If

If
Hari Ini Saja



Fardan mengumpulkan keberanian,meraih tangan wanita itu. Rasanya menyesakkan melihat Vea menangis. Fardan menyadari kekagetan Vea saat dirinya menggenggam lembut tangan itu. Meski ia tak menatap wajah Vea,ia menyadari bahwa Vea kini menatapnya.


" Jangan nangis,aku gak mau kamu nangis. Kamu gak ada salah apapun, please jangan minta maaf sama aku.'' lembut Fardan,bukan menghentikan tangis Vea namun wanita itu semakin terisak.


Fardan memilih menepikan mobil saat melewati taman kota. Ia menatap Vea yang menunduk dengan air mata tak henti mengalir. Di raihnya bahu Vea dan di bawanya wanita itu dalam pelukan. Vea semakin terisak, ia merasa sangat bersalah pada lelaki ini.


'' Please Ve, jangan gini. Aku gak bisa lihat kamu gini Ve. Aku gak mau jadi alasan kamu nangis '' ucap Fardan seraya mengusap lembut kepala Vea.


'' Kenapa Dan ?, kenapa harus aku ?'' tanya Vea dengan nada bergetar. Rasa bersalah menelusup ke dalam hatinya. Ia tak bisa membalikkan hati untuk mencintai lelaki ini. Namun mengetahui ada cinta yang besar di diri lelaki yang ia labeli sahabat ternyata membuat hatinya merasa bersalah.


" Karena seperti kamu mencintai Dave Ve, begitu juga aku. Aku tidak bisa memilih pada siapa hatiku terjatuh. Tapi aku tidak pernah menyesal menjatuhkan hatiku padamu. Meski aku tak pernah bisa meraih cintamu. " ucap Fardan. Ia melepas pelukannya, menatap wajah Vea,dan menghapus linangan air mata di pipi wanita itu. Fardan tersenyum manis.


" Hanya satu hal yang aku minta dari kamu Ve. Bahagia,kamu harus bahagia . Maka aku tidak pernah menyesal mencintai kamu dan melepaskannya". ucap Fardan dengan tatapan saling mengunci. Vea mengangguk pasti. Yah,dia akan bahagia, sebagai balasan cinta yang begitu besar dari lelaki yang menatapnya penuh cinta.


Kembali Fardan merengkuh tubuh wanita di hadapannya. Memeluknya penuh perasaan, menyalurkan semua rasa cinta yang ia miliki untuk wanita itu. Fardan memejamkan mata, menikmati detik ia bisa merengkuh tubuh itu. Mungkin untuk terakhir kali. Kali ini saja,ia ingin memeluknya penuh kehangatan.


" Kali ini saja Ve,kali ini saja ijinkan aku memelukmu lebih lama. Mungkin ini untuk yang terakhir" bisik Fardan di telinga Vea. Vea hanya mengangguk di bahu Fardan.


Biarkan ia menjadi wanita jahat tak berperasaan untuk kali ini saja. Ia menerima pelukan Fardan sebagai lelaki yang mencintainya. Bukan sebagai sahabat yang selalu bertukar segala kisah. Untuk kali ini saja, biarkan Fardan merasakan kehadirannya sebagai wanita yang dicintainya. Bukan Vea sahabat yang sekalu di lindungi.


Biarkan nama Dave tersingkir sejenak dari hati Vea. Ijinkan kali ini saja ia berbuat melewati batas. Entah kegilaan apa yang melatarinya,Vea melepas pelukan Fardan. Menatap lelaki itu dengan senyum mengembang.


" Kita ngedate hari ini, ijinkan aku jadi wanita berengseek untuk hari ini saja." ucap Vea menatap lekat Fardan. Lelaki itu tertawa getir.


" Oke,dan hari ini biarkan aku jadi lelaki bodoh yang pura-pura tidak tahu tentang perasaan kamu." Senyum keduanya mengembangkan.


Lupa sudah tujuan awal mereka hendak ke rumah Fardan. Kini keduanya menyusun rencana kencan sehari mereka. Vea mematikan ponsel setelah sebelumnya mengabari Dave kalau dia sedang ada acara.


Mereka sedang ingin menggila hari ini. Vea hanya ingin sehari saja menjadi kekasih sang sahabat. Dan Fardan ia hanya ingin menikmati keegoisannya saja. Memiliki Vea meski hanya untuk sehari. Untuk terakhir kali,sebelum ia benar-benar harus menepi dari kehidupan seorang Alivea.


'' Karena waktu aku datang kamu baru bangun tidur,itu artinya kamu belum makan. Jadi kita makan dulu '' ucap Fardan seraya menyalakan mobil dan keluar dari area parkir.


" Dulu aku selalu ingin melakukan ini,tapi gak ada keberanian. Sekarang meski hanya pura-pura biarkan aku menikmatinya Ve " ucap Fardan seraya mempererat genggamannya. Vea hanya bisa tersenyum hambar. Hatinya bergelut, tentang apa yang sedang ia lakukan.


Sisa perjalanan ,mereka hanya saling diam. Fardan sedang menikmati detak jantungnya yang membuncah. Ingin ia mengikis rasa itu namun nyatanya rada itu masih sama. Persis seperti dulu ia pertama menyadari hatinya terpaku pada wanita yang tangannya kini dalam genggaman.


Sampai di sebuah restoran, Fardan berlaku romantis dan gentleman . Membukakan pintu untuk Vea dan menggandeng tangan kekasih seharinya. Berjalan dengan senyum merekah memasuki restoran yang masih belum terlalu ramai. Karena ini waktu nanggung,belum waktunya makan siang dan terlalu siang untuk di sebut sarapan.


Fardan menarik sebuah kursi untuk Vea. Mempersilahkan wanita itu untuk duduk .


" Thank you ". ucap Vea dengan senyum di bibirnya.


" You are welcome, pretty " sahut Fardan, membuat hati Vea serasa mencelos. Ia justru semakin merasa bersalah dengan lelaki yang kini di hadapannya.


Keduanya memesan makanan, Vea yang memesan steak langsung di potongkan oleh Fardan. Bukan hal baru untuk Vea di perlakukan dengan manis. Karena Dave pun selalu melakukannya. Namun rasa sesak menyapa hatinya saat menerima perlakuan itu dari sang sahabat.


" Kenapa kayak yang tegang gitu Ve ?, aku jadi ngerasa bersalah " ucap Fardan yang menyadari perubahan wajah Vea. Vea meraih tangan Fardan yang berada di atas meja. Di genggamannya tangan lelaki itu .


" Maaf, hanya belum terbiasa saja. Hari ini aku milik kamu. Lakukan semua yang pernah kamu angankan" ucap Vea seraya tersenyum lembut.


Fardan mengangguk pasti, biarlah hanya sehari,tak apa pikirnya. Ia hanya ingin menuntaskan segala resah jiwanya yang telah lama menyimpan sejuta angan pada wanita cantik yang kini masih tersenyum menatapnya.


Mereka makan dengan tenang, seperti sepasang kekasih yang romantis. Fardan selalu sigap dengan segala yang Vea butuhkan. Bahkan sampai saat Vea makan sedikit berantakan menyisakan makanan di ujung bibirnya dengan lembut Fardan menghapus dengan tissue.


Usai makan mereka pergi dari restoran. Tak pernah lepas genggaman Fardan di tangan Vea. Ia benar-benar menikmati peran kekasih seharinya.


Biarlah sehari ini saja ia menjadi lelaki bodoh yang menutup rapat hatinya. Mengingkari kenyataan bahwa Vea tak pernah mencintai dirinya. Biarlah ia menganggap wanita itu memiliki rasa yang sama.


Sehari ini saja, cukup sehari ia membutakan mata,hati dan cintanya. Setelah ini ia akan benar-benar melepas Vea dengan rela. Mengikis semua rasa yang mengungkung hatinya. Menepi dari gelombang rasa yang menenggelamkan jiwanya. Berharap ada cinta yang meraih tangannya dengan cinta yang sama. Tak lagi merasa cinta yang hanya sebelah.