
Berpikir Dave yang datang,Vea segera mandi. Mengenakan pakaian yang berkali-kali membuatnya bercermin. Senyum tak lekang dari bibir wanita cantik itu. Dengan sumringah Vea keluar kamar dan menuruni satu persatu dengan langkah riang.
Suara perbincangan seru di bumbui tawa renyah terdengar dari ruang tamu. Namun tunggu, suara itu ?, suara lelaki yang berbincang dengan Papa bukanlah suara Dave.
Dan benar saja yang tampak di sana adalah Fardan. Pemuda itu memang akrab dengan keluarganya.
" Lo Dan ?, ngapain lo di sini ?" tanya Vea seraya duduk di samping sang sahabat.
" Ya ampun Ve, jahat banget nanyanya " ujar Fardan pura-pura sedih. Tapi justru di hadiahi keplakan di lengan lelaki itu.
'' Heh, KDRT lo '' sungut Fardan sembari mengusap lengannya yang terasa panas akibat ulah Vea.
'' Ish KDRT,enak aja ''
" Iyalah, kekerasan dalam ranah teman '' sahut Fardan tersenyum miring dengan alis ia naik turunkan.
Candaan dua bersahabat itu jadi perhatian Papa dan Mama yang masih duduk di sana.
Membuat sepasang suami istri itu tersenyum penuh arti.
" Eh lo ngapain udah balik lagi ?" tanya Vea yang heran tiba-tiba sahabatnya nongol pagi-pagi di rumahnya.
" Titah bunda ratu Ve,gue suruh pulang. Kangen lo katanya,suruh gue buat ngajak ke rumah ".
" Halah si Tante mah ada-ada aja. Baru kemarin ini gue ketemu di butik ". sahut Vea santai,membuat Fardan memicingkan mata.
" Serius ?"
" Iya, kemarin gue ketemu pas lagi beli baju sama di Dave ". terang Vea membuat Fardan curiga dengan maksud Bunda yang tiba-tiba memintanya pulang.
Fardan cukup paham keinginan sang Bunda untuk menjadikan Vea menantunya. Kini ia hanya bisa menghela nafas panjang. Merasa terjebak oleh sang Bunda.
" Ve, sejak kapan kamu pake cincin ?'' tanya Mama yang tanpa sengaja melihat cincin melingkar di jari manis putrinya. Vea tersenyum lebar. Mengangkat tangan dan memperlihatkan dengan jelas cincin bertahtakan berlian itu.
" Bagus gak ma ?" tanya Vea dengan raut wajah penuh kebahagiaan. Dan itu tak terlepas dari tatapan mata sang sahabat yang kini sedang menatap dirinya.
"Bagus, cantik. kok gak ngajak Mama sih beli perhiasan gitu. Mama udah lama lho gak shopping perhiasan '' rajuk Mama. Vea tertawa melihat mimik kesal sang Mama.
'' Vea gak beli lagi Ma,ini tuh di kasih '' sahut Vea sambil senyum-senyum. Membuat dahi Mama berkerut .
" Di kasih siapa ?" tanya Mama antusias.
Berbeda dengan lelaki yang duduk di samping Vea. Hatinya mencelos. Ia sudah bisa menebak cincin itu dari siapa dan apa maksudnya. Ia hanya bisa tersenyum getir, mendapati kenyataan. Tak mungkin lagi meraih cintanya.
" Dave, semalam aku dilamar Ma " jawab Vea dengan mata berbinar. Mama terlonjak kaget,Papa tampak tercengang dan Fardan hanya bisa menghela nafas. Menata hati yang berkeping. Ia sudah bisa memperkirakan itu akan terjadi,namun ia pikir tak akan secepat ini.
Fardan menatap ke sembarang arah, menahan air mata yang hendak tumpah. Euforia dua wanita yang kini heboh dengan lamaran , seakan memudar begitu saja dari telinganya.
Bayang kebersamaan dengan wanita di sampingnya berputar dalam kepalanya. Kebersamaan dalam hubungan berkedok persahabatan. Namun berselimut cinta dari Fardan untuk Vea. Bertahun-tahun mengharapkan cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Tapi kini ia akui ia telah kalah. Dan waktunya mundur teratur,kembali mengatur ulang hidupnya. Melupakan cinta yang sampai kini masih membara.
" Dan !!" seru Vea membuyarkan lamunan Fardan yang sedang berkelana menembus waktu bernama masa lalu. Masa dimana ia menjadi satu-satunya lelaki yang ada di samping Vea.
" Hah,apa ?" Fardan tergagap. Karena ia tak menyimak perbincangan ibu dan anak.
" Yah bengong " ucap Vea. Bukan ia tak peka dengan apa yang pasti kini sedang di rasa lelaki itu. Namun ia tak ingin keluarganya tahu , tentang rasa tersimpan diantara hubungan persahabatan.
'' Ini lho Dan,Vea udah di lamar, kapan kamu lamar cewek ?. Tante gak pernah lihat kamu jalan sama cewek,jadi bodyguard nya Vea terus '' ucap Mama yang membuat Fardan tersenyum masam dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
'' Nanti Tant, masih sibuk handle kerjaan yang Ayah limpahin ke Fardan.'' elak Fardan.
'' Jangan kerja melulu,luangin waktu dong "
" Iya Tant,nanti kalo udah waktunya." sahut Fardan yang sejujurnya malas untuk berbicara soal ini.
" Eh Dan,jadi gak nih ke rumah lo ?" Vea berusaha menyelamatkan sang sahabat yang dicerca sang Mama. Ia tahu sahabatnya sedang terluka dan itu luka dari dirinya.
" Jadi dong Ve,nanti Bunda ngomel lagi kalo lo gak dateng. Mending kalo ngomelnya ke lo, ngomelnya pasti ke gue". sahut Fardan yang memang ingin segera pergi dari sana.
" Ya udah gue ambil tas dulu " sambung Vea yang langsung beranjak naik ke kamarnya.
Obrolan di ruang tamu, beralih soal bisnis. Mama tak lagi nampak di sana. Vea kembali dengan tas terselempang di bahunya. Mengajak Fardan untuk segera pergi. Setelah berpamitan keduanya meninggalkan istana Dwilangga.
" Ternyata secepat itu ya Ve ". ucap Fardan setelah melaju meninggalkan rumah Vea. Tatapan matanya terfokus ke depan. Senyum getir samar tergambar.
Vea menghela nafas,jujur ia bingung harus bersikap seperti apa. Bahagia saat ini dengan pertunangannya sama dengan menyiram air garam di atas luka uang masih mengangah.
" Gue juga gak nyangka,dua secepat ini mengambil keputusan. " sahut Vea sambil memainkan kuku-kuku di jarinya.
" Gue harap ini bukan keputusan impulsif tanpa pemikiran matang". ucap Fardan. Vea tak bisa menjawab. Karena ia pun tak tahu apakah Dave telah memikirkannya dengan matang atau hanya rasa takut kehilangan membuatnya asal mengambil keputusan.
" Dulu gue hampir mengikhlaskan lo sama Daren saat Lo menerima perjodohan dari orang tua. Tapi kenyataannya gue masih bisa menarik lo untuk tetap di sisi gue . Meski dalam ikatan persahabatan. Sekarang gue harus belajar mengikhlaskan lo dengan orang yang memang lo pilih sendiri. Semoga kali ini bukan pilihan yang salah. Karena sampai kapanpun gue gak akan pernah rela lo terluka Ve ". ucap Fardan panjang.
Vea tercekat,dia tak mengingkari betapa besar cinta yang di miliki sang sahabat untuknya.
" Maaf " lirih Vea dengan suara tercekat karena menahan air mata di sudut pipinya yang hampir tumpah.
" Maaf atas semua yang ku torehkan di hati kamu ". Akhirnya Vea hanya bisa terisak menyadari setiap cinta dari Fardan hanya di balasnya dengan luka yang menyakitkan .