
Suasana kantor mulai tampak ramai dengan para karyawan yang berdatangan. Kurang dari setengah jam lagi jam masuk kantor di mulai. Namun Dave sang owner perusahaan yang biasanya berangkat sedikit lebih siang kini sudah berjalan tergesa.
'' Gimana Dis ?'' tanya Dave saat sampai di depan meja sang sekertaris.
" Beberapa investor meminta diadakan rapat pagi ini . Sepertinya masalah yang sedang terjadi telah sampai di telinga mereka." jelas Disya yang hari ini berangkat cukup pagi.
" Oke, siapkan ruang rapat. Tilong panggilkan Marcell. '' titah Dave yang kemudian berlalu dan masuk ke ruangannya tanpa menunggu jawaban sang sekertaris.
Dave harus segera bertindak, sebelum semuanya semakin keruh. Dave mengambil berkas-berkas yang berkaitan dengan masalah yang cukup pelik ini. Masih ada beberapa klien yang bisa di tahannya, meski ada yang benar-benar membatalkan kerjasama.
Dan ia juga sudah mendapat klien baru dari beberapa daerah. Semoga semua bisa teratasi dengan baik. Para investor masih mau memberikan dirinya kesempatan.
" Pagi Pak Dave !" sapa Marcell yang melongok dari balik pintu ruang kerja Dave. Sebenarnya lelaki itu telah mengetuk pintu, namun Dave yang terlalu fokus dengan berkas di hadapannya sampai tak mendengar.
'' Pagi Cell, masuk !'' ucap Dave yang terdengar halus namun penuh ketegasan. Dave meminta Marcell duduk di hadapannya.
" Ada perkembangan Cell ?'' tanya Dave saat Marcell telah duduk di kursi seberang meja kerja.
" Ini Pak, semua bukti yang bisa membungkam Daren. " ucap Marcell seraya menyerahkan map di tangannya. Dave meraih map itu dan membukanya. Sudut bibir Dave tersenyum miring. Track record Daren ternyata cukup mencengangkan. Selain menjadi player yang hobby gonta-ganti pasangan. Ternyata juga pengguna aktif obat-obatan terlarang.
Beberapa foto dan video Daren saat sedang bersama para wanitanya serta saat lelaki itu sedang nge fly sudah ada di tangan Dave. Siap-siap saja Dave melempar granat nya dan menghancurkan Daren Atmajaya.
" Dan sepertinya Daren juga bermasalah dengan internal perusahaan. Hubungan dengan dua saudaranya memanas sejak setengah tahun lalu. Dan kemungkinannya adalah Daren menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan dirinya sendiri ". penjelasan Marcell membuat bibir Dave melengkung ke atas. Ia hanya perlu meyakinkan para investor dan segera melempar granat pada Daren.
" Oke,kita sekarang punya PR penting untuk mempertahankan para investor. Siap berjuang lagi Cell ?'' tanya Dave dengan bada bersemangat. Ia yakin mampu melewati semua permasalahan ini dengan baik.
" Tentu Pak, saya yakin semua akan baik-baik saja " optimis Marcell membuat Dave semakin mengembangkan senyumnya.
" Kalau gitu ayo kita mulai perjuangan kita !" ajak Dave seraya bangkit dari duduknya. Merapikan jas yang ia kenakan. Marcell berdiri menunggu,sampai sang empunya ruangan melangkah lebih dulu. Kemudian dua lelaki gagah itu keluar dari ruangan Dave.
Dave berjalan tegap dengan segala kharismanya. Wajah dingin dengan tatapan tajam menghipnotis setiap yang melihat . Dua lelaki itu memasuki ruang rapat dengan bersamaan.
Beberapa orang nampak duduk di sana dan menyambut sang pimpinan yang baru saja masuk. Diiringi Marcell di belakangnya,sedang sang sekertaris sudah berada di ruang rapat untuk menyiapkan tempat.
Tanpa ragu dan dengan raut wajah tegas, Dave menyapa para tamunya. Memulai rapat pagi itu dengan keyakinan penuh bahwa perusahaannya pasti akan baik-baik saja.
Ia berbicara tegas, lugas dan jelas pada setiap peserta rapat yang bertanya tentang masa depan perusahaan. Dia yakin seyakin-yakinnya bahwa ia mampu mempertahankan apa yang sudah ia perjuangkan.
" Shitt !!!" maki Daren yang merasa paginya sangat menyebalkan. Sudah dari rumah lelaki itu membawa masalah. Istrinya yang yang selalu saja mencari perhatian. Di tambah lagi dua saudaranya yang begitu menyebalkan. Selalu menganggap dirinya tak becus dalam bekerja. Menjadi pemantik lelaki itu kehilangan mood di pagi hari.
" Rel, ke ruangan saya !!" titah Daren dengan nada arogan pada sekertaris seksinya. Tak berapa lama wanita dengan rok span mini dengan kemeja pendek yang kekecilan masuk ke dalam ruang atasannya.
Daren memberi kode pada wanita berambut hitam panjang itu untuk mengunci pintu.
Dengan gerakan tangannya ia meminta sang sekertaris untuk duduk di pangkuannya. Bukan hak baru untuk seorang Aurel merelakan tubuhnya untuk pemuas hasrat sang atasan.
Pagi itupun menjadi pagi panas keduanya, melenguh dan mendesaah bersama. Mengayuh kenikmatan untuk mencapai nirwana. Hingga membuat keduanya terkapar setelah pelepasan yang melenakan.
Dengan hanya mengenakan celana, Daren kini duduk di sofa, menyulut rokok di tangannya. Membiarkan sang sekertaris keluar ruangan setelah melepaskan hasrat yang membara. Tampak lelaki itu menengadah dengan berkali-kali menghisap rokok di tangannya.
Kegagalan dirinya untuk jadi CEO di perusahaan induk Atmajaya group tahun lalu membuat dirinya merasa tersingkir. Merasa fi pecundangi oleh keluarganya sendiri. Ia yang dari awal terjun langsung mengurus perusahaan ternyata tak terpilih. Sedang sang adik yang baru saja bergabung menjadi pilihan banyak pemegang saham. Sungguh ironis,itu yang melatarbelakangi Daren mendirikan perusahaan sendiri.
Meski tetap dengan dukungan finansial dari kedua orang tuanya. Namun ia hanya ingin menunjukkan kepiawaiannya dalam mengelola perusahaan. Dan akan ia buktikan pada mereka bahwa ia mampu dan layak menjadi penerus Atmajaya group.
Tok tok tok
Ketukan pintu ruangan Daren membuatnya tersadar dari lamunan. Lelaki itu meraih kemeja yang tergeletak di meja fan di pakainya.
'' Masuk '' suara dingin penuh ketegasan menyuruh sang pengetuk pintu untuk masuk . Tampak Aurel yang masuk ruang tersebut.
" Ada apa Rel ?'' tanya Dave seraya memicingkan mata.
'' Ini pak ada permintaan pertemuan dengan Dave Mahendra, besok siang di restoran seafood " jelas sang sekertaris.
'' Oke, besok saya datang '' sahut Daren tanpa melirik wanita yang baru saja masuk dalam kungkungan dirinya.
'' Baik Pak . Kalau saya permisi '' pamit Aurel yang hanya mendapat geraman dari atasannya.
'' Apa mau mu Dave, sudah menyerahkah kamu ?'' monolog Daren dengan sudut bibirnya terangkat sempurna. Ia terlalu percaya diri, semua usahanya akan menghancurkan Dave Mahendra.
Sudut hatinya terlalu bahagia, membayangkan runtuhnya usaha Dave dan kalau perkiraan nya tepat,lelaki itu juga akan kehilangan sang kekasih. Ia harus byusa membawa Vea dalam kungkungan dirinya.