If

If
Untukmu



Vea tersenyum tipis mendapati wajah tampan di hadapannya masih terpejam. Wanita itu mengamati rahang tegas, hidung mancung dan bibir tebal yang terlihat seksi. Vea terbius wajah tenang yang memancarkan pesonanya meski dalam keadaan terpejam.


Cukup lama Vea menikmati wajah tampan itu. Sampai sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya terasa mengeratkan pelukan. Di bawanya tubuh tanpa busana milik Vea menempel erat pada tubuh Dave yang sama-sama naked. Semalam setelah makan malam di tengah malam berakhir dengan pergulatan panas,yang membuat sepasang kekasih itu kini meringkuk dalam satu selimut dalan keadaan tanpa pakaian.


" Morning Baby !" ucap Dave yang masih terpejam namun begitu erat memeluk sang wanita.


" Morning " sahut Vea , jarak yang semakin dekat membuat Vea memajukan wajahnya dan mengecup singkat bibir yang menggoda di hadapannya.


Dave membuka mata saat mendapat perlakuan manis dari sang kekasih. Tersenyum lembut dengan pancaran mata yang menyiratkan cinta. Dave semakin mengeratkan pelukannya,membuat wajah Vea kini tenggelam di dada bidang itu. Menikmati ritme jantung yang berdetak berirama di dada sang kekasih.


Sedang Dave berkali-kali mencium kepala Vea dengan sayang. Rasanya pagi itu begitu menenangkan. Dengan semua masalah yabg sedang menghantam dirinya. Vea adalah pelipur segala resah yang menyapa hatinya.


" Yang !" tegur Vea saat menyadari ada yang bergerak di bawa sana.


" Hmm " gumam Dave tanpa melepas pelukan. Ia sedang menikmati rasa tenang dalam hangatnya pelukan sang wanita.


" Lepas dulu Yang engap " ucap Vea memberi alasan. Dave tersenyum kemudian sedikit merenggangkan pelukannya. " I love you honey " ucap Dave sembari menatap dalam mata kekasihnya, kemudian menyematkan sebuah kecupan manis di bibir Vea.


" I love you too " sahut Vea setelah terlepas dari ciuman singkat Dave.


'' Yang " lirih Dave di telinga Vea seraya menarik tangan Vea untuk menyentuh senjata nya yang sudah siap tempur.


" Sekali lagi yuk !" bisik Dave seraya menghembuskan nafas menggoda di telinga wanitanya.


" Ini udah kesiangan Yang,kita kan harus ke kantor " Vea mencoba mengingatkan namun nyatanya Dave tetap melancarkan aksinya. Sentuhan tangan yang Dave lakukan, jelas membangkitkan diri liar seorang Vea. Yang tadi seakan menolak ternyata bisa melenguh dengan cepat dan mengimbangi permainan sang kekasih.


Dan pagi yang cerah itu diawali dengan pergulatan panas dua sejoli . Saling melengguh dan mendesaah membuat pagi itu begitu membara.


Usai dengan kegiatan panas mereka, keduanya membersihkan diri. Dan kini mereka tampak terburu-buru mengenakan pakaian kerja masing- masing.


Dave dengan kemeja dan celana serta jas yang telah Vea siapkan di atas ranjang. Vea yang kini telah memiliki beberapa pakaian di lemari Dave pun tampak sedang sibuk dengan pakaiannya.


" Kenapa Yang ?" tanya Vea yang melihat Dave kini telah sibuk dengan ponsel di tangan.


" Pakaian dasi Yang,aku mesti buru-buru . Ada meeting dadakan. Aku baru di kabarin sama sekertaris aku " terang Dave yang kini duduk di tepi ranjang.


Vea menghampiri kekasihnya, dan memenuhi permintaan lelakinya yang sibuk membalas email yang masuk. Vea menatap wajah tegang di hadapannya. Meski sang kekasih tak pernah mengatakan apapun,Vea yakin sedang ada yang tidak beres dengan perusahaan sang kekasih.


" Udah " ucap Vea yang kini menunduk di depan wajah tegang Dave. Lelaki di hadapannya, mendongak, menampilkan senyum dan meraih tengkuk Vea. Melumaat bibir Vea dengan lembut.


" Makasih Sayang " ucap Dave setelah melepas ciumannya. Vea hanya tersenyum kemudian kembali melangkah ke depan cermin untuk menyelesaikan dandanannya.


" Sayang,aku gak bisa nganterin kamu, gimana ?" ucap Dave dengan nada lemah. Lelaki itu kini telah rapi dengan stelan jas berwarna biru. Rambutnya pun telah di sisir rapi. Semerbak harus parfum Dave menguar saat ia menyemprotkan di beberapa bagian tubuh.


" Gak apa-apa,aku juga bawa mobil " sahut Vea yang juga telah rapi. Wanita itu mendekati Dave dan memberikan sebuah pelukan hangat. " Apapun yang sedang kamu lewati, jangan pernah menyerah. Aku gak tau apa itu,tapi aku ngerasa ada hal yang sedang kamu perjuangkan " ucap Vea membuat Dave membalas pelukan wanitanya kian erat.


" Thanks sayang buat support nya,tunggu aku menyelesaikan semua ini . Aku akan datang meminta kamu secara resmi pada keluarga kamu". ucap Dave yang kini sedikit melonggarkan pelukan. Keduanya saling tatap dalam diam, menyelami relung hati terdalam dua sejoli itu.


" Aku harus berangkat dulu !" pamit Dave sambil melepas pelukan sang kekasih. Vea yang mengerti langsung melepas pelukan itu. Setelahnya mengecup kening Vea cukup lama, seperti sedang mentransfer sebuah energi positif dari aroma wangi kekasihnya .


" Hati-hati, aku yakin kamu bisa melewati masalah kamu . Dan aku menunggu kamu datang ke keluarga ku " ucap Vea dengan senyum lebar.


Akhirnya Dave meninggalkan apartemen,melaju diantara hiruk-pikuk nya pagi di jalanan yang selalu padat merayap. Ia baru saja mendapatkan kabar dari Disya ada klien yang hendak bertemu pagi ini.


Ia ingin segera menyelesaikan masalah perusahaan secepat mungkin. Terlalu lama ia bergerak akan semakin habis segalanya.


Dan apa yang bisa ia banggakan pada sang kekasih. Jika sampai perusahaannya hancur di tangan Daren. Egonya sebagai lelaki jelas tak ingin membuat wanita yang berasal dari keluarga kaya raya itu menderita dengannya.


" Tunggu sayang, aku akan menyelesaikan secepatnya " gumam Dave, memberikan semangat untuk dirinya sendiri.