
Terkesima, selalu saja itu yang Dave rasakan setiap melihat penampilan memukau wanitanya. Seperti malam ini,Vea mengenakan dress selutut dengan lengan panjang yang membentuk lekuk indah tubuhnya. Model off solder memperlihatkan leher dan bahu putih mulusnya.
Hak tinggi yang di kenakan wanita itu menambah kesan feminim dan terlihat anggun menunjang tubuh tinggi semampai nya. Rambut yang ia biarkan tergerai tampak mempesona, ditambah kecantikan alami yang di miliki wanita itu. Sapuan make up tipis justru memperjelas kecantikan yang di miliki oleh Alivea.
Dave hanya bisa menelan kasar ludahnya menatap wanita yang begitu menggoda di hadapannya. Wanita yang tersenyum manis menyambut kedatangan sang pangeran.
'' You look so beautiful, honey !" puji Dave tanpa berkedip,Vea memalingkan wajahnya yang bersemu merah karena pujian dan tatapan memuja kekasih nya .
Dave menarik pinggang Vea membuat tubuh Vea menempel padanya. Tatapan keduanya bertemu saling menatap dalam. Dave menyusuri wajah kekasihnya dengan sentuhan lembut. Sampai di bibir Vea lelaki itu mengusapnya dengan perlahan. Ingin ia menyesap dan melumaat nya. Namun ia tak yakin akan rela keluar dari apartemen sang wanita.
'' Arrgh, rasanya aku gak rela bawa kamu keluar " ucap Dave frustasi seraya melonggarkan pelukan. Vea tersenyum menanggapi Dave yang tampak kelimpungan sendiri.
'' Kenapa ?'' tanya Vea lembut,dengan wajah menengadah menatap Dave yang masih merengkuh dirinya,namun tak seerat tadi.
''Karena kamu terlalu cantik ,sayang '' ucap Dave , kemudian menarik tubuh Vea dan memeluknya dengan posesif. Vea tersenyum samar dalam dekapan lelakinya.
'' Jadi pergi gak ?'' tanya Vea yang sudah cukup lama di peluk oleh Dave dan kecupan yang berkali-kali di sematkan lelaki itu di puncak kepala.
'' Gak usah pergi,gini aja aku pengen peluk kamu terus '' sahut Dave yang dihadiahi cubitan mesra di perut datarnya.
'' Aaww sakit Yang '' seru Dave yang langsung melepas pelukannya.
'' Syukurin,udah dandan cantik gini enak aja cuma di peluk-peluk'' sungut Vea seraya menyambar tas tangannya dan berlaku. Diikuti Dave yang terkekeh,melihat wajah gemas wanitanya yang merajuk.
'' Duh gemesin banget sih, sayangnya aku ini " goda Dave dengan membubuhkan kecupan di pipi Vea. Kemudian menarik pinggang sang wanita untuk di peluknya dari samping. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan Dave setiap kali berjalan bersama sang kekasih.
Keduanya meninggalkan apartemen Vea , menjelajah malam yang baru saja menjelang. Dengan mobil yang Dave kemudikan dengan pelan. Obrolan ringan mengisi sepanjang perjalanan sepasang kekasih.
" Sayang, mampir dulu di toko kue di depan sana '' ujar Vea yang seraya menunjuk sebuah nama toko kue yang tak jauh dari keberadaan mereka sekarang.
'' Buat apa Yang ?'' tanya Dave menatap sejenak sang kekasih.
'' Hehege maaf Yang gak kepikiran " ucap Dave dengan cengiran di wajahnya.
Dave memarkirkan mobilnya, tepat di depan toko kue. Dave menunggu dalam mobil membiarkan Vea turun sendiri dan membeli kue yang wanita itu inginkan. Karena sesaat tadi ketika Vea menanyakan kira-kira kue apa yang di suka oleh mamanya, Dave tak bisa menjawab.
Ia tak tahu selera sang Mama, begitu pula sebaliknya. Kini lelaki itu tersenyum miris seraya matanya mengawasi sang wanita dari balik kemudi mobilnya. Kalau bukan karena wanita yang kini sedang tersenyum ramah pada pelayan toko itu. Mungkin tak pernah terlintas dalam benaknya untuk berdamai dengan orang yang ia panggil Mama.
Secara tak langsung Vea membuat dirinya ingin berdamai dengan masa lalu. Ingin memberikan yang terbaik versi dirinya untuk wanita terindah di hidupnya. Wanita yang kini telah kembali duduk di sampingnya dengan cake yang ia tenteng di tangan.
Dave kembali menjalankan mobilnya , perlahan menembus jalanan yang masih cukup padat. Perjalanan makan itu lumayan lama. Hampir satu jam akhirnya Dave memarkirkan mobil di sebuah halaman yang tidak terlalu luas dengan sebuah rumah bertingkat dua dengan gaya minimalis yang manis.
Vea mengatur ritme jantungnya yang berdetak sedikit lebih cepat. Bertemu wanita yang telah berjasa menjadi perantara lahirnya sang pangeran ke dunia membuat dirinya sedikit gugup.
'' Yang " suara Dave mengalun lembut di telinga Vea membuat Vea langsung menoleh dan tersenyum canggung pada sang kekasih yang sudah membukakan pintu dan mengulurkan tangan untuk menuntun kekasihnya turun. Vea menyambut uluran tangan Dave,turun dengan sedikit berhati-hati.
'' Kenapa gugup ?'' tanya Dave setelah wanitanya keluar dari dalam mobil dengan wajah yang terlihat gugup.
'' Sedikit '' ucap Vea sembari menarik nafas panjang,mencoba menenangkan debar jantungnya. Dave tersenyum melihat tingkah sang kekasih. Di belainya pipi Vea dengan sayang.
''Gak usah khawatir semua bakal baik-baik saja '' ucap Dave meyakinkan. Dan dengan sebelah tangan membawa tas miliknya, sebelah tangannya lagi dalam genggaman sang lelaki. Paper bag berisi cake sudah beralih di tangan Dave.
Dengan satu kali memencet bel,pintu segera terbuka. Memperlihatkan sosok cantik di usia yang tak muda. Wanita cantik , anggun dengan pancaran wajah yang lembut menyambut kedatangan keduanya.
Melihat apa yang tampak di hadapannya kini serasa mustahil wanita yang terlihat karismatik dengan wajah keibuan yang tampil sederhana tega meninggalkan sang anak demi ego.
'' Ah,kalian sudah datang. Ayo masuk !, sudah Mama tunggu dari tadi '' sambut wanita cantik itu.
Vea tersenyum canggung, begitu pula sebenarnya yang di rasa Dave. Ia masih belum terbiasa dengan kehadiran sang Mama. Namun ia harus benar-benar bisa berdamai dengan masa lalu,ia tak ingin terjerat oleh rasa benci yang menggerogoti setiap sendi kehidupannya.