If

If
Dengan Senyummu



Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Dave, tampak merenggangkan tubuhnya. Mengurai penat yang terasa menumpuk di sekujur tubuhnya. Hari ini ia lalui dengan pekerjaan yang sangat banyak. Bertemu beberapa klien baru,bertemu pihak workshop untuk mendiskusikan tentang pemberhentian sementara proses pengerjaan untuk interior tiga perusahaan. Semua terlalui dengan lancar.


Lebih dari jam tujuh malam ,Dave baru kembali ke kantor. Ia kembali memeriksa beberapa berkas penting. Ia harus bekerja cepat. Jangan sampai klien strategis lainnya menjadi incaran Daren untuk menjatuhkan dirinya.


Daren menyandarkan punggung seraya memijit pelipisnya untuk mengurangi rasa pening di kepala. Ia mengambil ponsel miliknya. Membuka galeri foto,dan menatap wajah Vea yang ia ambil secara sembunyi. Senyum terkembang saat menatap foto itu.


Ah,dia merindukan wanitanya, hari ini ia tak berkomunikasi dengan intens dengan sang kekasih. Kesibukan membuatnya tak sempat menghubungi kekasihnya itu.


Dave beralih mencari kontak kekasihnya. Ia ingin mendengar suara dan melihat wajah sang kekasih untuk sedikit mengurangi rasa lelahnya.


" Hay Honey !" sapa Dave dengan senyum mengembang saat wajah Vea muncul di layar ponsel miliknya.


" Yang ?, masih di kantor ?" tanya Vea yang tampak menyipitkan mata melihat ruangan dimana kekasihnya berada. Dave tersenyum sambil mengangguk pelan.


" Aku lembur, capek Yang. Pengen di peluk " manja Dave , Vea menghela nafas. Merasa ada yang tak beres dengan Dave. Wajah lelaki itu tampak begitu letih.


" Ada apa ?'' lembut Vea,dengan tatapan tertuju pada mata kekasihnya. Dave tersenyum seraya menyahut.


''Gak apa-apa,cuma ada sedikit masalah sama klien ''.


'' Mau pulang jam berapa ?, ini udah malem . Apa gak bisa di lanjut besok aja ?'' tutur Vea masih dengan nada lembut yang menyiratkan kekhawatiran di setiap kalimatnya.


'' Ini mau pulang, kangen kamu. Pengen peluk kamu Yang .'' ucap Dave dengan raut mendamba. Ia hanya ingin melepas segala penat dan lelah hatinya dalam pelukan wanita yang ia cintai.


'' Aku di apartemen '' ujar Vea yang langsung membuat Dave duduk tegak dengan binar fi matanya.


'' Serius ?'' Dave memastikan, Vea mengangguk pasti. Dave langsung berdiri dan menyambar jas yang ia sampirkan di sandaran kursi kerjanya.


'' Tunggu aku kesitu,aku matiin ya,I love you my honey ''


'' Love you too beib'' jawaban di seberang sana sebelum Dave mematikan sambungan video call.


Dengan langkah panjangnya,Dave keluar dari ruangan. Menapaki lorong menuju lift yang membawanya ke lobby. Semua ruangan telah sepi dengan lampu yang telah di matikan. Tinggal lampu kecil sebagai penerang.


Dave turun dari lantai tempatnya bekerja dengan menggunakan lift. Ia hanya ingin segera mendatangi apartemen sang kekasih. Memeluk wanita itu dan meluruhkan segala penat dan resah yang menggelayut di dada.


Dave meninggalkan kantor mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Laju lalu lintas malam itu tak terlalu padat. Rintik gerimis rupanya menghiasi malam yamg cukup pekat. Tadi sewaktu masih di dalam ruangan ia tak menyadari jika di luar gerimis. Malam terasa syahdu membuatnya semakin rindu dan ingin segera memeluk wanitanya.


Dave yang belum mengetahui kode untuk membuka pintu apartemen Vea , memencet bel. Menunggu wanita itu membukakan pintu untuknya. Saat pintu terbuka,wajah ayu yang ia rindui tersenyum menyambut. Dave balas tersenyum, seakan hilang sudah penat yang menguasai jiwanya. Menguar bersama senyum yang menentramkan.


" Sayang '' ucap Dave seraya menubruk tubuh Vea hingga wanita itu sedikit terhuyung kebelakang.


Vea menyambut pelukan sang kekasih,Dave melangkah masuk tanpa melepaskan pelukannya. Membuat Vea mundur perlahan,dengan kaki Dave mendorong pintu agar tertutup.


Dave mencium leher jenjang milik Vea. Menghirup wangi tubuh sang kekasih yang menenangkan rasa dan mengendorkan syaraf yang menegang. Dave belum melepaskan pelukannya untuk beberapa saat. Vea hanya membalas dengan mengusap lembut punggung lelaki itu.


Vea sadar ada yang sedang tidak baik-baik saja dengan lelakinya. Biarkan Dave mencari ketenangan dalam pelukannya. Terkadang tak butuh kata untuk menenangkan cukup sentuhan tulus mengantarkan rasa damai yang menentramkan jiwa.


'' Aku kangen banget '' lirih Dave yang masih erat memeluk tubuh sang kekasih.


'' Aku juga kangen kamu,udah makan ?'' tanya Vea,Dave melonggarkan pelukannya.


'' Udah tadi waktu ketemu klien di luar ". sahutnya diakhiri dengan kecupan ringan di kening Vea. '' Kamu udah makan ?'' sambung Dave seraya menatap lembut Vea. Wanita itu mengangguk, kemudian tangannya menjulur mengusap lembut pipi Dave.


'' Ya udah mandi dulu, gantinya udah aku siapin di kamar '' ujar Vea tanpa melepas pandangan dari mata Dave. Dave meraih tangan Vea yang masih di pipinya di kecupnya telapak tangan Vea dengan mesra.


'' Ya udah aku mandi dulu ''


Dave beranjak ke kamar sang kekasih untuk membersihkan diri di kamar mandi yang berada di dalam sana. Sementara Vea ke area pantry ,ia mengambil panci dan memanaskan air untuk membuat minuman hangat untuk sang kekasih.


Diambilnya dua cangkir dan dua sachet cokelat untuk di sedu. Untuk menemani dua sejoli itu sebelum tidur. Vea membawa cangkir berisi cokelat panas ke ruang tamu. Menunggu Dave yang sepertinya belum selesai mandi.


Tak berapa lama, lelaki itu keluar dan menghampiri kekasihnya. Sebelum duduk Dave membungkukkan badan,untuk mendaratkan kecupan singkat di bibir Vea. Wanita itu tersenyum mendapati perlakuan yang selalu saja terasa manis baginya.


'' Minum dulu,biar anget '' Vea menyodorkan cangkir ke depan Dave yang duduk di sampingnya.


''Biar anget tuh gini '' ucap Dave sembari meraih tubuh Vea dan mengangkat tubuh itu untuk duduk di pangkuan.


'' Sayang ! '' pekik Vea yang kaget dengan kelakuan kekasihnya. Dave tertawa senang saat Vea memukul manja lengannya.


Hilang semua lelah dan penat yang menggelayut raga dan jiwanya. Senyum dan tawa manja sang kekasih mampu melenyapkan segala resah hati.