
Secangkir kopi yang masih mengepulkan asap tampak menemani seorang lelaki yang sedang duduk termangu di balkon. Menatap hilir mudik kendaraan yang lalu lalang di pagi yang cerah itu. Namun sepertinya mendung menghinggapi hati lelaki itu. Terlihat beberapa kali ia menghela nafas panjang.
Sampai sebuah tepukan keras di pundaknya membuat ia menoleh seketika. Senyum sang sahabat menyambut kelam harinya.
'' Ngapain lo, malem-malem dateng gak tau waktu''. sungut Gerald yang semalam dirusuhi Dave yang tiba-tiba masuk ke apartemennya. Karena Gerald yang saking ngantuk nya semalam tak meladeni sang sahabat dan memilih melanjutkan tidur.
'' Lagi pusing gue '' sahut Dave yang menampakkan wajah serius. Gerald mengernyit mendapati wajah kusut sang sahabat. Ia duduk di samping Dave yang tampak datar menatap tanpa arah.
'' Vea ?'' tebak Gerald yang paham,tak ada yang lebih penting dari hidup sahabatnya selain wanita bernama Vea itu. Dave mengangguk pelan.
'' Bokapnya gak kasih ijin buat gue ngelamar dia '' ucap Dave dengan bada getir.
'' Bukannya lo kemarin bilang,asal lo bantuin di perusahaan dia, restu udah lo dapetin ?'' tanya Gerald yang baru beberapa hari lalu mendapat cerita itu dari sahabatnya lewat chat.
'' Iya, gue juga udah percaya diri banget semua bakal berjalan lancar. Tapi tiba-tiba semalam secara gak langsung gue ngerasa tertolak. Gue udah rencanain semua Ge, lamaran gue, nikahan gue. Tapi tiba-tiba gue belum di bolehin ngelamar Vea dan lo tau alasannya ?, kerjaan " geram Dave sambil menghempaskan punggung di sandaran kursi. Ia benar-benar tak habis pikir .
" Menurut lo itu cuma alasan ?" tanya Gerald yang masih menatap lekat sahabatnya yang sedang di kuasai emosi.
" Jelas, mungkin karena latarbelakang gue alasan sebenarnya " getir Dave dengan senyum sumir . Gerald hanya bisa menepuk bahu Dave. Memberi dukungan pada sahabatnya yang ia tahu sedang dilanda rasa kecewa.
" Apa orang kayak gue tuh gak berhak buat bahagia Ge ?" pertanyaan dengan nada putus asa mengalir sendu dari bibir lelaki yang hatinya terluka.
" Berhak Dave lo berhak bahagia. Gue yakin ini cuma cara biar lo dapetin bahagia yang setimpal. Dan gue percaya lo bisa lewatin semua ini ". ucap Gerald yakin. Dave hanya tersenyum samar.
Ia pun tak akan pernah menyerah apapun alasannya. Vea tak akan pernah ia lepas dari hidupnya, katakanlah cintanya telah menjadi sebuah obsesi. Namun sungguh memiliki Vea adalah tujuan akhir hidupnya. Ia tak pernah bisa membayangkan jika harus melewati sisa hidupnya tanpa wanita itu .
" Udah lo mandi dulu,biar seger tuh otak. Biar bisa mikir gimana ambil hati calon bapak mertua " ucap Gerald yang rasanya tak nyaman melihat wajah melankolis Dave. Lelaki yang tak pernah sekalipun memusingkan wanita,kini terjebak dalam sebuah hubungan yang memporak-porandakan hatinya.
" Buntu otak gue,pngen terbang lupain semuanya " ucap Dave seraya menengadah dengan mata terpejam. Gerald hanya bisa menghela nafas panjang. Menatap prihatin sahabatnya itu.
Suara ketukan pintu tak kunjung berhenti di luar kamar Vea. Wanita itu memilih membungkus tubuh dalam selimut tebal di kamar. Mengabaikan ketukan di daun pintu.
" Non,non Vea. '' suara dari wanita sepuh yang mengasuhnya. Akhirnya membuat Vea membuka selimut yang menutupi dirinya.
'' Mbah '' ucap Vea yang mendapati Mbah yang berdiri di depan pintu dengan seulas senyum lembut. Setelah ia membukakan pintu.
''Makan dulu non !" pinta Mbah dengan lembut. Vea tersenyum getir.
'' Nanti Mbah Vea belum laper '' ucap Vea memberi alasan.
Mbah tak lagi meminta, wanita sepuh itu menyelipkan rambut Vea di belakang daun telinga. Menatap dengan penuh kasih sayang pada anak sang majikan.
'' Ada apa non ?'' tanya Mbah yang mengerti ada yang tidak baik-baik saja pada Vea . Vea merengkuh tubuh rentah itu dalam pelukan.
" Vea lagi pengen di peluk Mbah '' ucap Vea,Mbah langsung membalas pelukan Vea dan menepuk pelan punggung sang anak majikan. Tak ada kata yang terucap dari wanita dua berbeda generasi itu. Vea yang hanya butuh ketenangan dalam dekapan. Sedang si Mbah tidak tahu harus berbuat apa.
Mama Atika yang sedari tadi khawatir dengan keadaan sang anak kini termangu di tempat. Saat ia hendak menyusul si Mbah untuk membujuk Vea keluar kamar, matanya mendadak mendapat pemandangan yang membuatnya teriris pilu.
Wanita itu hanya bisa bersandar pada tembok di dekatnya, terpejam menikmati sesal yang menghujam hati . Bagaimana ia sebagai ibu tak pernah menjadi pilihan anaknya untuk berkeluh kesah ?. Dan lihatlah betapa nyaman sang anak dalam pelukan wanita yang tak melahirkannya.
'' Selama ini aku sudah terlalu egois, sudah saatnya aku turut memperjuangkan kebahagiaan putriku. '' lirih Mama Atika. Ia bertekad akan meluluhkan hati sang suami agar memberi restu dengan tangan terbuka untuk Dave dan Vea.
Ia sudah terlalu banyak menyia-nyiakan waktu untuk sekedar memenuhi kebahagiaan diri sendiri. Ia melupakan anak yang masih butuh kasih sayangnya. Hingga kini sang anak jauh lebih dekat dengan pengasuh nya daripada dengan dirinya.
Ia berjanji dalam hatinya, akan memperjuangkan sesuatu yang layak di dapat sang putri. Dan saat ini yang jelas sumber kebahagiaan Vea adalah Dave. Maka Mama Atika berjanji akan membujuk sang suami untuk melupakan tentang latar belakang Vira. Demi kebahagiaan sang anak ia harus bisa menurunkan ego diri.