If

If
Pilu



Dave tampak mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya. Tatapan matanya menerawang jauh. Banyak pikiran berseliweran di benaknya. Memantapkan hati untuk meminang sang kekasih adalah pikiran terbesarnya. Ia sadar, jika ia tidak berani mengambil sikap. Maka bisa saja dengan mudah Vea pergi dari hidupnya.


Pertemuan dengan ibunya Fardan membuat Dave sadar. Ada banyak cinta untuk sang kekasih. Dan dia tak akan pernah rela melepas Vea pada siapapun.


Brakkk


Suara kursi yang tertarik ,membuat Dave berjengit kaget.


" Anjiiing,bangkee lo " umpat Dave menatap kesal sahabatnya yang tertawa lebar melihat kekagetannya.


" Bisa-bisanya lo,udah kayak jailangkung aja. Masuk gak ada suara " kesal Dave pada Gerald yang kini duduk di hadapannya.


" Bukan gue gak ada suara,kuping lo yang mulai bermasalah. Gue ketuk pintu lo gak denger,gue masuk lo gak lihat. Ngelamun apa lo ?, kelamaan gak di cas sama cewek lo, jadi gak konek gitu ?". ejek Gerald, tak tahu saja jika sahabatnya sudah tercas dengan penuh .


" Ngapain lo, kesini ?" tanya Dave mengalihkan topik tak penting diantara mereka berdua .


" Nih,wajib dateng " Ucap Gerald sembari mengulurkan selembar kertas tebal dengan cetakan nama Gerald terpampang jelas fi sana.


Dave terbelalak tak percaya dengan apa yang ada di tangannya.


" Lo tunangan ?, kok bisa ?" tanya Dave yang di sambut dengusan kasar sahabatnya.


" Ya bisa lah lo pikir gue bakal jomblo seumur hidup gitu " sarkas Gerald yang kesal dengan pertanyaan menyebalkan sang sahabat.


" Akhirnya, thanks God. Sahabat gue move on juga " ucap Dave membuat Gerald melengos. Sedang Dave sedang mengamati undangan dari sahabatnya.


" Ersa ?kok gue belum pernah denger namanya ?, sejak kapan lo berhubungan sana nih cewek " cecar Dave yang merasa tak mengenal calon tunangan Gerald.


" Gue di kenalin sama nyokap,dan kebetulan profesi kita sama " sahut Gerald yang di sambut tawa keras sang sahabat.


" Akhirnya Lo jadi korban perjodohan juga ?, wooo dr. Ge akhirnya menyerah hahahaha...." betapa girangnya hati seorang Dave yang merasa sahabatnya telah menjadi korban perjodohan.


Plakk


Map yang tergeletak di atas meja, melayang dan mendarat sempurna di kepala Dave.


" Eh, nyokap cuma ngenalin doang ya,soal gue lanjut karena emang kita cocok. Ini bukan perjodohan tapi murni kemauan gue " bela Gerald .


" Terus acara lo, bakal diadain dimana ?" tanya Dave yang belum membuka undangan dari sang sahabat.


" Itu di tangan lo udah gue kasih undangan. Gak mungkin tempat acara gak di tulis ". sahut Gerald, membuat Dave melempar undangan di tangannya,hingga mengenai badan Gerald hanya tertawa saja dengan perlakuan sahabatnya.


" Lo gak pernah cerita apa-apa, tiba-tiba lo ngasih gue undangan pertunangan. Seyakin itu lo sama nih cewek ?" cecar Dave yang kini dalam mode serius. Gerald mengangguk pasti,tak ada keraguan di wajah dokter tampan itu.


" Gue yakin, gue gak pernah seyakin ini untuk memulai sebuah hubungan dengan seorang wanita. Buat gue dia sudah jadi sumber kebahagiaan gue. Jadi gak ada alasan gue gak yakin dengan langkah ini " sahut Gerald tak kalah serius. Dave mangut-mangut, tatapannya kembali di kuasai lamunan. Gerald menangkap gelagat dari sang sahabat.


" Lo kenapa ?, ada masalah ?" tanya Gerald,Dave menghembuskan nafas berat. Tak menjawab pertanyaan sahabatnya, ia berjalan kearah kulkas mini yang tersedia di ruangan itu. Mengambil dua botol air mineral, dan berjalan menuju sofa di ruang kerja tersebut.


Gerald mendekati sahabatnya yang kini duduk dengan tatapan menerawang seraya menenggak air dari botol air mineral . Gerald ikut duduk di samping sang sahabat, meminum air dingin yang diambilkan Dave. Tetap diam menunggu cerita yang keluar dari bibir Dave.


" Gue bingung Ge,lo tau seberapa bobroknya hidup gue kan ?, dan gue sekarang di hadapkan dengan wanita terhormat dari keluarga terhormat. Gue gak mau dan gak bisa kehilangan Vea,gue cinta sama dia. Lo tau gimana gue menolak yang namanya cinta,tapi nyatanya dengan Vea gue dengan mudahnya jatuh cinta. Tapi gue mesti gimana ?, kehidupan seperti apa yang bisa gue tawarkan buat dia ?" ungkap Dave dengan nada getir. Ia tertunduk, menatap lantai dengan wajah pilu.


" Lo punya cinta yang bisa lo tawarkan sebagai sumber kebahagiaan dia Dave. Lo bisa merubah semua hal buruk lo di masa lalu, semua orang berhak untuk berubah". ucap Gerald menenangkan hati sahabatnya.


" Tapi gak ada yang bisa merubah dari rahim siapa gue terlahir Ge " lirih Dave, dadanya terasa sesak. Ada ketakutan yang terselip di hatinya.


" Gue bingung harus mulai darimana ?,gue siap merobohkan semua dinding yang gue bangun untuk kebencian gue pada pernikahan. Gue siap menikah asal itu sama Vea. Tapi apa keluarga Vea bisa menerima gue Ge ?, kalau mereka tau asal usul gue ?. Mereka keluarga terhormat dan terpandang sementara gue bahkan gak punya keluarga." sambung Dave dengan kepiluan yang tergambar di matanya. Gerald menepuk pundak sang sahabat.


" Kalau dia bener cinta sama lo,dia akan nerima lo dengan segala hal yang ada di diri lo Dave". tutur Gerald.


" Mungkin dia bisa,tapi jujur gue gak yakin kalau keluarga dia bisa nerima gue Ge,lo tau Vea itu siapa ?" tanya Dave seraya menatap Gerald yang pasti menggeleng. Ia memang tak tahu wanita yang telah meruntuhkan benteng kokoh di hati sang sahabat.


" Dia Alivea Dwilangga, putri keluarga Dwilangga." ucap Dave yang mendapat pelototan dari Gerald.


" Jadi dia anak pengusaha sukses yang beberapa bulan lalu di isukan kabur di hari pernikahannya ?" tanya Gerald yang kaget bukan main. Ia tahu tentang cerita kaburnya Vea dari berita yang sempat beredar. Dave mengangguk seraya berkata.


" Gue juga kaget banget pas tau dia siapa,tapi gue gak bisa mundur Ge,gue cinta banget sama dia ". Dave meraup wajahnya sendiri. Ada banyak kelebat bayangan menakutkan di depan sana. Ia bisa menyakinkan hati untuk meminang Vea. Tapi apa keluarga Vea bisa menerimanya dengan tangan terbuka ?, apa mereka tidak akan mempermasalahkan tentang bibit,bebet dan bobot ?. Ah,semua terlalu memusingkan.


" Jangan terlalu over thinking dulu Dave,lo ceritain dulu siapa lo ke Vea. Jangan ada yang lo tutup tutupi. Biar dia memilih langkah terbaik untuk kalian. Jangan berjuang sendiri,sebuah hubungan harus sejalan. Kalian harus berjuang bersama ." tutur Gerald,dia sendiri bingung harus memberi dukungan seperti apa. Embel-embel nama Dwilangga di belakang nama Vea menegaskan seberapa terhormat wanita itu,dan dari kalangan seperti apa wanita itu berasal.


" Kalau dia memilih mundur,gue mesti gimana Ge ?" tanya Dave penuh kebimbangan. Rasa takut kehilangan Vea mendominasi hatinya.


" Lo harus yakinin dia kalau lo lelaki paling tepat di hidupnya ". Ge mencoba meyakinkan Dave, namun lelaki itu hanya tersenyum miris . Karena ia pun tak yakin dengan dirinya sendiri.