
Dave yang mengantarkan Vea pagi itu tak hanya sampai depan kantor. Lelaki itu turun dari mobil,menggandeng tangan sang kekasih. Melangkah mengiringi kekasihnya dengan tangan saling beberapa kali berpapasan dengan para karyawan yang menyapa ramah Vea seraya melirik Dave yang tak mau melepas tangan Vea.
Di dalam lift pun Dave terus menempel pada Vea, meski beberapa karyawan ikut naik dalam satu lift. Vea hanya bisa berusaha tersenyum ramah pada setiap karyawan yang menyapanya, mencoba mengabaikan setiap lirikan mata pada sang kekasih yang enggan melepas tautan tangan mereka.
'' Kamu nanti kesiangan nyampai kantor Yang '' ucap Vea yang kini telah berjalan menuju ruangannya.
'' Gak apa-apa,gak ada meeting kok pagi ini. Aku tuh udah kangen banget tau gak sama kamu '' ujar Dave seraya menarik pinggang Vea hingga merapat pada dirinya.
'' Aku juga kangen banget '' di lorong sepi lantai tempat kerja Vea,sesaat keduanya berhenti saling tatap dengan seulas senyum yang mengembang.
Dave mengeratkan rangkulan di pinggang kekasihnya dan mengecup lembut puncak kepala Vea. Keduanya kembali melangkah, melewati ruangan dimana seorang lelaki yang menatap kedatangan mereka dengan tatapan tak di mengerti.
'' Pagi Mas !" sapa Vea pada Diaz yang sudah duduk di kursi kerjanya,dengan laptop yang telah menyala.
'' Pagi bu Vea " balas Diaz dengan menundukkan sedikit kepalanya. Dave tampak acuh tetap memeluk pinggang kekasihnya, mengikuti Vea masuk ke dalam ruangan.
Masuk ke dalam ruangan Vea,Dave langsung menutup dan mengunci pintu. Membuat Vea mengernyitkan dahi.
'' Ngapain di kunci Yang ?'' tanya Vea heran. Namun hanya di balas senyum okeh Dave yang langsung menarik pinggang Vea hingga menabrak dada bidang itu.
Vea menengadah menatap wajah tampan yang sedang menatapnya begitu dalam.
" I miss you honey " bisik Dave di telinga Vea, kemudian menelusuri wajah cantik itu dengan jari tangannya. Sampai di dagu Vea,Dave memegang nya lembut. Mendekatkan wajahnya membuat Vea memejamkan mata. Dan lembut bibir mereka bertemu. Saling meluumat pelan tanpa nafsuu. Menyalurkan rindu yang memenuhi rongga dada.
Ketika rasa kian menggebu,ciuman itu pun semakin menuntut dan dalam. Desakan lidah mulai masuk kedalam mulut Vea. Disambut belitan dan sesaapan penuh gelora. Dave memegang tengkuk Vea, memperdalam ciuman membuat Vea mengalungkan tangannya di leher Dave.
Keduanya terhanyut dalam buncahan rindu yang menggebu. Suara decapan dari bibir mereka terdengar memenuhi seisi ruang kerja Vea. Masih dengan posisi berdiri, ciuman Dave turun ke leher mulus Vea.
Desahaan kecil keluar dari mulut Vea. Saat keduanya mulai terhanyut oleh cumbuan yang membangkitkan gairah. Suara ketukan pintu menyadarkan dua manusia yang sedang di mabuk rasa yang menggelora.
Keduanya saling pandang,Vea mengusap bibir Dave yang tertempel lipstik dari bibirnya. Kemudian Vea merapikan bajunya yang tadi sempat di acak-acak oleh Dave. Menghirup nafas panjang,mencoba menetralkan gairah yang terlanjur membara.
'' Ya, masuk !" titah Vea seraya membuka pintu dengan Dave di sampingnya.
'' Maaf bu, setengah jam lagi ada meeting '' ucap Diaz di depan pintu.
'' Oke, makasih ya mas,sudah mengingatkan''
'' Sama-sama bu, permisi'' pamit Diaz kembali ke ruangannya yang terletak di depan ruangan Vea
'' Ya udah aku ke kantor dulu'' ucap Dave seraya menyelipkan helai rambut di belakang telinga Vea.
''Iya hati-hati'' Dave mengangguk dengan sesungging senyum di bibirnya. Sebelum pergi Dave mengecup pipi Vea. Tak memperdulikan ada sepasang mata yang tampak mencelos melihat kemesraan mereka.
🧸🧸🧸
Dave meninggalkan kantor Vea dengan senyum yang terus mengembang. Rasa rindunya yang ia tahan hampir seminggu ini akhirnya terlepas juga. Terkadang tak habis pikir dirinya. Bagaimana ia bisa jatuh cinta sedalam ini pada seorang wanita ?.
Sampai di kantor, beberapa karyawan menyapanya ramah. Dave yang sedang di liputi rasa bahagia itu menyahut dengan senyum sumringah.
'' Pagi pak Dave !" sapa Disya yang berdiri dari duduknya. Membungkukkan badan memberi penghormatan untuk atasannya.
'' Pagi Dis '' sahut Dave tanpa menghentikan langkahnya.
'' Maaf pak ada tamu di dalam menunggu bapak '' terang Disya yang tadi di paksa seseorang untuk mengijinkan orang tersebut masuk ke ruangan Dave.
Dave tampak mengangkat alis. Ia merasa tak memiliki janji dengan siapapun pagi itu.
'' Saya tidak ada janji temu dengan siapapun '' ungkap Dave,sembari menghentikan langkah dan menatap sang sekertaris.
''Maaf pak beliau memaksa masuk'' terang Disya seraya menunduk.
'' Ya sudah,lain kali jangan ijinkan orang masuk ruangan saya tanpa ijin saya'' tegas Dave.
'' Baik pak ''jawab Disya.
Dave membuka pintu ruangannya. Sebuah senyum lebar menyambut kehadirannya. Wanita cantik dengan paha terbuka karena rok yang di kenakan begitu pendek. Lekuk tubuh sintalnya tercetak sempurna di balik pakaian ketat yang ia pakai.
Dave melengos melihat wanita seksi yang langsung berdiri dari duduknya saat melihat kedatangan Dave.
'' Hai Dave apa kabar ?,susah banget di hubungi ?'' tanya wanita itu semakin melangkah kearah Dave yang sedang meletakkan tas di meja kerjanya.
'' Ada perlu apa kamu kesini ?'' tanya Dave dingin.
'' Gak ada perlu sih,kangen aja sama kamu'' sahut wanita itu seraya membelai dada bidang Dave. 'Shitttt' umpat Dave dalam hati. Ada gelenyar yang memaksa kelelakiannya bangkit dari tidurnya.
Tadi saat bercumbu dengan sang kekasih kelelakiannya sudah menegang dan belum terlampiaskan. Kini di hadapannya,seorang wanita seksi merayunya dengan aroma parfum yang begitu wangi ,memabukkan indera penciuman.
Dave memejamkan mata mengumpulkan kewarasannya. Namun wanita seksi yang tak lain adalah Renata itu semakin berani. Menempel pada tubuh Dave yang berdiri tak bergeming. Jiwa cassanova nya yang sedang mati suri seperti di paksa bangun.
Apa salahnya jika hanya sekali saja , terbersit pikiran dari setan yang membisikinya. Pikirannya mulai kacau saat wanita seksi itu semakin menempel padanya.
" Aku kangen banget sama kamu Dave " bisik Renata dengan suara sensual. Sebuah kecupan ringan di daun telinga membuat tubuh Dave meremang. Hasratnya berkobar tak terbendung. Saat ia belum bisa melepaskan gairah bersama sang kekasih kini ia di uji dengan kedatangan sang penggoda.
" Re, please gak gini. Ini kantor " tolak Dave seraya mundur menjauh dari tubuh wanita yang pernah menghangatkan malam-malam nya . Renata tersenyum smirk,seraya terus melangkah maju, merangsek kembali menempelkan tubuh pada Dave.
" Kenapa ?" tanya Renata dengan tatapan menggoda. Hari lentiknya menyentuh bibir Dave.
" Gak bisa gini Re,aku gak bisa "
" Oh ya ?, tapi yang gak busa mulut kamu . Ini kamu nyatanya bangun " lirih Renata seraya meremas kelelakian Dave. Membuat Dave menahan desahaan yang hampir saja lilos dari bibirnya.