If

If
Siang Yang Panas



Dave tampak berdiri dengan bersandar di tembok ruang tamu. Kedua tangannya bersedekap, menatap dengan seulas senyum melihat wanita yang sedang sibuk di hadapannya. Wanita itu begitu seksi di matanya. Blazer yang membalut tubuh Vea telah dilepas. Tinggal kemeja pendek yang di kenakan Vea, dengan rok span selutut serta sendal rumahan milik Dave yang tampak kebesaran di wanita itu. Rambutnya di cepol asal.


Membereskan ruang tamu yang berantakan akibat ulah kekasihnya. Meja dan sofa sudah kembali ketempat semula. Kini wanita itu sedang menyapu lantai, membersihkan serpihan kaca botol yang di lempar Dave semalam. Dave melangkah pelan mendekati Vea yang sedang jongkok untuk memindahkan pecahan itu pada tong sampah.


Dave meraih tangan wanitanya yang hendak membereskan pecahan tersebut. Ia ikut berjongkok di belakang sang kekasih, memeluk wanitanya dari belakang. Membawa telapak tangan Vea untuk di kecupnya.


" Sayang,udah mandinya ?" tanya Vea pada kekasihnya yang kini sedang mendekapnya erat.


" Sudah, kamu ngapain bersihin ini ?, udah nanti biar aku panggil orang buat bersih- bersih " ucap Dave yang merasa tak seharusnya Vea melakukan itu .


'' Gak apa-apa Yang , lagian cuma gini aja."tutur Vea dengan senyum terkembang. Dave mengecup pipi sang kekasih.


" Ya udah,yang ini aku aja,aku gak mau tangan kami nanti kena pecahan botol ". ujar Dave seraya mengangkat bahu Vea agar wanita itu berdiri. Dave membimbing kekasihnya duduk di sofa.


" Kamu duduk di sini,oke " ujar Dave yang di sambut senyum dan anggukan dari Vea. Dave ikut tersenyum kemudian mengecup sekilas dahi Vea. Dave beranjak dari sana dan dengan sigap membersihkan pecahan botol di pindahkan pada tong sampah anorganik .


Awalnya Vea hanya mengamati , sampai suara bel di pintu membuatnya bangkit dari duduknya.


" Siapa jam segini dateng ?" tanya Dave yang heran siang-siang ada yang datang.


" Kurir mungkin,tadi aku pesen makan siang " ucap Vea yang berjalan kearah pintu. Dave hanya ber oh saja sambil meneruskan pekerjaannya.


Tak berselang lama kembali Vea dengan tentengan makanan di kedua tangannya.


" Selesai belum Yang ?" tanya Vea saat melewati Dave yang baru saja menutup tempat sampah.


" Udah " singkat Dave yang kemudian mengekor kekasihnya masuk ruang makan.


" Ya udah ayok makan dulu !, eh aku obatin dulu deh luka kamu " tutur Vea setelah meletakkan bungkusan yang tadi di tentengnya di atas meja.


Sebelum Vea beranjak untuk mengambil kotak obat. Dave memeluk tubuh itu dari belakang.


" Makan aja, tanganku gak apa-apa " lirih Dave diakhiri sebuah kecupan di leher sang kekasih.


" Gak apa-apa gimana ?,luka gini " sahut Vea seraya mengangkat tangan Dave yang melingkar di perutnya.


" Aku gak apa-apa,kita makan aja. Nanti bisa aku obatin sendiri. Don't worry " ucap Dave meyakinkan sang kekasih. Ia sadar ini sudah terlalu siang dan kekasihnya belum makan siang.


Dave membimbing wanitanya duduk di kursi. Sedang ia menyiapkan makanan di meja. Vea menikmati saat dirinya di perlakukan bak ratu oleh kekasihnya. Dave menyiapkan semua dan mengambilkan makanan untuk wanitanya.


" Thank you " ucap Vea saat Dave telah menyiapkan makanan di hadapannya dengan segelas penuh air putih.


" You are welcome honey " sahut Dave seraya menyematkan kecupan di kepala wanitanya sebelum duduk di samping Vea dan makan siang bersama.


Keduanya menikmati makan siang bersama, tak ada yang mereka bicarakan. Mereka menghabiskan makan dalam diam. Sejujurnya lelaki itu sangat lapar, semalam ia yang memikirkan sang kekasih tak selera untuk makan malam. Dan berakhir dengan perut kosong berisi alkohol. Paginya pertengkaran mereka membuatnya tak sempat sarapan.


Vea tersenyum melihat Dave dengan lahap menghabiskan makan siangnya.


" Laper banget ya ?" tanya Vea setelah keduanya selesai makan. Dave tersenyum lebar menanggapi pertanyaan sang kekasih.


" Aku dari semalam belum makan Yang " ucap Dave yang sukses membuat Vea melongo.


" Astaga sayang,kalau kamu sakit gimana ?, mana mabuk lagi" kaget Vea.


" Itu juga karena aku sakit sayang,di sini " ucap Dave dengan wajah sendu membawa telapak tangan Vea ke dadanya.


Vea memajukan tubuhnya,mengecup sekilas bibir sang kekasih.


" Maaf" ucap Vea seraya mengusap pelan bibir Dave.


" Udah Yang,gak apa-apa " ucap Dave dengan senyum. Ia tak tega melihat wajah bersalah kekasihnya.


Dave meraih dagu Vea,memangut lembut bibir sang kekasih. Menikmati sisa rasa masakan yang baru saja mereka santap. Ciuman lelaki itu begitu lembut, membuat Vea memejamkan mata. Menikmati setiap lumaatan mesra lelakinya.


Dave meraih tengkuk Vea, memperdalam ciumannya, lidahnya menerobos masuk membuat decapan menggema disertai lenguhan tertahan dari Vea mengisi ruang makan. Dave meraih tubuh kekasihnya dan membawanya ke pangkuan tanpa melepas penyatuan bibir keduanya.


Tangan Dave sudah bertengger di atas dada Vea ,membuat wanita itu semakin belingsatan. Tubuhnya meliuk-liuk di atas pangkuan sang kekasih, merasakan ada sesuatu yang mengeras di bawa sana.


Dan panasnya siang itu bertambah panas karena aksi sepasang sejoli yang melepas hasrat dengan desahaan dan lenguhan . Berbagi peluh dalam kenikmatan yang menerbangkan mereka hingga ke nirwana. Deru nafas yang semakin cepat berakhir pekikan panjang menandakan keduanya sampai pada ******* yang diinginkan. Dan ruang makan menjadi saksi siang panas sepasang kekasih yang kini terengah-engah menikmati sisa pendakiannya.