If

If
Berdamai Dengan Masa Lalu



Dave tampak duduk termenung dengan mengetuk pelan permukaan meja dengan ujung jarinya. Di depannya segelas jus jeruk tersaji. Tampak sesekali lelaki itu menghela nafas,ada kegugupan yang tersirat di wajahnya.


Seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam restoran tampak berjalan menghampiri Dave. Dave menengadah menyadari seseorang hampiri dirinya.


" Ma " ucap Dave lirih namun masih terdengar di telinga wanita itu.


Terlihat jelas kekagetan wanita tersebut mendengar anaknya memanggil Mama meski lirih. Ada haru yang menyeruak di dalam dadanya hingga membuat mata wanita itu berkaca-kaca.


" Dave " lirihnya dengan suara tercekat. Dave tersenyum ramah pada sang ibu. Sebuah pemandangan indah yang tak mampu tertulis dalam kata.


''Duduk Ma ''ucap Dave membuat sang Mama segera duduk di seberang anaknya.


Bukan perkara mudah untuk seorang Dave duduk berhadapan dengan ibunya dengan wajah ramah. Setelah mengantarkan sang kekasih,ia tak jadi pergi kekantor Dave menemui sahabatnya, Gerald. Ia menceritakan tentang lamaran pada kekasihnya. Yang tentu membuat Gerald terperangah kaget.


Dan dari perbincangan dengan Gerald,Dave memikirkan tentang keluarganya sendiri. Ibu dan ayahnya. Bagaimana nanti ia akan datang meminang sang kekasih tanpa satu pun dari mereka. Meski keluarganya tak sesempurna keluarga Dwilangga yang tampak begitu harmonis dan romantis. Setidaknya ia ingin meminang wanita pujaannya dengan sebuah keluarga meski dengan cacat yang ia punya.


'' Ada apa Dave ?, kalau soal uang yang Mama pinjam,Mama minta maaf uangnya belum ada '' lirih wanita itu dengan tertunduk. Dave tak langsung menyahut karena pelayan datang. Dave memesan makanan untuk dirinya dan juga sang Mama, meski Mama mengatakan tak lapar.


'' Aku meminta ketemu Mama bukan soal uang. Aku sudah bilang ke Mama itu gak perlu di kembalikan. Aku cuma mau minta waktu Mama,kapan Mama ada waktu ?, Dave pengen datang ke rumah Mama. Dave mau mengenalkan calon menantu Mama '' jelas Dave,membuat wanita di hadapannya tak bisa lagi menahan air mata harunya .


'' Kapan saja kamu mau nak,datang saja bawa menantu Mama secepatnya " sahut Mama dengan rasa bahagia yang membuncah. Dave tersenyum melihat wajah bahagia bercampur haru di wajah Mama.


" Mungkin minggu depan aku akan mengenalkan Vea pada Mama " ucap Dave dengan senyum terkembang.


" Vea ?, namanya Vea ?, pasti cantik " ucap sang Mama yang merasakan hatinya sedang mengembang. Mendapat pengakuan dari anaknya adalah hal paling ia idamkan selama ini. Ia sadar selama ini telah mengecewakan anaknya. Membuat banyak luka untuk seorang bocah yang kini telah tumbuh menjadi lelaki gagah.


" Cantik,sangat cantik." sahut Dave dengan senyum terlukis di bibirnya . Terlihat sekali betapa lelaki itu begitu mencintai wanitanya dari binar mata yang berbunga-bunga.


" Mama tunggu kedatangan kalian '' ucap Mama sesaat sebelum pesanan mereka datang. Setelahnya ibu dan anak itu menikmati makanan dengan obrolan ringan. Sedikit canggung,karena telah begitu banyak waktu yang terlewati bagi mereka berdua.


Sudah waktunya Dave jujur tentang dirinya pada Vea. Ia tak mau ada rahasia yang tak terungkap bersama sang kekasih. Ia ingin menjadikan Vea ratunya bukan sekedar dayang ataupun selir di hatinya.


" Apa Mama tau keberadaan Papa ?" tanya Dave setelah mereka selesai makan. Tampak sang Mana menggeleng.


" Iya,aku ingin memulai semuanya dari awal. Melupakan semua masa lalu. Aku ingin membuka lembar baru hidupku tanpa lagi ada dendam dari masa lalu. Aku ingin menjadi versi terbaik ku untuk meminang wanita terbaik untukku . Menjadikan ku layak untuk seorang Vea. Meski tidak mungkin sempurna, setidaknya aku ingin memperbaiki segalanya " tutur Dave yakin.


Ibu mana yang tak menghangat hatinya karena ucapan yang begitu bijak dari sang anak. Yang bahkan telah ia sia-siakan.


" Mama akan coba cari informasi tentang Papamu. Maaf kan Mama yang egois, telah meninggalkan kamu selama ini. " ucap Mama sedikit bergetar,hatinya terlalu terenyuh dengan apa yang ia dapat dari anaknya hari ini.


" Dave sudah maafkan Ma,ini sudah suratan yang memang harus kita lewati. Ini takdir kita,tak ada yang bisa merubahnya. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki ini untuk kedepannya." tutur Dave bijaksana. Lagi-lagi wanita itu menangis terharu. Menggenggam tangan Dave yang tergeletak di atas meja.


" Terima kasih nak, mari kita sama-sama memperbaiki ini ". ujar Mama dengan tercekat. Dave tersenyum lalu dengan sebelah tangannya menghapus linangan air mata di pipi Mama, tersenyum hangat seraya mengangguk.


Pertemuan hari itu, diakhiri dengan rasa lega dalam hati keduanya. Memaafkan ternyata membuat hati terasa ringan dan lapang. Tak ada lagi beban rasa yang menumpuk dalam dada.


Dave mengantar Mama sebelum pulang ke apartemen. Sepanjang jalan wanita itu tampak tersenyum dengan wajah haru. Berkali-kali melirik anaknya yang fokus dengan jalanan di depan yang cukup padat merayap.


" Terima kasih " ucap sang Mama saat Dave mengantarkan dirinya sampai di sebuah rumah minimalis bertingkat dua.


" Mau masuk dulu Dave ?'' tawar sang Mama.


" Besok aja Ma,ada kerjaan yang harus Dave selesaikan. Soalnya tadi Dave gak ke kantor."


" Ya sudah hati-hati"


" Ya Ma, selamat malam " tutur Dave dengan seulas senyum.


" Malam" sahut wanita itu.


Dave memutar balik mobilnya, meninggalkan wanita yang masih mengembangkan senyum di bibirnya. Hatinya terlalu bahagia dengan kejutan yang di berikan sang anak hari ini.


Dave pun tampak menghela nafas lega. Berdamai dengan masa lalu ternyata membuat semua terasa lebih mudah.