
Dave berkali-kali menarik nafas berat selama di perjalanan menuju butik Nena. Pasalnya sang kekasih masih memilih bungkam dan tak mengindahkan dirinya sama sekali. Bahkan setelah memberikan alamat butik Nena,Vea memilih memejamkan mata. Entah wanita itu tidur atau sekedar pura-pura agar tak perlu berbicara dengan Dave.
Akhirnya Dave menyerah, hatinya tak bisa bilang ini akan baik-baik saja. Di acuhkan kekasihnya ternyata mengikis kewarasan otaknya. Ia menepikan mobilnya di tempat parkir pusat perbelanjaan.
Dave mematikan mesin mobil, membuat Vea membuka matanya. Tampak ia memicingkan mata, menyadari bahwa ia belum sampai di butik yang ia tuju.
" Kok berhenti di sini ?" tanya Vea,sambil menatap Dave dengan tatapan bingung. Dave tak menyahut,ia membuka seat belt dsn langsung menarik tubuh kekasihnya dalam pelukan.
Vea membeku sesaat menerima pelukan dari sang kekasih.
" Jangan diemin aku Yang,aku gak bisa gini. Aku mesti gimana ?, sorry ,aku beneran udah gak ada apa-apa sama Renata. Dan emang gak pernah ada apa-apa . " lirih Dave di ceruk leher Vea. Vea menghela nafas, dia juga tahu tak ada hubungan apa-apa antara Dave dengan wanita itu. Selain hubungan masa lalu.
Tapi ternyata hati tak semudah bibir bicara. Tetap saja ada ledakan tak kasat mata yang membuatnya hatinya terluka. Dave mengurangi pelukannya, menatap dalam bola mata sang kekasih.
" Please percaya sama aku " ucap Dave sembari menegang pipi wanitanya, membawa tatapan keduanya bertemu.
" Aku percaya sama kamu,dan aku ngerti dia cuma bagian dari masa lalu kamu. Tapi ternyata...." tenggorokan Vea tercekat,air matanya mengalir tanpa permisi. Dave menatap sayu pada kekasihnya. Hatinya teriris melihat air mata itu mengalir karena dirinya.
" Sakit Dave... Rasanya sakit banget. Ngebayangin kamu sama orang lain tuh sakit". Isak Vea. Dave kembali membawa wanita itu dalam dekapan. Ia tak bisa menyalahkan Vea ,meski kecemburuan wanita itu adalah masa lalunya. Karena mungkin ia pun akan merasakan hal yang sama jika harus bertemu dengan masa lalu sang kekasih.
Nyatanya ia pun di buat gila karena melihat wanitanya di cium lelaki lain. Tak bisa ia bayangkan jika wanitanya pernah berada dalam kungkungan lelaki lain.
Dave kembali melepas pelukannya,menghapus air mata Vea dengan telapak tangan. Memberi kecupan di mata yang masih berlinang itu .
" Aku tau, semua kata maaf aku itu percuma. Sia-sia , karena aku gak akan pernah bisa mengulang waktu dan menghapus semua cerita masa lalu aku. Tapi tolong, kasih aku kepercayaan untuk memperbaiki semuanya." ucap Dave lembut,dengan tatapan memohon.
'' Aku percaya sama kamu,aku hanya belum terbiasa " lirih Vea dengan wajah yang kini tertunduk. Ia tahu tak seharusnya ia membahas masa lalu. Karena itu terjadi sebelum ada dirinya dalam hidup seorang Dave. Tapi mendapati masa lalu menghampiri,tak bisa hati mengelak. Ada rasa yang menyayat.
" I love you more and more , Alivea Dwilangga" ujar Dave seraya mengangkat dagu Vea dan dengan tatapan mata yang dalam ia kemudian mengecup dahi wanitanya.
" Kamu sama Renata pernah pacaran ?" tanya Vea setelah mereka duduk tegak di kursi masing-masing. Vea sedang merapikan wajahnya yang sembab. Memoles bedak dan lipstik untuk menutupi wajahnya yang berantakan.
" Aku tuh gak pernah pacaran selain sama kamu Yang. Aku gak pernah pake hati selain sama kamu. Aku selalu bilang jangan pake hati sama mereka. Tapi ternyata tetep aja ada yang ngarep lebih". ucap Dave seraya memperhatikan sang kekasih yang masih memoles wajah.
Vea mencebikkan bibir, bagaimana mungkin wanita yang bersama Dave tak memakai hati. Siapa yang tidak akan terpesona oleh ketampanan lelaki itu, pikir Vea.
" Aku udah pernah bilang kan,kamu memang bukan yang pertama. Tapi kamu satu-satunya wanita yang bisa bikin aku jatuh cinta " .tutur Dave dengan tatapan tak lepas dari wajah kekasihnya. Vea menoleh kearah Dave dengan senyum terkembang. Membelai wajah sang kekasih sembari menyahut.
" Aku percaya sama kamu. Aku hanya sedang berproses untuk benar-benar bisa menerima dan masuk dalam kehidupan kamu. Dengan segala yang ada di diri kamu.'' Dave tersenyum dan menggenggam telapak tangan Vea. Menciumnya dengan lembut, matanya masih tertuju pada wanitanya.
'' Terima kasih sudah hadir di hidup aku. Hal paling indah dalam hidupku itu kamu'' ungkap Dave. Vea memalingkan wajah,dengan seulas senyum tertahan.
'' Gombal '' ucap Vea .
'' Eh gak ya,itu tuh serius . ''sangkal Dave.
'' Ya deh iya. Udah yuk ah ke butik. Aku masih ada kerjaan soalnya.'' ucap Vea yang sudah kembali ceria.
'' Ya udah ayo. Jangan marah lagi ya. Aku tuh gak sanggup di diemin kamu '' ucap Dave sembari menghidupkan kembali mesin mobilnya. Vea tersenyum kemudian mencondongkan tubuhnya. Mencium pipi sang kekasih yang sedang fokus pada mobilnya.
''Aku tuh gak marah Yang, sama kamu. Aku cuma belum bisa terbiasa aja. Sorry ya bikin kamu jadi merasa bersalah. Padahal kamu tuh gak salah '' ujar Vea yang masih menatap kekasihnya.
'' It's oke,yang penting jangan diemin aku lagi '' ucap Dave yang kemudian sebelah tangannya meraih telapak tangan Vea dan di genggamannya. Meninggalkan area parkir dengan perasaan lega.
Sesuatu meskipun itu masa lalu. Tetap saja bisa mengoyak rasa. Jika tiba-tiba datang dan membawa cerita yang terkadang belum usai. Berusaha menerima dan memahami , bahwa itu hanya secuil kisah yang telah lalu. Meski terkadang tak semudah di ucapkan.