If

If
Kekhawatiran Seorang Kakak



Aksara tampak membeku setelah membaca sebuah laporan yang baru saja di berikan oleh sang asisten. Tatapan nyalang, menerawang menembus ruang. Helaan nafas yang berat menandakan ada kecamuk yang melanda pikirannya.


Aksara berdiri dari kursi kerjanya, menatap gumpalan awan yang saat itu tampak menghitam. Tatapannya kosong,ada deru yang menggebu dalam dada. Rasa tak percaya yang sayangnya harus terpatahkan oleh sebuah bukti nyata.


Ini tentang sang adik tercinta. Yang tanpa ia tahu ternyata terjatuh pada belenggu cinta yang baginya salah. Vea gadis kecilnya yang selalu bersikap manja kini ternyata sudah dewasa . Namun mengapa harus terjatuh pada lelaki yang memiliki catatan hitam tentang wanita.


Ia tak akan pernah rela jika adik tercintanya tersakiti. Namun ia tak bisa memaksa segala kehendak jika itu tentang hati.


'' Kak Aksa '' suara lembut mengalihkan lamunan Aksara. Saat menoleh ke belakang senyum lebar terpasang di wajah gadis kecilnya yang kini telah tumbuh menjadi wanita cantik.


" Kamu udah nyampe dek,kok Mas gak denger ?" tanya Aksa seraya berjalan mendekati sang adik.


"Soalnya Mas ngelamun " ucap Vea yang langsung bergelayut manja di lengan kakaknya.


" Hayo ngelamunin siapa ?, aku bilangin kak Claudia baru tahu rasa " ucap Vea dengan tatapan menyelidik pada kakak lelakinya. Aksara tertawa senang seraya memencet hidung mancung sang adik.


" Jangan asal tuduh. Mas tuh udah cinta mati sama Mbak kamu " tutur Aksara yang kini melangkah kearah sofa dengan lengan yang masih di dekap erat adiknya.


" Iiih cwiiit banget sih abang ku ini " ucap Vea dengan nada di buat manja. Seraya mengoyakkan lengan Aksara. Aksara membawa Vea duduk di sofa panjang. Dua kakak beradik itu duduk bersebelahan.


" Mau minum apa ?" tawar Aksa dengan tatapan lekat pada wajah adik manjanya.


" Gampang ntar ambil sendiri " sahut Vea yang kini telah melepaskan lengan Aksara dan mengambil majalah bisnis yang tergeletak di atas meja.


" Ve,ada yang mau kakak omongin " kata Aksara lembut dengan membelai rambut sang adik dengan Sayang. Vea meletakkan majalah di tangannya, menatap Aksara yang masih menatap dalam dirinya.


" Ada yang urgent kak ?" tanya Vea beralih ke mode serius. Melihat tatapan mata Aksara ia mencoba mencerna ada masalah apa yang menghimpit mereka.


" Tentang kamu " Aksara menjeda kalimatnya masih dengan tatapan menyelami sorot mata adik semata wayangnya. Vea masih diam, mencoba meraba arah pembicaraan Aksara. Namun tak ada yang menurutnya perlu mereka diskusikan dengan sebegitu seriusnya, sampai Aksara mengundangnya ke kantor.


" Mungkin kakak terlalu ikut campur dengan urusan pribadi kamu. Tapi ini kakak lakuin karena kakak sayang sama kamu Ve " tutur Aksa masih dengan nada yang begitu lembut dan sorot mata teduh. Vea masih bergeming, menyelami makna yang belum mampu ia terka arahnya .


" Ini tentang Dave " ucap Aksara seraya memalingkan wajah dari sang adik yang menatap intens dirinya. Ia menghela nafas dalam.


" Apa yang kakak ketahui soal Dave ?'' Vea bersuara,ia tahu ada sesuatu yang mengganjal di hati kakaknya tentang diri sang kekasih.


'' Kamu sudah yakin dengan dia ?'' tanya Aksara dengan tatapan yang kini lurus ke depan.


'' Aku tak pernah seyakin ini dalam menjalin hubungan " jawab Vea pasti. Aksara menghela nafas panjang. Gusar menghantui seluruh rongga di dadanya.


" Kak,kalau yang kakak bicarakan tentang masa lalu Dave. Vea sudah tau,dia player, pemain wanita, tidak percaya cinta,anak korban broken home yang membuatnya membenci pernikahan. Aku sudah tau kak,dari awal dia tak menyembunyikan apapun dariku." jabar Vea menjelaskan. Aksara sedikit terkejut, ia menoleh kearah adiknya dengan dahi berkerut.


" Dan kamu percaya sama dia ?" tanya Aksara yang masih di penuhi kebimbangan. Vea mengangguk mantap.


" Gak ada orang biasa yang sempurna di dunia ini kak. Dan menurut aku orang baik itu bukan orang yang tidak pernah tersesat dalam kesalahan. Tapi orang yang mampu menemukan jalannya untuk keluar dari kesalahannya dan tidak mengulangi salah yang sama". tutur Vea mencoba meyakinkan sang kakak, bahwa Dave tak seburuk yang di pikirkan sang kakak.


" Kamu yakin dia benar-benar sudah berubah ?'' selidik Aksara yang ternyata masih ragu pada sosok Dave Mahendra.


" Iya, sebelum aku menerima dia aku sudah meminta seseorang untuk menyelidiki. Biarpun aku terjerat pesona wajah tampan Dave aku juga gak sebodoh itu kak. " Aksara menoleh kearah Vea dan tersenyum tipis, mengusap rambut adiknya dengan perasaan sayang.


" Semoga dia benar-benar sudah berubah." ucap Aksara, melihat sinar cinta yang terpancar dari wajah Vea. Tak mungkin ia meminta adiknya untuk meninggalkan sang kekasih.


Vea mengangguk, kemudian menatap curiga pada Aksara .


" Apa ?" tanya Aksara yang mendapat tatapan menyelidik dari Vea.


" Kenapa tiba-tiba kakak membahas soal Dave,ada yang aku gak tahu ?" tanya Vea dengan menyipitkan mata. Aksara tertawa melihat gaya adiknya.


" Yah,ada seseorang yang bilang kalau Dave gak cocok buat adik cantikku ini " jawab Aksa jujur.


" Renata " ucap Vea serupa gumaman namun masih di dengar oleh Aksara.


" Kok langsung menebak dia ?"


Vea tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Aksara.


'' Karena dia wanita dari masa lalu Dave '' sahut Vea santai seraya menyandarkan punggungnya di sofa .


'' What ???'' Aksara cukup kaget dengan fakta yang baru ia dapat.


"Hati-hati kak,dia udah gagal buat ngerayu Dave lagi. Takutnya dia bakal coba-coba buat ngerayu kamu kak " ujar Vea seraya menepuk lengan Aksara.


" No,gak ada wanita yang lebih cantik dari Claudia. Kakak gak akan tergoda " sahut Aksara percaya diri.


" Iya deh iya yang bucin " celetuk Vea yang kemudian beranjak dari sofa dan mengambil air mineral di lemari es mini yang tersedia di sudut ruangan.