki,saya tunggu hasilnya '' ucap Dave, kemudian beranjak meninggalkan Marcell dan masuk ke dalam ruangannya.


Dave menghembuskan nafas kasar,seraya melempar map berisi berkas di atas meja kerjanya. Berjalan mendekati jendela dengan tangan bertolak pinggang. Menatap langit yang menampakkan wajah cerahnya. Awan tipis menghiasi pagi itu. Dave memejamkan mata untuk sekedar menenangkan jiwanya.


Ia harus bertindak cepat, sebelum perusahaan yang ia rintis dari nol collapse dalam waktu dekat. Ia merasa ada yang tidak beres dengan pembatalan kerjasama tiga perusahaan properti yang telah cukup lama bekerja sama dengannya.


Dave melangkah menuju kursi kebesarannya. Duduk dengan tangan memijit pelipisnya. Kepalanya terasa berdenyut. Seandainya mereka bersikeras membatalkan kerjasama, jelas perusahaan Dave akan mengalami goncangan yang cukup besar.


" Gak bisa gini,ada yang gak beres '' gumam Dave. Ia lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia harus menyelamatkan perusahaan yang ia bangun. Ia tak mungkin membiarkannya hancur begitu saja.


'' Dis,kamu hubungi workshop kita. Katakan pada penanggung jawab di sana untuk menghentikan sementara produksi tiga perusahaan ini '' ucap Dave pada sang sekretaris yang kini telah duduk di kursinya. Sambil ia memberikan berkas pada wanita itu


'' Atur pertemuan saya dengan pihak workshop, kalau bisa hari ini.'' titah Dave.


'' Baik Pak '' sahut Disya seraya mengangguk paham.


Dave kembali ke dalam ruangan, ia menghubungi Marcell untuk memastikan pertemuan dengan para klien yang tiba-tiba hendak memutuskan kontrak kerjasama.


" Besok salah satu dari mereka ada yang siap bertemu dengan bapak . Oh ya Pak,ada kecurigaan saya mengarah pada perusahaan DAJ desaign corp anak perusahaan Atmajaya group. Karena anak buah yang saya perintahkan untuk menyelidiki, mengatakan hari ini salah satu klien kita bertemu dengan pemilik DAJ desaign corp " jelas Marcell.


Dave tersenyum miring, jelas sudah siapa dalang di balik semua ini.


" Daren Atmajaya " gumam Dave. " Lawan kita bukan main-main Cell. Kamu harus berhati-hati ". ucap Dave memperingatkan Marcell untuk lebih waspada.


" Yang saya heran, Kenapa mereka tiba-tiba mengusik kita ?" heran Marcell yang merasa tak habis pikir. Perusahaan sekelas Atmajaya group mengusik perusahaan sekelas milik Dave. Rasanya terlalu tidak masuk akal.


" Sebenarnya ini masalah pribadi,tapi sepertinya dia mau bermain kotor. Baiklah,kamu tetap selidiki mereka. Saya akan cari alternatif untuk menyelamatkan perusahaan ini. Kalau seandainya mereka benar-benar membatalkan kerjasama." tukas Dave sebelum mematikan sambungan telepon.


" Huffhh, semangat Dave. Mari berjuang " ucap Dave pada dirinya sendiri sekedar memberi semangat pada jiwanya yang lelah. Kemudian lelaki itu berkutat dengan berbagai dokumen yang menumpuk di mejanya. Jangan karena permasalahan ini ia jatuh. Daren boleh saja mengambil tiga klien strategis nya. Namun ia masih memiliki klien lain. Meski tak besar seperti tiga perusahaan properti tersebut. Tapi bisa menolong jika ia harus melepaskan tiga perusahaan itu bersamaan.


Dave cukup sadar,ia tak sebanding dengan Daren dalam hal ini. Back up an Daren tidak main-main. Namun ia tak akan menyerah begitu saja. Perusahaan ini adalah kerja kerasnya. Pembuktian pada dunia bahwa ia mampu berdiri dengan kakinya sendiri.


" Permisi Pak " suara Disya membuat Dave mengalihkan perhatiannya dari tumpukan berkas di hadapannya.


" Ya,ada apa Dis ?" tanya Dave sembari menatap sang sekertaris yang masih berdiri di ambang pintu.


" Ada kiriman Pak " ujar Disya sembari melangkah mendekati meja atasannya. Dave mengernyitkan dahi melihat paper bag bertuliskan sebuah restoran terkenal.


" Dari siapa ?" tanya Dave saat Disya meletakkan bungkusan itu di meja kerja Dave.


" Dari Bu Vea , Pak " jawab Disya, menerbitkan senyum di bibir Dave . Senyum cerah yang jarang terlihat dari bibir lelaki itu.


" Makasih ya Dis " ucap Dave masih dengan senyumnya.


" Sama-sama Pak,saya permisi " pamit Disya yang diangguki oleh Dave. Dave meraih paper bag yang pasti berisi makanan tersebut. Ia baru sadar kalau kini waktunya makan siang.


Tersenyum saat membuka kiriman makanan dari kekasihnya. Perhatian kecil yang cukup menjadi mood booster untuknya.