If

If
Bahagia itu Saat Bersamamu



Suara saling bersahutan di kamar Dave terdengar mewarnai pagi itu. Di belakang tubuh sang istri Dave mengayuh dengan cepat. Menumpahkan hasrat yang memuncak.


Sampai suara dering ponsel membuat konsentrasi Dave teralihkan.


" Angkat dulu Yang " ucap Vea dengan nafas terengah karena Dave yang masih tetap mengayuh.


" Biarin " singkat Dave tanpa memperdulikan ponsel yang kini telah berhenti berdering. Nafas keduanya kian memburu. Penyatuan cinta itu hampir mencapai puncaknya. Namun lagi-lagi ponselnya berbunyi.


" Shittt !!" umpat Dave yang merasa terganggu. Tanpa melepas penyatuan tubuh keduanya ,Dave meraih ponsel dan tertera nama Diaz di sana.


" Kenapa ?" tanya Dave tanpa basa-basi. Tubuhnya masih maju mundur dengan Vea bertumpu pada meja rias.


" Maaf Pak setengah jam lagi ada meeting dengan klien.''


'' Oh my God,kamu handle dulu '' Dan panggilan itu langsung terputus sepihak oleh Dave. Lelaki itu mempercepat lajunya hingga teriakan terdengar saat kenikmatan itu membawanya melayang.


Dave memeluk sang istri dari belakang dengan nafas tersengal.


" Ada apa Yang ?" tanya Vea juga dengan nafas terengah.


" Ada meeting pagi ini aku lupa " ucap Dave,lalu mengecup pundak istri.


" Kamu sih, mau mandi malah minta jatah " gerutu Vea yang beranjak kearah tempat pakaian setelah Dave melepas pelukannya. Ia mengambil kimono dan memakainya.


Dave melangkah ke arah kamar mandi. Tak memperdulikan gerutuan sang istri .Sesaat sebelum masuk ,Dave menoleh istrinya yang sedang mengambilkan pakaiannya di dalam lemari.


" Mau bareng Yang ?" tawar Dave uang langsung di balas gelengan dari Vea.


" Gak ,gak mau. Yang ada gak jadi ngantor " sungut Vea yang di balas kekehan suaminya sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.


Usai menyiapkan pakaian sang suami,Vea memilih mandi di kamar tamu. Usai membersihkan diri,Vea membuat roti bakar untuk diri sendiri dan Dave.


" Sayang!" sapa Dave seraya mengecup pipi Vea yang sedang mengeluarkan roti dari pemanggangan.


'' Ini sarapan dulu Yang '' ucap Vea seraya mengulurkan roti untuk sang suami. Dave segera menyambutnya. Vea pun segera mengambil miliknya. Menghabiskan sarapan dengan cepat. Tak ada teh,susu,kopi atau pun minuman hangat lainnya. Sudah terlalu terlambat untuk pergi ke kantor. Dan itu ulah suami tercinta.


Sepasang suami istri itu berjalan tergesa dengan tas di tangan masing-masing. Bahkan Dave masih belum mengenakan jasnya.


'' Aduh Yang, jadi ribet gini. Minta jatah jangan pagi-pagi dong Yang '' keluh Vea seraya merapikan dasi yang di kenakan Dave setelah mereka sampai di dalam mobil. Dave mendekati sang istri dan berbisik di telinga Vea " Habis kamu terlalu menggoda Yang '' dengan senyum menggoda sang istri.


Dan itu adalah kejadian kesekian kali di pagi hari. Pernikahan mereka sudah berjalan selama enam bulan. Tapi kehangatannya masih terasa. Bagi Dave tak ada yang lebih menggoda selain sang istri, sehingga tak bisa untuk dirinya tak menyentuh wanita itu. Istrinya adalah candu,lebih memabukkan di banding sebotol minuman .


Kini keduanya mengelola satu perusahaan yang sama. Posisi masih sama namun nyatanya lebih banyak Dave yang bekerja. Bahkan kini Diaz bukan lagi asisten Vea melainkan asisten Dave. Karena hampir setiap ada meeting Dave lah yang menangani. Vea lebih banyak mengurus dokumen yang harus di periksa.


Dave menjadi atasan dua perusahaan ,tapi sampai saat ini berjalan dengan baik. Mahendra desaign corp di bawah pengawasan Marcell ,orang kepercayaannya Dave. Dave hanya sesekali datang, selebihnya dua hanya mengecek lewat email.


Saat ini bagi Dave adalah puncak terindah dari kehidupan yang telah di lalui nya. Memiliki istri cantik,baik dan selalu mengerti dirinya. Memiliki sebuah keluarga kecil yang damai. Dan ketika ia telah berdamai dengan segala kisah masa lalunya,kini hidupnya lebih tenang tak ada dendam dan kekecewaan. Hubungan dengan sang Mama semakin baik.


Sedangkan ayahnya ternyata telah meninggal, beberapa tahun yang lalu. Sebelum Dave bisa berdamai dengan kehidupan masa lalunya. Biarkan yang sudah pergi tenang di sana. Dave telah memaafkan semua yang dulu terasa menyakitkan hatinya.


Vea pun merasa bahwa ini adalah puncak dari rasa bahagia di sepanjang jalan hidup yang telah di lewatinya. Mendapatkan lelaki yang selalu mencurahkan cintanya dengan sepenuh hati. Selalu menatapnya penuh cinta dan sayang. Membuat dirinya merasa begitu berharga dan istimewa. Bersama Dave ia yakin akan mampu melewati setiap cobaan hidup yang menghadang.


Sepasang suami istri itu tampak masih asyik bergulung di balik selimut. Hawa dingin pagi hari membuat enggan dua sejoli itu untuk beranjak dari tempat tidur. Keduanya saling mendekap erat mengantar kehangatan satu sama lain. Dengan nyaman Vea mendusel di dada bidang sang suami. Sampai tiba-tiba rasa mual menggelitik perutnya.


Tanpa aba-aba Vea bangkit dan melompat dari tempat tidur. Kari ke dalam kamar mandi dan muntah di sana. Dave yang kaget dengan kelakuan sang istri masih mengumpulkan nyawa dengan mata yang mengerjap.


Saat mendengar istrinya muntah-muntah Dave menyusul ke kamar mandi. Memijit tengkuk sang istri yang memuntahkan cairan kekuningan.


" Kamu kenapa Yang ?" tanya Dave khawatir saat Vea tak lagi memuntahkan isi perutnya. Vea menggeleng lemah. Dave meraih tubuh sang istri dan di peluknya dengan sayang.


" Ini tanggal berapa Yang ?'' tanya Vea yang bersandar nyaman di dada sang suami.


" Tanggal 23 kalau gak salah " sahut Dave,Vea langsung melepas pelukan Dave


" Yang ambilin tes pack di laci meja rias. Aku udah telat lebih dari dua Minggu " ucap Vea membuat Dave terperangah kemudian berlari keluar kamar mandi dan mencari barang yang di maksud sang istri.


Vea sudah membeli tes pack saat ia baru telat tiga hari. Namun ia masih menahan untuk mengetesnya. Sampai akhirnya kesibukan membuatnya lupa.


Dave kembali dengan tes pack di tangan. Diberikannya pada Vea. Vea mengikuti petunjuk yang ada di bungkusnya. Menunggu beberapa saat setelah ia mencelupkan benda itu pada urinnya. Dengan berdebar suami istri itu menunggu garis yang terlihat di sana.


Dan debaran jantung itu menjadi tetes air mata bahagia saat dua garis merah terlihat di sana.


" Kita bakal jadi orang tua " ucap Vea berkaca-kaca ,Dave meraih tubuh sang istri dan menghujani nya dengan ciuman.


" I love you Istriku. Kamu telah menjadikan aku sebagai lelaki yang sempurna " ungkap Dave.


" I love you more calon Daddy " sahut Vea dengan tatapan mata yang dalam.


Pernikahan yang dulu bagai momok yang menakutkan kini justru menciptakan kebahagiaan. Dan kehadiran anak yang dulu tak pernah ia harapkan nyatanya membuat hatinya berbunga-bunga. Kini hidup Dave terasa sempurna dengan kehadiran seorang Vea dan kini calon buah cinta mereka.


Selesai