If

If
Rencana Daren



Vea merasa ada yang aneh dengan kedekatan dua orang itu. Daren dan Renata,dua orang dari masa lalu dirinya dan Dave bertemu dan terlihat dekat. Ada apa di balik pertemuan itu ?. Sungguh ada banyak tanya yang tak mampu Vea temukan jawabannya.


Mungkinkah keresahan yang nampak di wajah kekasihnya ada hubungan dengan masa lalu mereka ?. Sekelebat tanya itu menghinggapi Vea yang kini telah duduk, mengambil tempat yang berjarak dari dua orang yang di kenalnya.


" Bu,bu Vea !" suara Diaz membuyarkan lamunan Vea.


" Ya ?" ucap Vea seraya menatap wajah Diaz yang tersenyum padanya.


" Mau pesan apa ?" tanya Diaz lembut pada sang atasan yang terlihat sedang melamun.


" Oh iya " ujar Vea yang kini menyadari telah berdiri seorang pelayan yang menunggu dirinya memesan menu makan siang. Vea memesan beberapa menu dan minuman untuknya.


" Ada yang ibu pikirkan ?" tanya Diaz saat pelayan meninggalkan mereka berdua. Ia merasa atasannya itu sedikit berubah semenjak masuk ke dalam restoran.


" Mas Diaz,lihat meja no 12" ucap Vea, membuat Diaz menolehkan kepala mencari tempat yang di maksud wanita itu.


" Ibu Renata dan Pak Daren ?" tutur Diaz serupa gumaman dengan mata lekat menatap dua manusia itu .


" Yah, menurut ku ada yang aneh. " ucap Vea yang kini menatap pada objek yang sama dengan sang asisten.


" Sama yang ibu pikirkan,saya juga berpikir demikian . Pak Daren yang kini jadi rival perusahaan Dwilangga group bertemu dengan Renata yang jelas masih menjadi bagian Dwilangga group. Terlalu mencurigakan, apa mungkin Renata adalah mata-mata dari Atmajaya group ?" ucap Diaz tersentak dengan pemikirannya sendiri. Mata lelaki itu tertuju pada Vea yang tampak mengangkat bahu.


" Usahakan Kak Aksa bertemu Renata. Kita lihat apa yang di mau wanita itu " ucap Vea. Obrolan mereka terpotong karena datangnya makanan yang mereka pesan.


" Kita makan dulu Mas ,biar nanti saja kita urus dua manusia itu" ujar Vea dengan nada sedikit ketus. Diaz tersenyum menanggapi,Diaz sadar ada tatapan tak suka dari atasannya pada dua orang itu. Bukan tatapan pada rival kerja,lebih dari itu.


Keduanya makan dalam diam, menikmati sajian yang menggunggah selera. Meski sesekali ujung mata Vea melirik dua orang yang kini beranjak meninggalkan restoran.


" Sepertinya mereka dekat " ucap Diaz menilai Daren yang keluar dari restoran dengan di gelanyuti tangan Renata di lengannya.


" Orang seperti mereka, mudah untuk dekat. Meski hanya semalam ". sahut Vea yang disambut kernyitan di dahi Diaz. Vea tertawa melihat kebingungan orang di hadapannya.


" Anda jangan pura-pura polos dengan tidak tahu maksud saya Mas Diaz " ucap Vea dengan nada bercanda. Dan tawa lebar Vea membuat Diaz terpaku. Sungguh sesuatu yang luar biasa untuk di nikmati. Ah, jantungnya seakan hendak melompat melihat wajah mempesona wanita di depannya.


" Lupakan Mas ,ayo kembali ke kantor saja. Banyak dokumen yang harus saya periksa. Saya ingin weekend ini bebas dari pekerjaan. Ingin me time di salon " ucap Vea seraya mengangkat tangan memanggil pelayan untuk membayar makan siang mereka.


Sudah beberapa pekan ia melewatkan akhir pekannya untuk mempelajari beberapa berkas. Meski tak sampai seharian seperti hari kerja,terap saja itu membosankan.


Dua orang itu keluar setelah membayar makan siang. Setelah sebelumnya terjadi sedikit perdebatan tentang siapa yang membayar makan siang. Diaz dengan egonya sebagai lelaki yang merasa gengsi di traktir dan Vea dengan sikap kuasanya sebagai atasan yang merasa seharusnya dia yang membayar.


Namun demi menyelamatkan ego Diaz, akhirnya Vea mengalah dengan syarat di lain waktu asistennya itu harus mau di traktir.


✨✨✨


" Aku tahu kamu masih menginginkan Dave, jadi kamu harus mendekati Aksara dan membongkar siapa Dave sebenarnya. Aku yakin keluarga mereka akan menolak Dave sebagai menantu jika tahu siapa Dave sebenarnya ,dan kamu bisa masuk kembali dalam kehidupan Dave, setidaknya sebagai pemuas lelaki itu.'' Tutur Daren saat dua manusia berbeda jenis kelamin itu berada di dalam mobil. Melaju sedang menembus padatnya jalanan .


'' Aku akan lakukan apapun untuk bisa mengambil Dave dari wanita itu " ucap Renata dengan percaya dirinya. Daren tersenyum smirk. Langkahnya menghancurkan Dave akan semakin sempurna jika lelaki itu juga kehilangan wanitanya.


'' Tunggu kehancuranmu Dave " bisik hati Daren, tanpa di ketahui wanita di sampingnya. Ia tidak perduli dengan obsesi wanita itu ia hanya perduli dengan kehancuran seorang Dave Mahendra.


Harga dirinya merasa benar-benar terinjak oleh Dave. Wanita yang menolaknya justru jatuh di pelukan Dave. Dan pukulan yang di layangkan lelaki itu padanya tak akan pernah ia lupakan.


''Jadi apa yang akan kamu berikan untukku sebagai imbalan,karena aku sudah memberimu ide brilian ?'' seringai Dave dengan tangan nakalnya yang telah merayap di paha mulus Renata. Renata tersenyum miring.


" Jangan pikir aku bodoh Daren,kamu memberi ku ide itu sudah pasti ada keuntungan yang kamu dapat " . balas Renata sembari menyingkirkan tangan Daren di pahanya.


Daren terbahak, meski tak tahu pasti apa tujuan Daren ternyata wanita itu bisa menebak pikirannya.


" Apapun tujuan ku,itu tidak penting. Yang penting, kamu tidak penasaran dengan punyaku ?" tanya Daren dengan muka mesumnya. Saat lampu lalu lintas menyala merah,Daren meraih tangan Renata dsn di bawanya menyentuh sesuatu di balik celana panjangnya.


'' Yakin tidak penasaran seberapa berbisanya ular ku ?" bisik Daren di telinga Renata dengan meninggalkan sebuah gigitan kecil fi daun telinga wanita itu. Renata menggelinjang, menerima sapuan lembut nafas Daren di tengkuknya.


Wanita itu menggenggam milik Daren hingga lelaki itu melenguh tertahan. Dan senyum mesum keduanya menjawab akhir perjalanan siang itu yang bisa di pastikan terdampar di hotel.