If

If
Sad Boy



Kencan sehari itu berakhir dengan sebuah makan malam romantis,entah kapan Fardan menyiapkan semuanya. Yang pasti kini keduanya duduk di sebuah ruang VIP salah satu restoran terkenal. Makan malam di temani lilin sebagai pencahayaan. Suara denting piano sebagai latar musik yang mengalun begitu romantis.


Mereka duduk berhadapan, makanan telah tersaji di hadapan mereka. Fardan seperti tak mau kehilangan satu moment pun malam itu. Ia lebih banyak menatap wajah ayu di hadapannya.


'' Jangan liatin kayak gitu terus dong Dan '' ucap Vea yang merasa kikuk terus di tatap oleh Fardan. Fardan menanggapi dengan senyum terkembang.


'' Kamu cantik banget" ucap Fardan tanpa melepas pandangan dari Vea ,Vea tampak membuang pandangan.


Sebelum makan malam tadi mereka menyempatkan diri datang ke butik untuk membeli gaun yang di gunakan saat makan malam.


Sampai makan malam selesai mereka lebih banyak diam. Vea merasa sedikit canggung mendapati Fardan yang enggan berpaling. Terus menatap dirinya. Tatapan mata Fardan yang begitu dalam, menyadarkannya betapa ia telah menyakiti hati lelaki ini dengan begitu dalam.


" Ve,satu hal yang sejak dulu aku angankan semenjak aku merasakan perasaan ini ke kamu. Melamar mu dengan romantis. Ternyata takdir tak pernah mengijinkan itu untukku. Tapi please terima ini sebagai kenangan, kalau aku pernah ada di hidup kamu. Bukan hanya sebagai sahabat,tetapi sebagai lelaki yang mencintai seorang wanita " ucap Fardan seraya mengulurkan sebuah kotak persegi panjang. Entah kapan lelaki itu membelinya. Tiba-tiba saja sudah ada di balik saku celananya.


Vea tercekat, memandang nanar kotak perhiasan di hadapannya. Dengan perlahan,ia membukanya. Sebuah kalung cantik di dalamnya. Gemuruh hati Vea semakin menggelegar,rasanya ia tak pantas di perlakukan semanis ini. Padahal jelas lelaki itu tahu kini ia hanya sedang mempermainkannya.


" Aku gak mungkin kasih kamu cincin, karena aku juga gak mau ada dua cincin di jari manis kamu. Aku pakaikan ya ?" Vea hanya mampu mengangguk,rasa sesak di dadanya hampir tumpah. Namun ia menahannya semampu dia bisa. Fardan berdiri dan mendekati Vea. Memasangkan kalung cantik itu di leher jenjang milik Vea.


Fardan masih membungkuk,tersenyum puas melihat kalung itu terpasang cantik di leher wanita yang begitu ia puja.


'' Untuk malam ini saja,tolong pakai ya. Kalau besok mau kamu lepas tidak apa-apa'' ucap Fardan, setitik air bening sukses meluncur di pipi Vea. Ia membalikkan badan dan menubruk lelaki tampan itu. Fardan tetap membungkuk menerima pelukan wanita itu. Vea semakin terisak di pelukan Fardan.


'' Maaf Dan,maaf '' hanya kata itu yang terus meluncur dari bibir Vea. Ia sudah menorehkan luka yang begitu dalam pada sahabatnya.


" Sssttt,jangan minta maaf. Perasaan kita bukanlah sebuah kesalahan. Hanya takdir saja yang tak menuliskan untuk kita bersama sebagai pasangan. Tapi selamanya Aku sahabat kamu Ve. Selamanya." ucap Fardan uang diangguki Vea yang masih dalam pelukan sang sahabat.


Fardan melepas pelukan mereka. Menyeka air mata Vea, menatap wajah sayu itu penuh cinta.


" Mau dansa denganku ?" tanya Fardan yang hanya mampu di angguki okeh Vea. Fardan meraih tangan Vea membawanya berdiri. Diiringi alunan piano,kini Fardan dan Vea menggerakkan badan. Berdansa mengikuti irama, Fardan terus tersenyum menatap lekat Vea yang menunduk.


Andai waktu bisa ia hentikan saat ini,ingin dirinya menghentikan perputaran sang waktu. Ia ingin ini selamanya. Mendekap wanita terkasihnya, mencurahkan segala cinta yang telah lama terpendam di dada.


Namun takdir tak berpihak pada hatinya. Biarkan rasa ini tersirat di hati tanpa bisa tersurat dalam akte pernikahan. Biarkan rasa ini tumbuh liar hingga akhirnya gersang dan mati sendiri. Meski menyesakkan namun ia yang memilih pada cinta yang ia agungkan. Setidaknya sampai wanita yang dicintainya menemukan kebahagiaan.


" Untuk ?"


" Untuk hari ini, terima kasih memberiku hari terindah ini. Akan ku simpan dalam memori sebagai kenangan terindah dari kamu." Mata keduanya bertemu tatap cukup lama. Fardan dengan tatapan penuh cinta,dan Vea dengan tatapan sendu . Menggambarkan hatinya yang pilu. Hati yang merasa bersalah atas luka di hati sahabatnya.


Pukul sembilan malam, akhirnya dua orang dewasa itu keluar dari restoran. Fardan mengantarkan Vea pulang. Sepanjang jalan hanya diam. Tak ada percakapan yabg keluar dari bibir keduanya.


Fardan masih menggenggam tangan Vea. Menyalurkan gundah yang berkelana di dada. Ia menyadari setelah ini hatinya tak akan baik-baik saja. Ia tahu akan ada lara yang membelit hatinya . Namun tak ia pungkiri,ia menikmati hati ini. Meski ia menyadari telah membodohi diri.


" Sudah sampai" ucap Fardan menghentikan laju mobil di luar gerbang kediaman Vea. Ia melepaskan tangan Vea. Membiarkan wanita itu membuka sabuk pengaman.


" Makasih ya udah nganter pulang " ujar Vea dengan seulas senyum. Fardan membalasnya dengan anggukan kecil dan senyum tipis.


Vea hendak membuka pintu mobil Fardan,saat lelaki itu tiba-tiba menarik lengannya. Vea tersentak, membalikkan badan menatap Fardan yang menatapnya tajam. Dengan gerakan cepat,Fardan menempelkan bibirnya di bibir Vea. Vea melotot tak percaya dengan apa yang di lakukan lelaki itu.


Tak lama pertemuan benda kenyal itu,hanya sebuah kecupan singkat saja. Tapi cukup membuat Vea shock.


" Dan !" sentak Vea sambil menggeleng tak percaya, matanya berkaca-kaca. Fardan reflek meraih tubuh Vea melihat wanita itu terluka hatinya.


" Maaf,maaf Ve " sesal Fardan, Vea terdiam kaku dalam pelukan lelaki yang masih ia anggap sahabatnya.


" Aku masuk dulu " hanya itu ucapan Vea. Fardan hanya bisa pasrah, melepas wanita yang dicintai yang ia lukai harga dirinya. Fardan hanya mampu menatap nanar langkah Vea yang menghilang di balik gerbang.


" Arrrggh " teriak Fardan tertahan. Ia memukul setir mobil dengan air mata yang tak mampu ia bendung.


" Bodoh lo Dan bodoh '' umpatnya pada diri sendiri. Kemudian ia menelungkupkan kepala di kemudi mobil. Ia merutuki kebodohannya, sungguh ia telah hilang kendali. Kelakuannya sudah pasti meninggalkan luka untuk Vea.


" Maaf Ve, maaf " ucapnya dengan tangis yang tak dapat lagi ia tahan. Ia tergugu sendiri,dengan rasa sesal yang menjejali hatinya.


" Kamu pasti benci banget sama aku Ve,aku harus gimana ?" ia terus berbicara sendiri. Meremat rambutnya, melampiaskan rasa sakit di dadanya karena membuat wanita yang dicintainya terluka karena ulahnya.


Setelah cukup lama terdiam dalam penyesalan tak berujung. Akhirnya Fardan kembali menyalakan mesin mobilnya. Pergi dari depan rumah Vea dengan belenggu sesal yang menjejali hatinya. Semua kenangan indah seharian ini harus ternoda oleh kelakuannya yang berdasar hasrat semata.