If

If
Rasa



Sore seperti biasa,Vea keluar dari kantor. Melangkah santai sambil sesekali menyapa karyawan lain yang juga hendak pulang.


" Yasmin,duluan ya !" ucap Vea pada salah satu staf yang tampak masih sibuk merapikan meja kerjanya. Wanita yang di panggil Yasmin itu mengacungkan jempol sambil tersenyum simpul.


" Ve !" panggil Zee membuat Vea menghentikan langkah dan menunggu sahabatnya mendekat.


" Bareng " ucap Zee setelah berada di samping Vea. Zee langsung bergelayut di lengan sahabatnya.


" Apa sih Lo,manja banget " gerutu Vea sambil mengibaskan tangan. Zee hanya nyengir tanpa melepaskan tangan dari lengan Vea.


" Kapan lagi Ve, bergelayut manja sama tuan putri Dwilangga. Kalo Lo udah balik ke kerajaan Lo,gue juga mikir mau kayak gini " ucap Zee yang langsung dapat tabokan di lengan dari Vea.


" Lebay banget Lo"


" Asli Ve gue gak nyangka aja Lo sodara pak Aksa,secara Lo juga dari kuliah biasa aja kayak gue. Gak pernah pake mobil mewah, barang branded, gak pernah show up gitu. Padahal harta orang tua Lo gak bakal habis tujuh turunan, delapan tanjakan,sembilan belokan " ucap Zee membuat Vea mencibir.


" Gak segitu nya juga kali Zee " sahut Vea,matanya tertuju pada sosok lelaki yang berdiri bersandar pada badan mobil.


Vea menghela nafas,membuat Zee mengernyit dan menatap sang sahabat.


" Kenapa ?" tanya Zee


" Itu orang , kenapa jadi nongol mulu sih ?" Zee mengikuti arah pandang Vea. Di dapatinya Dave yang berdiri bersandar dengan dua tangan dalam saku celana. Kemeja biru panjangnya tergulung sampai siku,dengan dua kancing teratas terbuka. Kacamata hitam bertengger di atas hidung mancungnya.


" Buset Ve ,keren banget " puji Zee dengan mata berbinar. Tampilan Dave berhasil mencuri perhatian setiap wanita yang melewatinya. Bergaya sok cool seperti itu memang menambah kadar ketampanan seorang Dave.


" Dasar Lo,gak bisa liat yang bagusan dikit,udah ngeces aja " gerutu Vea yang disambut tawa Zee.


" Santai neng gak bakal gue embat. Biar gue gak bener tapi gue setia kawan".


" Di embat juga silahkan "


" Masa ?, serius ?, gak nyesel Lo ?" goda Zee membuat Vea memberengut. Langkah keduanya semakin mendekat area parkir. Dave tampak membuka pintu mobil,mengambil buket bunga kemudian melangkah dengan penuh percaya diri menghampiri Vea .


" Buat kamu " ucap Dave seraya memberikan buket bunga dengan sebelah tangannya membuka kacamata,dengan senyum mengembang di bibirnya. Vea menerima buket bunga cantik itu dengan tersenyum kecut. Sesaat menoleh kearah Zee yang tampak berbinar-binar menatap bergantian pada bunga di tangan Vea dan Dave yang terus saja menatap wajah Vea .


" Makasih " ujar Vea.


" Sudah mau pulang kan ?, aku anterin " tukas Dave yang masih saja memasang wajah cool.


" Tapi mobil aku gimana ?, kemarin udah nginep di sini masa sekarang nginep lagi ".


" Nanti aku suruh orang buat anterin ke apartemen kamu. Sebelum pulang aku pengen ngajak kamu makan " lanjut Dave yang sepertinya tak mau ada penolakan.


Zee yang masih setia berdiri di samping Vea senyam-senyum melihat Dave yabg memperlakukan sahabatnya dengan manis.


" Udah pergi aja,gampang soal mobil. Entar gue suruh si Nino buat nganter ke tempat Lo " sela Zee yang melihat keraguan di wajah Vea.


" Oh ya Mbak Zee,untuk desain interior apartemen anda sudah jadi gambarnya,kapan ada waktu kita diskusi ?" potong Dave yang mengingat wanita di hadapannya adalah kliennya.


Zee meninggalkan sepasang manusia,yang masih berdiri di tempat. Dave berinisiatif mendekati Vea. Merangkul pinggang wanita itu dan menggiring masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan Vea duduk dengan tenang di kursi penumpang bagian depan. Ia masuk dan duduk di belakang kemudi.


" Kamu,mau makan dimana ?" tanya Dave seraya menyetir mobil keluar tempat parkir.


" Kan kamu yang ngajak makan,ya terserah kamu mau makan dimana" sahut Vea cuek dengan tatapan mata lurus ke depan.


" Kalau makan di pinggir jalan,emang mau ?" tanya Dave sambil mengulum senyum.


" Mau aja,emang kenapa ?. Sama-sama makanan bikin kenyang".


" Hmmm,tapi gak mungkinlah aku ngajak nona muda Dwilangga buat makan di pinggir jalan" ucap Dave yang membuat Vea sontak menoleh. Dan sesaat tatapan mereka bertemu,Dave tersenyum lebar sedang Vea mengerutkan keningnya.


" Tahu dari siapa ?" selidik Vea.


" Aksara " jawab Dave yang membuat Vea melotot . Sampai ia mencondongkan tubuhnya untuk menatap wajah Dave yang kini tersenyum tanpa menoleh kearah Vea.


" Kamu datengin Kak Aksara ?, astaga !" ucap Vea frustasi,Dave terkekeh melihat wajah panik Vea.


" Gak gitu sayang, Aksara itu ternyata klien aku . Aku di percaya buat mendesain interior rumah baru dia . Dan tadi aku ketemu dia buat bahas kerjaan,eh dia nanyain adiknya yang aku antar balik ke kantor. " jawab Dave lembut. Dan kata sayang yang terselip dalam ucapan Dave membuat Vea makin membelalak.


" Sayang-sayang apaan sih ? " gerutu Vea yang langsung menghempaskan diri di sandaran kursi.


" Ya kan aku emang sayang sama kamu. "


Vea mencebik sambil melengos menatap keluar.


" Pantes banyak cewek jadi korban. Gombal " gerutu Vea yang masih terdengar oleh Dave. Dave menarik nafas panjang. Ia meraih telapak tangan Vea dengan sebelah tangannya.


" Aku tahu,aku gak bisa menghapus semua masa lalu aku. Please kasih aku kepercayaan,kalau aku bisa berubah,buat kamu " tutur Dave lirih,kemudian mengecup punggung tangan Vea.


Vea menggigit bibir bawahnya,ada debar yang tak biasa saat berada di samping lelaki itu.Namun kilas bayang kejadian dalam lift serasa masih menyesakkan dada. Mungkin ia telah terjerat pesona lelaki di sampingnya,Nyatanya ia merasa tak suka saat lelaki itu mencumbu wanita lain.


Namun mempercayai dan menerima lelaki itu sebagai kekasih ,ia masih ragu. Mungkinkah seorang yang terbiasa dengan kehidupan bebas bisa terikat dengan satu hati saja ?. Entahlah.


Ia tahu semua orang punya masa lalu. Ia tak memungkiri itu. Namun bisakah ia menerima dengan hati yang terbuka pada masa lalu Dave ?. Ia sadar ia pun telah ternoda oleh lelaki itu,ia bukan lagi wanita suci yang bisa menyerahkan mahkota sucinya di malam pertama pada lelaki yang kelak menjadi pendampingnya.


Vea menghela nafas panjang menatap rangkaian bunga cantik di pangkuan.


" Kenapa ?" tanya Dave yang melihat kegusaran di wajah ayu itu. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada telapak tangan Vea.


" Kita jalani dulu saja, perlahan. Biarkan cinta tumbuh karena terbiasa. Jujur untuk saat ini aku belum yakin dengan rasa di hatiku. Mungkin aku tertarik sama kamu,atau hanya sekedar ingin kamu pertanggung jawabkan apa yang sudah kamu ambil dariku."


Keduanya membisu sesaat,namun genggaman tangan Dave belum terlepas . Sekilas lelaki itu menoleh ke samping.


" Aku akan buat kamu yakin,kalau aku bisa jadi yang tepat buat kamu ". ucap Dave yang hanya di sambut senyum kecut Vea. Dan keheningan dalam mobil sampai mereka di sebuah restoran yang cukup ramai sore menjelang petang itu .