
Dengan track record Dave yang memang memiliki masa lalu kelam. Sulit untuk Vea berpikir positif dengan apa yang tadi di lihatnya. Tanpa di minta air mata itu mengalir di pipinya. Dadanya terasa sesak. Di saat ia mulai percaya dengan lelaki itu,dan berniat memberi waktu pada Dave untuk keseriusan yang ia minta. Tapi nyatanya pemandangan di apartemen sang kekasih membuatnya berpikir ulang tentang hubungan mereka.
" Mbak !,maaf mbak sudah sampai" suara sopir taksi membuyarkan lamunan Vea. Ia tergagap dan menyadari telah berada di halaman kantor.
" Oh ya, maaf Pak saya melamun " ucapnya rikuh. Kemudian Vea membayar taksi sesuai tarif. Turun dari mobil setelah menghapus air mata. Menarik nafas dalam untuk sekedar melonggarkan sesak di dadanya.
" Makasih Pak " ucap Vea dengan seulas senyum yang coba ia paksakan di bibirnya.
" Sama-sama mbak,mari !" pamit Pak sopir dengan sopan sebelum melaju menjauh meninggalkan kantor Vea.
Vea melangkah masuk, bersamaan dengan beberapa karyawan lain. Saling menyapa dengan senyum riang,mengawali pagi mereka dengan semangat untuk memulai kerja pagi ini. Tapi tidak dengan Vea,sampai ia di ruangannya, tatapan matanya nanar menerawang jauh.
Akhirnya ia milih kembali keluar ruangan. Ia hendak menemui Zee di ruangannya. Namun belum sempat ia membuka pintu ruangan Zee ia bertemu OB yang baru keluar dari ruangan Zee dengan alat kebersihan nya.
" Zee nya ada di dalam mas ?" tanya Vea pada OB yang sedang menutup pintu itu .
" Belum ada Bu" sahut sang ob.
" Ya sudah makasih ya " ucap Vea ramah yang di balas anggukan oleh sang OB.
" Mari Bu,saya permisi dulu " pamitnya pada Vea. Vea tersenyum dan mengangguk,kemudian menarik handle pintu dan masuki ruangan milik Zee.
Vea meletakkan map yang sedari tadi di bawahnya diatas meja kerja Zee. Kemudian ia merogoh tas yang masih tersampir di pundaknya. Mengambil ponsel dari dalam sana.
' Zee,gue ijin gak kerja,berkas yang kemarin gue taruh di ruangan Lo. ' ketik Vea, kemudian di kirim untuk Zee. Tanpa menunggu balasan dari sahabatnya ,Vea pergi dari ruangan itu.
Berjalan keluar kantor,tanpa tahu ia hendak pergi kemana. Ia hanya ingin sekedar melepas sesak di dadanya. Berjalan tanpa tujuan di sisi jalan yang banyak berdiri perkantoran di sana. Terik matahari mulai terasa panas menyapa kulit mulusnya. Sampai akhirnya ia memutuskan memesan taksi online.
Menunggu di sebuah halte yang terlihat sepi. Lagi,rasa sesal itu menghampiri. Kini ia menyadari bahwa ia benar-benar terjatuh pada pesona seorang Dave. Seandainya rasa cinta itu belum menetap di hatinya mungkin tak akan sesakit ini luka yang ia rasa. Rasa cemburu saat melihat ada wanita lain dalam apartemen sang kekasih tak bisa ia hindari. Dan rasa kecewa saat ia merasa bahwa kekasihnya belumlah berubah. Tak terasa air mata itu kembali meleleh,membasahi pipinya.
Wajah tertunduk Vea langsung menengadah saat sebuah tangan dengan sapu tangan terjulur di hadapannya.
" Fardan !" ucap Vea,dengan tatapan menggarah pada lelaki yang tersenyum padanya. Tanpa berbicara lelaki tampan itu tertunduk dan menghapus air mata di pipi wanita cantik itu.
" Kenapa nangis di sini ?" tanya Fardan . Sekilas tatapan mereka bertemu. Vea menatap dalam diam. Fardan tersenyum dan mengusap lembut kepala Vea.
" Kenapa ?" tanya Fardan lagi. Dan justru membuat tangis Vea kembali datang. Fardan menegakkan tubuhnya,membawa Vea dalam pelukannya. Vea menangis dengan posisi wajah di perut Fardan. Karena Fardan yang masih berdiri.
Entah masalah apa yang sedang di hadapi sahabat yang dicintainya itu. Namun hatinya terasa ngilu,melihat wanita yang dicintainya menangis. Ia hanya mengusap lembut kepala Vea. Beberapa saat Vea mampu menguasai diri,ia melepaskan diri dari dekapan Fardan,mengambil sapu tangan di tangan Fardan. Kemudian menghapus sisa air mata. Fardan hanya menatap dengan tatapan sendu.
Tak berapa lama,sebuah mobil berhenti di dekat mereka.
" Maaf dengan Mbak Vea ?" tanya pengemudi setengh baya itu. Vea mengangguk dan berdiri dari duduknya.
" Mau kemana ?" lembut Fardan yang di sambut gelengan oleh Vea.
" Kamu tetep di sini" pinta Fardan yang langsung melepas tangan Vea tanpa menunggu respon wanita itu.
Fardan menghampiri taksi yang di pesan Vea. Membayar taksi sesuai tarif ,kemudian meminta sopir untuk meninggalkan tempat tersebut tanpa Vea.
" Kamu kemana ?, aku yang anterin " ujar Fardan setelah kembali di hadapan Vea.
" Gak tau mau kemana,kok kamu di sini sih ?" tanya Vea yang heran kenapa lelaki itu pagi-pagi sudah di sini.
" Tadi rencana mau nemuin kamu di kantor. Eh lihat kamu malah di sini lagi nangis. udah ayo ikut aku !,jangan kayak orang hilang deh. Gak lucu banget kalau besok pagi bakal ada wajah kamu di kolom koran pencarian orang hilang"
" Ih apaan sih, bukannya ikut perihatin malah ngeledek " sebal Vea dengan bibir manyun. Fardan yang sebenarnya gemas melihat wajah Vea. Hanya bisa memukul pelan bibir Vea dengan jarinya.
" Gak usah manyun gitu,ayo ikut !" titahnya seraya mengulurkan tangan.
" Bisa jalan sendiri " sahut Vea seraya melewati Fardan menuju mobil yang terparkir di sisi jalan. Fardan menatap tangannya sendiri kemudian menggenggam nya dengan senyum getir di bibirnya.
Fardan menyusul langkah Vea, membukakan pintu untuk wanita itu. Tak berselang lama iapun ikut duduk di samping Vea,di belakang kemudi.
" Terus aku mesti nganterin kamu kemana ini ?'' tanya Fardan yang sedang menghidupkan mesin mobil.
'' Kemana ya ?,ke tempat yang tenang,gak ada yang ganggu gitu '' ucap Vea dengan raut wajah berpikir. Karena ia sendiri bingung hendak kemana. Yang pasti ia hanya malas ketemu kekasihnya hari ini.
'' Oke kita ke villa aja'' putus Fardan membuat Vea terjengit kaget.
'' Eh villa dimana ?'' tanya Vea sembari menatap wajah sang sahabat.
'' Udah ikut aja gak jauh kok'' sahut Fardan tanpa menoleh,karena sedang fokus melajukan mobil.
" Ya udahlah terserah kamu" ucap Vea lalu menyandarkan diri di sandaran kursi mobil. Fardan melirik sahabatnya yang terlihat lesu.
Ia yakin ada masalah yang membuat Vea menangis. Tapi ia menunggu sahabatnya itu untuk bercerita sendiri. Sementara ia cukup diam dan menemani sang sahabat istimewa itu. Fardan memutar lagu untuk menemani perjalanan mereka. Vea tak bergeming,kini ia justru memejamkan mata.
Dan buliran bening kembali mengalir. Fardan rasanya tak lagi tahan untuk diam.
" Ve,siapa yang udah bikin kamu nangis ? " tanya Fardan yang merasa hatinya ikut tercubit melihat wanita yang di sayangnya menangis. Akhirnya tak bisa menahan diri untuk tetap diam.
" Nanti aku ceritain Dan, sekarang aku cuma lagi pengen nangis aja " sahut Vea,Fardan hanya bisa menghela nafas. Tak ingin memaksa,Fardan kembali fokus pada jalanan yang sudah lumayan lengang.