If

If
Beri Sedikit Waktu



Siang itu Dave dan Vea makan siang bersama. Tak terlalu banyak yang mereka bicarakan. Dave masih merasa risau sendiri dengan hubungan yang ia jalani. Ia terlalu- takut untuk kehilangan wanita yang kini duduk di hadapannya.


Vea menggenggam tangan Dave,menyadari kerisauan yang tergambar di sorot wajah itu.


'' Apa yang kamu takutkan Yang ?'' tanya Vea. Mereka masih menunggu pesanan yang belum datang di meja mereka .


'' Satu-satunya hal yang saat ini aku takutkan adalah kehilangan kamu '' ucap Dave dengan tatapan dalam pada wanita pujaannya. Vea tersenyum menanggapi ucapan sang kekasih.


Dave mengalihkan pandangan, menatap keluar restoran. Pandangannya tertuju pada empat orang yang berjalan berdampingan,dua orang dewasa lelaki dan wanita,dan dua lagi anak-anak seorang gadis kecil yang di gendong lelaki dewasa. Dengan manjanya gadis itu bergelayut di leher sang ayah. Yang satu lagi bocah lelaki sekitar sepuluh tahun, berjalan dalam gandengan sang ibu. Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat.


Vea yang melihat perubahan raut wajah sang kekasih mengikuti arah pandang Dave. Vea ikut tersenyum, melihat sebuah gambaran keluarga kecil yang bahagia.


'' Apa menikah sebahagia itu ?'' tanya Dave yang entah di tujukan pada siapa.


'' Bahagia tidak bahagia nya sebuah pernikahan tergantung bagaimana menjalaninya. Setidaknya itu yang aku lihat di sekelilingku. Mereka yang tampak harmonis bukan berarti tak pernah berselisih. Tapi mereka tahu bagaimana cara menyelesaikan setiap permasalahan.'' sahut Vea. Percakapan mereka terhenti saat pelayan mengantarkan pesanan mereka.


Setelah meletakkan pesanan sang pelayan undur diri dan mempersilahkan untuk menikmati makan siang mereka. Vea mengucapkan terima kasih. Kemudian menatap steak daging yang tersaji di depannya. Saat ia hendak memotong,Dave dengan cekatan mengambil piring Vea dan memotongnya. Kemudian di kembalikan lagi dalam bentuk potongan kecil yang siap di santap Vea.


'' Thank you Honey '' ucap Vea .


" You are welcome sweetie '' keduanya melahap makan siangnya dalam diam.


Usai makan siang Dave mengantar Vea kembali ke kantor. Pembahasan mereka belum selesai tentang pernikahan. Dave mulai terusik,benteng tinggi yang ia bangun untuk menghindar dari pernikahan nyatanya sedikit demi sedikit runtuh. Mengenal wanita di sampingnya membuat ia menilik ulang segala sesuatu yang dulu sangat ia yakini. Tak akan pernah jatuh cinta dan menikah. Tapi kini hatinya telah jatuh bahkan tersungkur pada satu wanita. Dan ia pun mulai memikirkan sebuah pernikahan.


" Apa harus dengan menikah untuk menjadi akhir dari sebuah perjalanan cinta ?"


" Menikah bukan akhir dari perjalanan cinta, tapi awal dari sebuah hubungan baru. Dimana pernikahan itu sebagai wadah dimana cinta itu akan terus dirawat dan tumbuh hingga berkembang,atau di biarkan layu hingga mati . Cinta itu fana,tidak bisa kita pastikan akan terus sama selamanya. Bisa saja saat ini cinta mati,tapi di kemudian hari akan jadi benci setengah mati. Dan menurutku pernikahan bisa menjadi sebuah pengikat,saat cinta mulai goyah dan tergoda". ucap Vea panjang lebar.


" Tapi nyatanya masih banyak yang berpisah meski telah menikah ". sangkal Dave .


" Karena terkadang masih mengedepankan ego,tak ada yang mau mengalah. Yang aku lihat dari pernikahan orang tuaku, adakalanya mereka berseteru mempertahankan ego masing-masing. Namun di lain waktu mereka akan duduk bersama dan membicarakan apa yang sebaiknya dilakukan. Jadi kesimpulan yang aku ambil, menikah itu bukan lagi tentang aku dan kamu tapi kita. Selama masih berjalan seimbang maka tak akan timpang. Tapi ketika berat sebelah sudah di pastikan akan goyah ". sambung Vea dengan segala pemikirannya tentang pernikahan.


" Rumit ". balas Dave singkat. Egonya masih susah untuk menerima.


" Terus menurut kamu apa lebihnya hubungan tanpa ikatan pernikahan ?, lebih mudah untuk meninggalkan saat mulai bosan ?" tanya Vea membuat Dave tercekat. Tak mampu menyahut ataupun menyangkal. Benar yang di ucapkan kekasihnya. Hubungan tanpa ikatan pernikahan hanya memudahkan untuk meninggalkan. Dan tak pernah terbersit dalam benaknya untuk meninggalkan Vea.


Dave menghentikan laju mobilnya di tempat parkir perusahaan Vea. Namun keduanya masih duduk di dalam mobil .


" Sebuah hubungan menikah atau tidak,kalau ingin sejalan dan bertahan kita tetap harus saling menghargai, menghormati,dan menekan ego masing-masing" ucap Vea dengan tatapan lurus ke depan. Vea membuka seat belt, kemudian hendak membuka pintu mobil. Namun belum Vea meraih pintu. Dave menarik tubuh sang kekasih masuk dalam pelukannya.


Mereka melepas pelukan, saling menatap dalam. Dave membelai rambut Vea menyematkan untaian rambut di balik daun telinga.


" I love you " ucap Dave dengan tatapan yang begitu dalam. Menggambarkan rasa hati yang terdalam.


" I love you more " balas Vea,Dave meraih tengkuk sang kekasih dan mendaratkan sebuah ciuman hangat di bibir sang kekasih. Beberapa saat keduanya hanyut dalam panguutan mesra. Setelahnya mereka saling beradu kening, memejamkan mata menikmati desiran rasa cinta yang menggelora.


" I love you so much " bisik Dave, kemudian mengecup kening Vea. Vea tersenyum, sesaat Dave memeluk tubuh Vea sebelum keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk wanitanya.


Saat Vea keluar dari dalam mobil matanya terbelalak melihat sosok yang berdiri dengan tangan berada di saku celana. Bersandar di badan mobil dengan tatapan tertuju padanya. Vea tersenyum kaku,lalu melangkah meninggalkan Dave yang mengernyit melihat tingkah sang kekasih.


Saat melihat siapa yang di hampiri kekasihnya,Dave tampak tersenyum tertahan.


" Ketemu klien ya ?,mmm klien spesial. Bisa banget bohongin Kakak". ucap lelaki yang tak lain adalah Aksara. Ia mencubit hidung sang adik membuat Vea cemberut.


" Aku tuh pusing Kak, tiap hari nelen angka. Refreshing lah bentar ". bela Vea yang kini bergelayut manja di lengan Aksara.


" Siang Mas Aksara,maaf saya culik Vea nya " ucap Dave sembari tersenyum dan mengulurkan tangan pada lelaki yang masih di gelanyuti dengan manja oleh adiknya.


" Tidak apa-apa, maklum lah saya juga pernah muda " ujar Aksa di akhiri dengan tawa renyah.


" Kalau begitu saya pamit dulu mas,masih ada kerjaan " pamit Dave.


" Oh ya silahkan " sahut Aksara. Dave menatap ke arah sang kekasih yang berdiri fi samping Aksara.


" Aku balik dulu " pamitnya pada Vea sembari mengusap lembut rambut sang kekasih.


" Hati-hati " ucap Vea di angguki okeh Dave dengan senyum mengembang di bibir.


" Kak Aksa ngapain ke sini ?" tanya Vea menatap kakaknya.


" Sidak,eh taunya ibu direktur sedang pacaran. Sekongkol lagi dengan asistennya,dasar kamu ya " ujar Aksa sambil mencubit pipi Vea.


" Kakak sakit " keluh Vea sembari memukul tangan Aksa.


Setelah beberapa saat berbincang tak penting kini dua kakak beradik itu masuk ke dalam kantor. Membicarakan pekerjaan untuk rapat yabg hendak di hadiri Vea .