
Langkah panjang lelaki berwajah tampan dengan garis wajah tegas memasuki sebuah restoran yang telah ia reservasi. Langkah panjangnya memasuki ruang VIP.
Tampak di sana duduk lelaki berpawakan gagah dengan wajah pongahnya. Tersenyum smirk menatap sang lawan yang melangkah kian mendekat.
" Selamat siang tuan Daren !" sapaan formal meluncur mulus dari bibir Dave yang kini berdiri di hadapan sang rival. Daren berdiri dari duduknya dengan tangan yang ia masuk kan ke dalam kantong celana.
" Siang tuan Dave " sapa balik Daren dengan wajah menyeringai dan kesan sombong yang tergambar nyata di raut wajah rupawan yang sayangnya menyebalkan.
Dave tersenyum miring melihat kelakuan Daren. Tanpa menunggu Daren kini Dave yang telah duduk dengan tatapan angkuh. Dare. mencondongkan tubuhnya dengan dua tangan bertumpu pada meja.
" Kamu mau apa Dave Mahendra ?"tanya Daren tanpa basa-basi dengan tatapan tajam yang mengintimidasi. Dave dengan santainya justru tersenyum.
" Santailah dulu tuan Daren " jawab Dave, melihat lawannya sesantai itu Daren merasa ketar ketir. Seharusnya wajah lawannya tak sesantai itu ketika perusahaan nya diambang kebangkrutan.
Bukan wajah mengiba atau wajah penuh permohonan yang tergambar di raut wajah Dave. Mungkinkah ada yang ia lewatkan ?, ah ia tak menemukan jawaban.
" Saya tak punya banyak waktu untuk bersantai denganmu " ketus Daren yang kini menghempaskan tubuhnya di kursi.
Tak berapa lama pelayan datang dengan buku menu di tangannya. Dave memesan beberapa makanan dan minuman. Tapi tidak dengan Daren yang semakin merasa ada yang salah . Ia hanya memesan segelas minuman saja.
Setelah sang pelayan datang dengan catatan pesanan dua tamu VIP itu. Kini dua orang yang merasa sana kuatnya saling menatap tajam penuh perlawanan.
" Apa tujuan kamu meminta bertemu denganku ?" suara Daren memecah sunyi yang mereka ciptakan selama pelayan menyiapkan pesanan dan kembali dengan apa yang di pesan keduanya. Saat pelayan kembali pergi dari ruangan, pertanyaan itu meluncur dari bibir Daren .
Dave tersenyum miring, mendapati tatapan permusuhan dari lawan di hadapannya.
" Jelas tujuanku untuk memperingatkan mu. Hentikan hal gila dan bodohmu untuk menganggu klien-klien perusahaan ku " Tawa mengalun dari mulut Daren. Sebuah rasa percaya diri menghinggapi. Semua tindakannya otasti mempengaruhi perusahaan Dave.
" Apa yang kamu tawarkan agar aku berhenti mengusik mu ?, tanya Daren dengan tatapan mata yang sangat menyebalkan.
" Kesepakatan " pendek Dave yang kini tangannya meraih gelas dan meminumnya perlahan. Daren terbahak mendengar sahutan sang rival.
" Rupanya anda penasaran dengan kekasihku tuan Daren ? " senyum smirk tercipta di wajah tampan rupawan yang memiliki tatapan setajam elang.
" Tapi jangan harap saya akan menuruti keinginan anda tuan Daren" lanjut Dave seraya membuka tas kerja yang tadi di bawanya.
" Anda hentikan menghasut klien saya. Atau saya akan sebarkan semua ini " ucap Dave sembari melempar tumpukan foto. Daren terbelalak sempurna kemudian menatap dengan geram lembar-lembar foto di tangannya.
Dave menikmati setiap mimik yang terlihat di wajah Daren saat melihat foto dirinya yang sedang beradegan dewasa. Dave justru melihat itu semua seraya menikmati makanan di hadapannya.
" Dasar licik" geram Daren sambil menatap penuh amarah pada Dave yang justru terkekeh.
" Jangan pikir saya bodoh Daren Atmajaya. Kamu pun bertindak licik jadi saya juga bisa lebih picik dari yang anda pikirkan." ucap Dave dengan tatapan tak kalah tajam.
" Sekarang anda hentikan mempengaruhi klien saya atau kita akan hancur bersama saat saya sebarkan skandal anda."
" Kurang ajar " geram Daren dengan wajah kian mengeras. Ia tak menyiapkan amunisi untuk bisa menyerang telak Dave. Ia tak punya bukti kelakuan Dave yang juga suka berganti wanita.
" Bagaimana ?" tanya Dave dengan raut penuh kemenangan. " Atau perlu saya sebarkan juga video anda dengan para wanita semalam,dan juga pesta narkoba yang kamu lakukan ?" ucap Dave sembari melempar flashdisk di hadapan Daren yang kini terlihat dadanya kembang kempis menahan gelegak amarah yang membuncah.
" Pikirkan penawaran saya,atau kita hancur bersama. Semua kebusukan mu tidak akan aku sebarkan ke publik. Kamu tetap jadi Daren Atmajaya yang terhormat,ayah idaman seorang anak lelaki yang membanggakan. Serta suami impian dan anak yang baik untuk orang tua yang selalu membanggakan diri mu." ucap Dave yang kemudian berdiri dan beranjak dari duduknya.
" Pikirkan baik-baik,citra mu sebagai pengusaha muda yang sukses bisa hancur dalam sedetik saja, dengan segala skandal yang kamu miliki " ucap Dave sebelum benar-benar pergi dari ruangan itu.
Daren tak menyahut, matanya nyalang menatap lembaran foto yang menelanjangi dirinya. Foto saat ia beradegan panas,hingga ia sedang pesta sekss dan narkoba. Hingga foto dirinya dengan dua wanita berbeda di sebuah klinik ilegal untuk mengugurkan kandungan.
Ia benar-benar salah memilih lawan. Dave tak selemah yang ia pikirkan. Lelaki itu ternyata jauh lebih licik dan picik. Ia tak mungkin menghancurkan diri dengan semua skandal yang ia miliki. Terlalu beresiko untuk karir dan masa depannya.
" Brengseek,kamu menang Dave " geram Daren dengan gigi yang mengatup menahan emosi yang siap meledak. Andai ia tak sadar dimana. Jelas tempat itu sudah porak poranda akibat luapan emosinya.