If

If
Amarah Dave



Brakkk Pyaar


Suara gaduh terdengar di sebuah unit apartemen. Meja terbalik dengan sempurna akibat tendangan lelaki yang kini sedang memegang kepalanya. Dadanya naik turun, emosi membuncah hingga kehilangan kendali diri. Kewarasannya menghilangkan seketika saat melihat pemandangan menyakitkan tepat di depan matanya.


Dialah Dave,yang seharian merindukan sang kekasih. Mendapat kabar wanitanya sedang ada acara membuatnya tak memaksa bertemu, namun sampai sore menjelang dan ponsel sang kekasih tak juga aktif,membuat dirinya resah.


Saat sampai malam datang dan tak ada kabar, akhirnya Dave menyambangi rumah kekasihnya. Setelah bertanya pada penjaga, ternyata wanitanya belum kembali,ia memutuskan untuk menunggu di mobil saja.


Sungguh kejutan yang sangat menghancurkan hatinya. Saat ia melihat seluet dari balik kaca mobil yang berhenti di depannya. Wanitanya di cium lelaki lain,dan di pelukannya. Meski ia tidak melihat Vea membalasnya namun rasa sakit itu menusuk dadanya.


Ia ingin sekali keluar mobilnya dan berlari. Mendobrak pintu mobil itu dan menghajar lelaki yang berani menyentuh miliknya. Namun akal sehatnya masih menguasai,ia tak mau membuat keributan malam-malam di komplek perumahan elit dengan keamanan cukup ketat. Ia memilih pergi dengan segala bara api yang menyulut emosinya.


Kini dengan penampilan yang super berantakan,Dave terpekur meratapi dirinya yang terasa hancur. Wanita yang paling dicintainya. Wanita yang membuatnya percaya akan cinta ternyata mengkhianati dirinya. Wanita yang telah ia jadikan dunianya kini meruntuhkan semuanya dalam sekejap mata.


Sakit di hatinya melebihi sakit di tangannya yang ternyata kini telah berdarah akibat ia yang berkali-kali meninju tembok untuk melampiaskan segala amarahnya.


Di tangannya kini tergenggam botol minuman. Ia hanya ingin mengalihkan segala lara di dada. Melupakan sejenak sakit yang menyiksa. Ia hanya ingin hilang kewarasannya saat ini. Melupakan cintanya, wanitanya dan semua rasa sakit yang menyiksa. Di teguknya minuman itu langsung dari botolnya.


Dave mulai mengigau, kesadarannya mulai menghilang.


'' Vea sakit,dadaku sakit Ve '' gumam Dave tak jelas seraya memukul dadanya sendiri. Meski kewarasannya menghilangkan,tapi sakit itu masih terasa.


Bayang itu tetap datang, dunianya runtuh seketika saat bayang menyakitkan itu menyapa. Saat ia menyerahkan seluruh hati,jiwa bahkan hidupnya untuk seorang wanita. Namun kini luka yang di dapatnya. Apakah seluruh hidupnya memang tercipta untuk luka ?. Dimana bahagia itu ada ?, tidakkah ia berhak sedikit saja mendapatkannya ?.


Baru saja,ia mencicipi manisnya madu cinta,saat ia mencoba berdamai dengan masa lalu. Kini justru pilu yang semakin menusuk jantungnya.


'' Arrrggh '' teriak Dave dengan air mata tanpa sadar lolos dari pelupuk mata. Ia terus saja memukul dadanya yang terasa begitu sesak.


'' Berengseek !!" Pyarrr , botol yang di pegang Dave melayang dan menghantam tembok.


Kesadarannya semakin hilang ,di ruang tamu yang berantakan bak kapal pecah. Akhirnya Dave terlelap,meringkuk di atas sofa dengan lelehan air mata yang jatuh di pipinya.


🧸🧸🧸


Pagi itu masih tampak suram. Awan mendung menyelimuti kota. Meski hujan tak turun , namun awan yang nampak kelabu membuat orang malas beraktifitas. Vea yang sudah sedari tadi bangun,duduk termenung di ranjang. Berkali-kali menatap ponsel yang di genggamannya. Semalam saat ia menghidupkan ponsel banyak chat dan panggilan dari sang kekasih. Namun saat ia membalas tak ada satupun balasan, bahkan masih tercentang abu belum berubah biru.


" Huufhh" Vea menghela nafas panjang, ia mencoba menghubungi sang kekasih. Namun kini hanya memanggil. Jelas nomer kekasihnya tak aktif. Ia menggigit bibirnya dengan perasaan bersalah. Saat ia menggigit bibir tangannya menyentuh benda kenyal itu. Rasa kesal pada sang sahabat menguasai seluruh ruang hatinya.


Entah sudah berapa puluh kali,Fardan mengirim chat dan melakukan panggilan. Tapi ia masih kesal dengan apa yang di lakukan oleh lelaki itu. Tak ada satupun yang ia balas dan angkat telpon dari Fardan.


Sekelebat bayangan wanita yang pernah ada di apartemen Dave membuatnya melotot sendiri. Kemudian bangkit dari tempat tidur.


" Jangan sampai yang aku pikirin kejadian. Awas aja kalau sampai iya " dengus Vea yang langsung masuk kamar mandi.


Tak terlalu lama wanita itu untuk membersihkan badannya dengan mandi. Karena kini,ia sudah keluar kamar mandi dengan handuk kimono membalut tubuh langsingnya .


Ia meraih hair drayer untuk mengeringkan rambut panjangnya yang basah. Setelah kering ia membuka lemari,mencari stelan kerja yang hendak di kenakan.


Setelah menemukan yang cocok, wanita itu memakai pakaian kerjanya, memoles tipis wajah cantiknya dengan make up. Merapikan rambut, kemudian memakai high heels, mengambil tas tergeletak di atas meja.


Menuruni anak tangga satu persatu. Suasana rumah besar itu memang selaku sepi. Apalagi di setelah Kak Aksara yang sejak beberapa hari lalu telah menempati rumah baru bersama istrinya. Semakin sepi saja istana itu.


" Pagi Ma, Pa !" sapa Vea pada kedua orang tuanya yang sudah duduk di meja makan.


" Pagi sayang " sahut Mama, papa hanya tersenyum menyambut putri cantiknya.


" Aku langsung berangkat ya Ma Pa,ada urusan sebentar sebelum ke kantor. " pamit Vea pada kedua orang tuanya.


" Lho buru-buru banget, sarapan dulu lah. Nanti kamu lupa gak sarapan lagi ". tutur sang Mama.


" Gak kok Ma,nanti Vea sarapan di kantor. Pergi dulu ya Ma " ulang Vea serata mengecup pipi sang Mama,dan memeluk sekilas ayahnya. Mama hanya menggeleng saja melihat anaknya yang pergi menjauh dan menghilang di balik pintu ruang makan.


Vea memasuki mobilnya yang telah si siapkan oleh penjaga rumah.


" Makasih ya pak " ucap Vea saat melintasi gerbang yang di bukakan oleh sang penjaga.


" Sama-sama non " sahut penjaga yang telah lama bekerja di rumah itu .


Vea melajukan mobilnya di padatnya lalu lintas pagi hari. Apartemen sang kekasih menjadi tujuannya sebelum pergi ke kantor. Ia penasaran apa yang di lakukan Dave sampai mengabaikan dirinya. Pikirannya berkelana,takut jika sang kekasih menghabiskan malam dengan wanita lain. Ia harus membuktikan sendiri,jika itu hanya pikiran buruknya saja.


Cukup lama ia terjebak di padatnya lalu lintas. Sampai kini akhirnya ia berhasil memarkirkan mobil di basemen apartemen Dave. Vea turun dari mobil, melangkah penuh percaya diri melewati lobby yang cukup ramai lalu lalang penghuni yang beraktivitas pagi.


Ia menaiki lift yang membawanya ke lantai dimana unit apartemen Dave terletak. Keluar dari lift dengan debar jantung yang berdetak kencang. Ia menghela nafas panjang, mengontrol debar jantungnya.


Berbekal kode pintu apartemen yang di berikan oleh kekasihnya,Vea dapat masuk tanpa harus mengetuk pintu. Matanya terbelalak kaget melihat ruang tamu yang hancur berantakan.


" Sayang " jerit Vea melihat lelakinya meringkuk di sofa dengan darah kering di punggung tangannya. Lelaki itu tak merespon kedatangan Vea, membuat wanita itu panik bukan main.