If

If
Ungkapan Hati



Vea duduk termenung di depan cermin. Menatap pantulan wajahnya yang sudah selesai dengan make-up. Dari kamar mandi tampak Dave keluar dengan balutan handuk di pinggang. Vea tampak tak perduli. Tatapan matanya menerawang entah kemana. Dave tampak mengernyit,menyadari wanitanya yang tampak melamun.


Dave menghampiri Vea,mengecup singkat pipi sang kekasih dan dengan lembut membelai rambut Vea yang tergerai indah. Vea mengalihkan pandangannya pada lelaki yang masih membelainya dengan Sayang


" Kenapa sayang ?'' tanya Dave dengan tubuh membungkuk.


" Gugup,takut juga " lirih Vea yang kini menunduk.


Dave mengerti kekhawatiran sang kekasih.Ia membawa Vea dalam dekapan.


" Kamu tenang aja,kamu jelasin aja ke orang tua kamu alasan kamu lari di hari pernikahan. Aku yakin kok mereka juga pasti ngerti " ucap Dave bijak,Dave masih setia membelai rambut Vea. Posisi Vea yang duduk di kursi dan Dave yang berdiri,membuat wajah Vea berada di perut kotak tanpa baju milik Dave.


Vea yang merasa tak nyaman menarik diri.


" Kenapa ?" tanya Dave mendapati Vea yang melepaskan diri dari dekapannya.


" Malu ih,gak pake baju" sahut Vea seraya melengos ke arah lain. Dave tertawa ringan mendengar jawaban Vea.


" Masa masih malu aja sih Yang ?, harus di biasain dong lihat aku gak pake baju ".


" Ih apaan sih " sungut Vea,Dave hanya tertawa kecil mendapati wajah merona sang kekasih hati.


Dave melangkah meninggalkan Vea yang masih duduk di kursi meja rias. Ia mengambil pakaian ganti yang sudah di siapkan di atas ranjang. Dan seperti tadi pagi dengan santainya Dave meloloskan handuk dari pinggang. Vea semakin tak berani menatap kearah Dave. Baginya itu terlalu memalukan.


Meski sudah dua kali mereka berbagi keringat bersama tanpa sehelai kain yang menyelimuti. Tapi tetap saja saat keadaan sadar tanpa ada gejolak hasrat membuat Vea malu melihat tubuh telanjang Dave. Dave yang menyadari wanitanya masih malu-malu hanya tersenyum tipis.


" Sebenarnya alasan kamu lari di hari pernikahan itu apa sih Yang ?'' tanya Dave menormalkan suasana canggung yang tercipta. Ia baru memakai celana jeans panjang nya masih dengan bagian atas tubuhnya yang terpampang nyata dan menggoda.


" Daren ternyata punya kekasih saat di jodohkan denganku, di menit-menit terakhir hari itu tiba-tiba datang perempuan hamil yang katanya sedang mengandung anak Daren. Aku syok banget waktu itu. Aku gak mungkin nikah sama Daren. Sementara ada perempuan yang sedang mengandung benihnya. Saat itu aku cuma kepikiran buat kabur" terang Vea yang kini mulai berani menghadap kearah Dave yang sedang mengkancingkan kemeja slim fit berwarna biru gelap yang di kenakan nya.


" Bleng aja aku waktu itu,lagian aku gak yakin mereka mau menggagalkan acara hari itu kalau pun aku ceritakan. Pasti nama baik dan hubungan bisnis lebih mereka utamakan. Bisa aja wanita hamil itu cuma dapat penghinaan. Sudah anaknya gak diakui Daren, wanita itu juga pasti malu dan sakit hati banget"terang Vea. Dave yang telah selesai dengan pakaian nya tersenyum samar.


" Kamu mikirin wanita yang gak kamu kenal dengan mengorbankan diri kamu,nama baik keluarga serta bisnis keluarga kamu ?"


" Waktu itu aku belum mikir sampai ke situ sih,tapi sekarang aku bersyukur gak jadi nikah sama Daren meskipun banyak yang sudah aku korbankan" ucap Vea yang di sambut senyum percaya diri oleh Dave.


"Karena dengan kamu gak jadi nikah sama Daren kamu jadi ketemu aku,iya kan ?" ucap Dave sambil memeluk Vea dari belakang.


" Iuuhh gak ya bukan itu. Tapi aku bersyukur karena gak terperangkap dengan orang model Daren. Apalagi setelah aku lihat dia kemarin ngamar sama Zee. Padahal aku denger dia udah merit" jelas Vea membuat Dave mengerucutkan bibir tanda tak puas dengan jawaban wanitanya.


" Jadi kamu gak bersyukur ketemu aku ?" rajuk Dave yang masih setia mendekap tubuh Vea dari belakang dengan kaki berlutut karena Vea masih duduk di kursi meja rias.


Vea menghela nafas, tatapan matanya menerawang. Ia sadar hatinya telah terjatuh pada lelaki yang memeluk dirinya. Tapi jujur ia belum bisa mempercayai lelaki itu.


" Kok jadi diem,kamu menyesal bertemu denganku ?" ucap Dave masih dengan nada lembut. Meski hatinya sedikit tercubit oleh sikap Vea. Vea menggeleng perlahan.


" Gak ada yang perlu di sesali. Karena kita memang ditakdirkan untuk bertemu. Jujur aku gak bisa memungkiri aku sudah sayang sama kamu. Tapi aku ragu,apa kamu bisa menjaga kepercayaan aku ?" tanya Vea yang kini menoleh ke arah Dave .


Keduanya saling bertatapan. Dave melepas pelukannya,menangkup pipi Vea dengan tatapan mata yang begitu dalam dan penuh cinta.


" Aku tahu aku bukan lelaki baik,aku berengseek,aku bajiingan. Aku ngerti kenapa kamu ragu,karena memang aku tak layak untuk sepenuhnya kamu percaya. Tapi aku sedang berusaha untuk jadi lelaki yang pantas untuk kamu. Lelaki yang bisa kamu percaya" sejenak Dave terdiam menyalurkan rasa lewat tatapan mereka yang masih saling bertaut.


" Aku sedang belajar untuk jadi laki-laki setia,menjadikan kamu satu-satunya ratu di hatiku. Tanpa perlu dayang-dayang yang mengelilingi ku. Aku hanya ingin kamu Alivea, untuk jadi satu-satunya wanita di hidupku . Tolong percayai aku " ucap Dave,keduanya masih saling pandang. Anggukan kecil Vea membuat Dave merasa lega. Di rengkuhannya kembali sang wanita dalam pelukan.


Dave sang petualang cinta,ia sadar masa lalu nya tak muda begitu saja di terima pasangan. Wajar jika Vea masih meragu terhadap dirinya. Tapi ia sudah berjanji pada diri sendiri ingin berubah untuk cintanya. Ia ingin memantaskan diri berada di samping Vea. Wanita cerdas dengan raut wajah cantik yang telah membuat hatinya jatuh sejatuh-sejatuhnya.