
Vea menatap jari manisnya dengan senyum yang terus mengembang. Kini ia sudah berada di kamarnya setelah diantar sang kekasih. Tak menyangka malam ini akan mendapatkan kejutan sebuah lamaran dari sang kekasih.
Lelaki yang menjujung kebebasan kini mulai merubah arah hidupnya. Ternyata cinta sesakti itu untuk merubah seseorang. Vea hanya berharap semua mampu terlewati dengan baik. Ia bahagia dengan keberanian sang kekasih mengambil keputusan untuk hubungan mereka. Karena ia juga merasa mereka terlampau jauh melewati batas norma yang ada.
Bagi Vea,ia tak pernah tenang dengan hubungan yang baginya tetaplah sebuah kesalahan. Ia masih berpegang pada norma yang ada,meski nyatanya ia terseret pada hubungan yang salah. Ia paham tak seharusnya ia tenggelam sedalam itu dalam hubungan percintaan tanpa ikatan sakral pernikahan.
Namun ternyata nikmatnya nafsu dunia tak mampu ia ingkari. Ia tak munafik meski sadar itu salah namun juga menikmatinya. Terlalu jauh terjerumus pada gairah dengan mengatasnamakan cinta. Membuat ia ingin melegalkan hubungan, hingga tak ada kewaspadaan setiap saat .
Sering kini hari-harinya diliputi rasa was-was. Takut bila ia hamil di luar nikah. Kehormatan,harga diri dan kepercayaan dari orang di sekelilingnya pasti akan hancur. Belum lagi orang tuanya yang menjunjung tinggi norma yang ada.
Ia sadar tak bisa menjaga martabatnya dan telah gagal menjadi anak yang di beri kepercayaan penuh oleh kedua orang tuanya.
'' Semoga ini jadi awal yang baik buat kita " lirih Vea, sekali lagi ia menatap cincin di jarinya. Kemudian mendekap tangan di dadanya. Membawa senyum dalam tidur yang lelap.
Sementara di tempat lain,tampak dua lelaki dewasa terlentang di atas ranjang dengan tatapan menengadah menatap langit-langit kamar.
' Jadi lo ngelamar Vea ?" tanya Gerald yang baru saja mendengarkan cerita sang sahabat yang tiba-tiba dayang hampir tengah malam.
Dave mengangguk, meski Gerald tak melihat pergerakan dari Dave.
" Terlalu buru-buru gak sih ?" lanjut Gerald,bukan ia tak mendukung sahabatnya yang sudah mau menjalin sebuah hubungan serius. Namun mengingat bagaimana dulu sahabatnya, membuat ia heran, mengapa Dave mampu membuat keputusan secepat itu.
" Gue juga bingung, kenapa gue se impulsif ini. Yang ada di otak gue cuma gimana caranya mengikat Vea dan gak ada lagi yang bisa memiliki dia selain gue.'' sahut Dave tanpa menatap Gerald di sampingnya.
Ada kegamangan yang menyergap di sisi hatinya saat ini. Ada banyak pertanyaan yang tak mampu ia jawab. Ada resah yang menghantam jiwanya.
Mampukah ia menjadi nahkoda dalam rumah tangganya ?. Bisakah ia menyebrangi bahtera tanpa tenggelam ?. Bisakah ia menjadi pemimpin yang bijak ?. Begitu banyak pertanyaan berseliweran di otaknya.
" Apa hal yang lo paling takuti saat ini ?" tanya Gerald sedikit memiringkan wajahnya menatap sang sahabat yang masih tak bergeming dari posisinya.
" Kehilangan Vea,gue gak bisa bayangin hidup tanpa dia. Mungkin terlalu gila sih kedengarannya. Tapi itu yang gue rasa Ge ."
" Berarti keputusan lo tepat " jawaban Gerald membuat Dave menoleh dengan dahi berkerut.
" Seperti yang lo bilang,Vea berasal dari keluarga terhormat. Gak mungkin dia bakal bertahan di sisi lo selamanya kalo lo gak berani menikahinya ". sambung Gerald.
" Dan sekarang gue memulai tantangan baru. Masuk ke dalam keluarga Dwilangga yang terhormat tanpa membawa apa itu kehormatan. Yang gue punya cuma cinta Ge, just it'' ucap Dave getir.
Penolakan adalah mimpi terburuk yang terus menghantui diri Dave. Kisah kelam kehidupan yang ia bawa bersama kisah hancur keluarganya. Menjadi perpaduan paling ia takutkan. Namun ia bisa apa ?, semua sudah terjadi. Tak ada yang bisa menghapuskannya.
" Jalani,hadapi. Gue percaya lo bisa menghadapi semuanya. Cinta mungkin bukan segalanya,tapi lo mesti yakin cinta itu bisa meruntuhkan segalanya. Buktinya lo. Ego lo yang menolak cinta, ternyata luluh dengan datangnya Vea." ucap Gerald memberi dukungan Dave tersenyum .
Meski masih ada rasa ganang menggelayut di hatinya. Tapi mendapat dukungan dari sahabat terdekat. Mampu menyakinkan tekad.
" Lo tahu gak ? , ekspresi Vea pas gue lamar ?. Binar matanya jelas banget kalo dia bahagia . Rasanya gue rela melakukan apapun di dunia ini untuk melihat binar bahagia di mata indahnya . " Dave bercerita dengan senyum tak lepas dari bibirnya. Membayangkan binar kebahagiaan di wajah sang kekasih meninggalkan rasa hangat di hatinya.
Gerald tak menyahut, ia hanya ikut tersenyum. Ia sangat bersyukur sahabatnya bisa menemukan cinta. Ia tahu betapa banyak luka di hati seorang Dave. Dia hanya berharap,Vea mampu menjadi obat di setiap luka yang mengangah di hati lelaki itu.
Dave terus berceloteh tentang kejutan romantis yang ia berikan untuk sang kekasih. Tanpa sadar ia telah jadi pendongeng yang mengantar Gerald dalam y
tidur lelapnya.
" Dasar bangkee,gue lagi cerita malah di tinggal tidur " sungut Dave yang menyadari sahabatnya telah berlayar di mimpi dalam tidurnya. Akhirnya Dave ikut tertidur di kamar Gerald.
Pagi menyambut dengan suasana cukup sendu. Mentari tampak enggan memperlihatkan keangkuhan sinarnya. Memilih bersembunyi di balik awan yang kelabu. Gemericik gerimis menambah syahdu suasana pagi.
Vea masih menikmati tidurnya di balik selimut tebal yang menggulung tubuhnya. Beberapa kali suara pintu di ketuk,namun Vea tak bergeming. Ia masih terlelap dalam tidur. Sampai akhirnya pintu yang menang tak di kunci itu terbuka.
Muncul sosok sepuh menghampiri ranjang Vea. Dialah Mbah yang di tugaskan sang nyonya rumah untuk membangunkan nona yang masih tidur meski hari tak lagi pagi.
" Non ,non Vea bangun non " ucap Mbah seraya menarik ujung selimut nona mudanya.
" Sebentar lagi mbah " sahut Vea masih dengan mata terpejam. Mbah tampak menggeleng, beliau menghampiri bagian jendela menarik korden, membukanya dengan perlahan.
" Ada yang nunggu lho non di luar " ujar Mbah masih membuka korden di jendela yang lain. Mendengar penuturan Mbah tampak Vea bangun .
" Siapa Mbah ?" tanya Vea penasaran.
" Lihat aja sendiri di luar,udah buruan sekarang mandi. Dandan yang cantik , terus turun , kasian sudah nunggu dari tadi " ucap Mbah yang melangkah hendak meninggalkan kamar Vea.
" Mbah ! " panggil Vea menahan langkah mbah yang sudah sampai ambang pintu. Menoleh pada nona mudanya tanpa menyahut.
" Dave ya Mbah ?" tanya Vea,Mbah hanya tersenyum kemudian berlalu. Vea yang belum yakin dengan siapa yang datang,hanya bisa mengerucutkan bibir kesal pada simbah yang sok misterius.
Vea meraih ponsel di atas meja,mungkin kekasihnya memberi kabar tentang kedatangannya. Namun tak ada satu pun notifikasi dari sang kekasih. Vea hanya menghela nafas kemudian beranjak ke kamar mandi.