
Tok tok
Suara ketukan di pintu membuat Vea mengalihkan pandangan dari lembaran kertas di hadapannya.
" Ya ,masuk " perintah Vea,suara pintu di buka dan muncul Rini office girl di kantor itu.
" Permisi mbak,ini ada kiriman buat mbak Vea ." terang Rini sambil meletakkan bungkusan di meja Vea.
" Dari siapa ya Rin ?" tanya Vea seraya melongok isi bungkusan itu.
" Gak tau mbak,tadi saya nanya sama yang nganter gak di kasih tau".
" Makanan " gumam Vea.
" Saya permisi mbak ". pamit Rini .
" Oh iya, makasih ya Rin "
" Sama-sama mbak "
Vea menyingkirkan berkas yang berserakan di atas meja. Dilihatnya jam di pergelangan tangan. Sepuluh menit lagi istirahat. Dan kiriman makanan itu tepat sekali di waktu nya. Sepertinya pengirim sudah merencanakan dengan sempurna.
Vea membuka isi bungkusan itu. Steak,salad,orange jus,dan red Velvet cake. Menu lengkap,dan seperti nya dari restoran mahal. Vea mengernyit, berpikir siapa yang mengiriminya makanan.
'' Ve '' panggil Zee yang membuka pintu tanpa permisi.
" Lo Zee, kenapa ?'' Vea yang sedang membuka makanan itu melihat arah pintu. Mendapati Zee yang masuk keruangan nya.
'' Wuiiiih,mantep banget,Lo pesen dimana ?, '' bukan menjawab pertanyaan Vea,Zee lebih tertarik pada makanan di atas meja.
" Gak pesen gue,ada yang ngirim. Gak tau siapa ?''.
'' Ada pengagum rahasia juga Lo ?'' Vea hanya mengangkat bahu. Tidak terlalu perduli juga. Tapi pikirannya mengarah pada Dave. Lelaki yang tiba-tiba sering berada di sekitarnya.
'' Udah makan aja,ayok di makan bareng. Kali makanan ini ada jampi-jampi nya biar Lo ikutan kena " seloroh Vea. Zee mengikuti Vea yang memindahkan makanannya ke meja dekat sofa.
" Beneran Lo gak tau dari siapa ? ". selidik Zee yang merasa heran.
" Desainer interior Lo kayak nya". jawab Vea cuek. Seraya mengambil piring yang kebetulan ada di ruangan nya, piring yang biasa ia gunakan saat tak bisa makan di luar.
" Dave ?" . Vea mengangguk sambil menyiapkan makanan di piring.
" Beberapa hari ini dia sering buntutin gue,gak tau kenapa. Udah makan aja,masa bodoh dari siapa yang penting kenyang ". Zee hanya menggeleng pelan tapi tak urung menyantap makanan di hadapannya.
Dan mulai hari itu kiriman terus berdatangan setiap harinya. Makanan dan bunga sudah jadi langganan yang datang setiap hari. Vea mulai jengah dengan semua kiriman untuknya. Apalagi ia masih saja sesekali melihat Dave yang mengikutinya,tidak lagi sembunyi-sembunyi tapi terang-terangan.
"Zee,Lo punya nomer Dave ?" tanya wanita yang memakai blazer ungu pagi itu.
" Ada, kenapa ?".
" Pusing gue sama kelakuan dia lama-lama. Di kira gue mau jualan bunga apa tiap hari dikirim bunga ". kesal Ve dengan wajah memberengut.
" Cinta banget dia kayaknya sama Lo ".
" Cinta ?, cinta apaan. Asal Lo tau ya gue pernah mergokin dia lagi mesum sama cewek di lift. " jelas Vea membuat Zee membelalak.
" Serius ?"
" Iyalah, Casanova kayak dia gak kenal cinta. Penasaran aja palingan. "
" Atau ketagihan,karena baru Lo yang dia buka segelnya ?".
Vea tak menjawab ia hanya mendengus kesal. Mengingat ia pernah menghabiskan malam dengan lelaki itu membuatnya jengkel. Kenapa harus ia terjebak dengan lelaki itu. Kini ia seperti di bayang-bayangi Dave. Kekesalan di hatinya pada lelaki itu justru semakin menginginkan dirinya pada lelaki yang ia akui ketampanannya.
" Lo bilang deh,ketemu siang ini di cafe ".
" Lo aja yang chat gue kirim nomernya ke Lo ". sahut Zee. Tanpa memikirkan buntut dari kiriman chat pada Dave,Vea mengirimi pesan lelaki itu untuk bertemu jam makan siang di cafe yang tak terlalu jauh dari kantor Vea.
Mendapat chat dari Vea membuat Dave tersenyum lebar. Hatinya senang bukan kepalang mendapat ajakan wanita itu untuk bertemu. Di meja rapat,telinganya tak lagi mendengar stafnya yang sedang presentasi.
Tanpa bersusah payah ia sudah mendapat nomer Vea. Dan bonus bertemu wanita yang menghantui siang malamnya.
" Pak " panggil Marcell yang mendapati Dave tak merespon presentasi yang telah usai itu.
" Ya, kenapa ?" tanya Dave membenarkan posisi duduknya. Melihat ke depan dan bingung harus menanggapi apa .
" Cell,Kamu terusin rapatnya,saya ada perlu sebentar. Penting". Ucap Dave seraya berdiri dan meninggalkan meja rapat.
Semua anggota rapat hanya bisa bengong dengan kelakuan bos mereka . Marcell hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengambil alih tugas bosnya.