If

If
Zee



" Zee !" panggil Vea yang baru saja menginjak kan kaki di kantor dan melihat sahabatnya yang berjalan di depannya. Tampak Zee menoleh dan menghentikan langkah.


"Hay Ve,pagi !" sapa Zee saat Vea sampai di dekat nya.


" Pagi Zee" dua wanita itu cipika-cipiki kemudian saling bergandengan melangkah menuju ruangan mereka.


" Zee Lo udah lama kenal Daren ?" tanya Vea yang sudah menyimpan rasa penasaran dari kemarin.


" Belum sih, kenapa ?, jangan bilang Lo naksir dia " ucap Zee dengan tatapan menyelidik pada Vea .


" Hahaha,gak akan dan gak bakal terjadi. For your information dia mantan calon suami gue." Jawaban Vea sukses membuat Zee membelalakkan mata, terperangah kaget.


" Jadi kemarin kalian pura-pura doang gak saling kenal ?" tanya Zee,Vea tersenyum miring seraya mengangkat bahu.


" Dia yang sok-sokan gak kenal,gue ikutin aja maunya dia." santai Vea yang masih berjalan berdampingan dengan Zee. Zee diam tak menanggapi. Ia sama sekali tak menyangka Daren yang di kenalnya di sebuah klub malam ternyata mantan sang sahabat.


" Lo tau di udah punya istri ?'' tanya Vea pada Zee yang masih setia dalam diam.


" Tau,baru lahiran katanya. Lo tau sendiri kan, buat gue gak ada yang serius. Just for fun,dia butuh gue juga butuh, simbiosis mutualisme lah."


Vea hanya bisa menghela nafas mendengar jawaban Zee,ia sudah tahu betul seberapa bebas sahabatnya itu. Bahkan dari semasa kuliah Zee sudah terbiasa berganti pasangan. Dan itu bukan kewenangannya untuk ikut campur.


" Jadi ....,kenapa kamu gak mau nikah sama Daren. Yang gue tau selain dia ganteng and hot pastinya ,dia tajir. Aneh aja Lo gak mau sama cowok modelan Daren". celetuk Zee yang kini sudah sampai di ruangannya diikuti Vea yang kini duduk di sofa.


" Kalau gue yang nikah sama Daren,gue dong yang di selingkuhin. Sama Lo lagi,tragis banget gue ".


" Hahaha,kalo dia laki Lo gue juga gak setega itu kali. Walaupun gue juga penasaran sama cowok Lo si Dave itu. Kayaknya dia juga hot banget, gimana Lo ketagihan kan ?" tanya Zee dengan senyum menggoda. Vea yang merasa masih malu berbicara sevulgar Zee merona menahan malu.


" Ckkk, omongan Lo sih, astaga ".Vea tampak jengah namun hanya di tanggapi tawa renyah Zee.


''Masih malu aja Lo,kayak anak perawan aja".


Zee semakin tertawa lepas. Dalam lingkup pergaulannya,Vea memang yang paling polos. Meski kini wanita itu tak lagi virgin,namun dia masih jadi satu-satunya sahabat Zee yang baru mengenal satu pria.


" Ya,ya. sorry gue lupa,Lo baru mulai mengenal dunia percintaan yang sesungguhnya".


" Iya deh yang udah suhu,eh tapi Lo kenapa main sama laki yang udah punya bini sih,gak takut di cakar Lo ?" tanya Vea yang merasa sahabatnya itu terlalu berani mengambil resiko.


" You know lah,buat gue itu semua just for fun,no heart feeling. Jadi ya gak masalah,gue gak ngerasa jadi selingkuhan juga, karena gak pernah ada hubungan yang mengikat di antara kita. Lo udah tau kan seberapa hancur nya hidup gue,jadi gue udah gak mikir apa yang bakal terjadi nanti. Karena mau sebener apapun hidup gue,gue tetep salah di mata orang." Tatapan Zee kini seakan mengambang. Kilasan getir masa lalu nya kini tergambar di pelupuk mata.


''Terlahir dengan embel-embel anak haram aja udah salah kan ?, hampir semua orang yang tau cerita masa lalu gue nganggep gue anak gak bener. Karena gue terlahir dari rahim seorang wanita simpanan tanpa adanya ikatan sah pernikahan. Jadi daripada gue cuma di judge gak bener, padahal gue gak tau apa-apa. Mending gue nyemplung aja sekalian. Busuk,busuk sekalian gue '' mungkin ucapan itu terdengar ringan terucap dari bibir Zee,namun nyatanya itu adalah rintihan perih hidupnya yang selalu di kaitkan dengan kesalahan orang tuanya.


" Zee, jangan ngomong gitu dong. Gue kenal Lo tapi gak pernah nganggep Lo gitu. Lo tetep sahabat baik gue. Apa yang terjadi di hidup Lo udah takdir,dan apa yang Lo jalani itu pilihan Lo. Dan satu lagi,gak ada anak haram Zee. Entah dengan sebab apa seorang anak terlahir itu dalam keadaan suci. ''


Zee tersenyum sinis mendengar ucapan Vea.


" Ya, karena Lo emang terlalu baik. Atau... begoo " ucap Zee dengan nada meledek. Vea mendengus kesal seraya melempar bantal sofa kearah Zee yang dengan sigap menangkap nya.


" Kampreet Lo !" ucap Vea seraya berdiri dan beranjak dari ruangan Zee.


" Mau kemana ?" tanya Zee yang melihat Vea sudah diambang pintu.


" Kerja kah gak di gajih gue ntar sama Lo " ucap Vea tanpa menatap sahabatnya,ia berlaku dari ruangan Zee.


Zee tersenyum melihat punggung sahabatnya yang kian menjauh. Baginya Vea adalah sahabat terbaik. Dengan jalan pikiran yang berbeda namun mereka bisa saling menghargai.


Vea yang tak pernah meng judge dirinya meski ia hidup dalam kebobrokan. Vea yang yang masih mau bersahabat dengannya meski ia menjadi sebab hilangnya ke virginan Vea malam itu. Vea yang selalu menganggap semua hal itu biasa saja. Terjadi karena tuntunan takdir dan di jalani dengan sebuah pilihan. Vea yang selalu menjadi sahabat terbaik dalan setiap keadaan.


Memiliki sahabat seperti Vea adalah sebuah kado diantara semua ketidakberuntungan dalam hidupnya.