
" Pa !" sapa Aksara saat membuka pintu ruang kerja sang ayah setelah sebelumnya di persilahkan masuk oleh sang empunya ruangan. Papa menoleh kearah sang putra.
" Sudah datang Sa, sendiri ?,gak sama istrimu ?'' cecar Papa yang duduk di kursi ruang kerjanya.
" Sendiri Pa,dari kantor langsung ke sini '' sahut Aksara yang sudah menanggalkan jasnya sejak dari dalam mobil. Tinggal kemeja berwarna merah maroon yang melekat di tubuh atletisnya.
Lelaki berpawakan gagah itu duduk di hadapan sang ayah,yang secara khusus memanggilnya.
'' Gimana kantor Sa ?'' tanya Papa yang memang telah memilih pensiun dan menghabiskan masa tuanya dengan sang istri.
'' Baik Pa, gak ada kendala.'' sahut Aksara sembari menatap ayahnya yang tampak gusar.
'' Pekerjaan adikmu gimana ?'' sambung Papa yang kini menatap manik mata Aksara.
'' Semenjak di bantu Dave semua lancar Pa, mereka sedang menangani proyek besar. Dan Aksara sudah bener-bener lepas tanggung jawab. Karena Dave tidak perlu di pertanyakan lagi kemampuannya.'' ucap Aksara yang memuji kepintaran Dave dalam memimpin.
Papa tampak menghela nafas berat, tatapannya menerawang tak tentu arah. Aksara memperhatikan Papa yang terlihat gundah.
'' Ada apa Pa ?'' tanya Aksara yang melihat gelagat sang ayah yang terlihat gusar. Tampak lelaki itu menghela nafas. Aksara masih diam menunggu, apa yang sesungguhnya ingin di sampaikan lelaki itu.
" Soal Dave Sa''
Aksara tersenyum tipis menyadari kegundahan yang menyelimuti hati sang Papa.
''Soal latar belakang Dave Pa ?'' tanya Aksara yang diangguki okeh Papa.
'' Kamu sudah tahu ?'' lelaki berumur menatap anaknya dengan intens.
'' Sudah,aku gak mau kecolongan lagi, jadi aku menyelidiki Dave."jawab Aksara, Papa nampak menghela nafas.
'' Tapi kita juga sudah kecolongan '' tutur Papa.
''Pa, memang latar belakang dan masa lalu Dave tidak bisa di bilang baik. Tapi sejauh yang Aksa amati semenjak dia bersama Vea dia tidak pernah mengkhianati Vea. Meski Aksa juga curiga hubungan mereka sudah terlalu jauh. Beberapa kali Aksa dapat info mereka bermalam bersama '' tutur Aksara , Papa termangu.
" Yah, mereka sudah cukup dewasa untuk memilih jalan mereka seperti apa. Meskipun Papa juga tidak membenarkan tapi mau bagaimana lagi. Itu pilihan mereka,dan rasanya Papa pun sudah tidak punya alasan untuk menghalangi hubungan mereka. Meskipun nama baik jadi taruhan, keluarga Dwilangga memiliki besan wanita simpanan." ucap Papa dengan nada pasrah. Jika benar yang di ketahui sang putra tentang gaya pacaran anaknya. Ia bisa apalagi selain merestui.
" Tapi Dave bukan anak dari hasil hubungan gelap ibunya,dia anak sah dari pernikahan orang tuanya yang bercerai saat ia masih kecil. Ia di besarkan oleh kakek neneknya dari pihak ibu." terang Aksara, membeberkan fakta yang memang belum di ketahui Papa Hermawan.
Namun tetap saja predikat wanita simpanan yang sudah terlanjur melekat di diri Vina tak akan merubah keadaan. Tak ada yang peduli dengan Dave yang anak sah, mereka hanya akan menggunjingkan tentang Vina seorang simpanan para bos-bos mata keranjang.
" Sebenarnya Papa tidak masalah dengan Dave, dia lelaki cerdas dan pekerja keras. Dari cara dia memperlakukan adikmu juga menyiratkan cinta yang besar. Tapi cerita kelam Mama nya akan berimbas juga dengan keluarga kita. " keluh Papa, sembari menghembuskan nafas. Dengan tatapan menerawang.
" Aksa ngerti Pa,tapi kita juga gak boleh egois. Kebahagiaan Vea yang di pertaruhkan di sini Pa " tutur Aksa lembut, mencoba memberi pengertian pada sang ayah. Benar nama baik keluarga penting,tapi haruskah kebahagiaan Vea yang tergadaikan ?.
" Kamu benar, beberapa hari ini saja,Vea bersikap dingin sama Papa" lanjut lelaki itu dengan senyum getir.
" Dia berbicara hanya bila Papa bertanya, selebihnya dia memilih diam dan acuh. Jelas kelihatan kalau dia kecewa sama Papa. Mungkin memang saatnya Papa menurunkan ego untuk kebahagiaan anak" pungkas Papa dengan sudut bibirnya tertarik.
Sepulang Aksara dari kediaman orang tuanya. Kini duduk bersebelahan sepasang suami istri seraya menyaksikan tayangan televisi. Sesekali tampak sang suami melihat jam di dinding.
" Kenapa Pa ?" tanya istrinya yang menyadari sang suami yang gelisah.
" Vea kok belum pulang ya Ma ?, apa dia bilang gak pulang ?" tanya lelaki dengan raut cemas.
" Dia ke luar kota Pa,tadi sudah bilang ke Mama pulang agak malam". sahut sang istri membuat lelaki itu menghembuskan nafas lega.
Sesungguhnya ada kekhawatiran jika putri semata wayangnya itu pergi dari rumah. Ia tak mau karena keegoisan dirinya sang putri pergi lagi. Cukup yang sudah terjadi sekali jangan lagi terulang.
" Papa kenapa ?, takut Vea pergi lagi ?" tanya Mama yang kini menyandarkan kepala di pundak sang suami.
" Iya Ma, Papa gak akan egois lagi. Rasanya Papa gak tenang di diamkan oleh anak kita beberapa hari ini." tutur Papa seraya mengusap lembut kepala sang istri.
" Makasih ya Pa,buat Mama kebahagiaan Vea jauh lebih penting dari segalanya. Melihat Vea menangis rasanya sakit Pa " ungkap wanita itu seraya menenggelamkan diri di dada sang suami. Hermawan mengecup puncak kepala istrinya.
" Maafkan Papa yang egois Ma " ucap Papa tulus.
Sepasang suami istri itu masih duduk saling merengkuh. Menikmati kembali romansa cinta di waktu senja. Cinta yang tak lagi butuh kata, cukup sebuah kebersamaan saling menguatkan, saling mengingatkan.
Suara deru mobil terdengar di halaman rumah megah itu. Sesaat suara mobil tak terdengar namu bersamaan dengan pintu utama yang terbuka suara deru mobil itu kembali terdengar dan pergi meninggalkan kediaman keluarga Dwilangga.
Suara heels yang beradu dengan lantai marmer itu terdengar nyaring di heningnya ruang tamu. Vea melangkah dengan wajah lelahnya menuju kamar di lantai dua. Saat hendak menaiki undakan tangga suara Papa menghentikan langkahnya.
" Baru pulang Ve ?'' tanya Papa yang muncul dari ruang keluarga.
" Iya Pa, papa belum tidur ?" tanya Vea .
" Belum ,sengaja nunggu kamu ". ucap Papa membuat Vea mundur selangkah dan kini berdiri berhadapan dengan Papa.
" Ada apa Pa ?" selidik Vea.
" Gak apa-apa, cuma Papa mau minta tolong kamu. Bilang ke Dave untuk menemui Papa besok di rumah. Kamu barusan diantara dia ?"tanya Papa yang diangguki oleh sang putri.
" Kok gak mampir ?"
" Udah malem Pa " sahut Vea.
" Ya sudah ,besok bilang Papa tunggu di rumah". tutur Papa membuat rasa penasaran membayang di pikiran Vea
" Buat apa Pa ?" tanya Vea yang tak mampu lagi menahan rasa penasarannya.
" Buat bahas lamaran kalian " jawab Papa seraya melangkah pergi. Meninggalkan Vea yang terperangah seraya mengedip-ngedipkan mata seolah tak percaya dengan pendengarannya.
" Pa !" panggil Vea saat sang ayah semakin menjauh. Lelaki itu membalikkan badan seraya mengangguk. Vea tersenyum lebar, jangan lupakan binar bahagia yang terpancar dari bola matanya.