
Vea meninggalkan apartemen Dave menggunakan mobil miliknya yang di kirim dari bengkel ke apartemen Dave. Tentunya dengan tawar menawar dulu dengan kekasihnya yang tak mau melepas Vea pulang sendiri. Tapi akhirnya Dave memperbolehkan Vea pergi setelah mendapat telpon dari seseorang yang merubah raut wajah Dave menjadi sedikit keruh.
Di dalam mobil, berkali-kali Vea menghela nafas berat. Sebelah tangannya memijit pelipis yang terasa pening. Kenyataan memiliki kekasih yang dengan trauma cukup memusingkan.
Meski ia telah rela menyerahkan tubuh pada sang kekasih. Tapi hidup bebas tanpa ikatan bukan jalan hidup yang ia pilih. Ia sangat sadar ,jika yang ia lakukan salah. Namun ia pun tak bisa memungkiri hasrat nya yang tak bisa menahan sentuhan lelaki yang mengenalkan sebuah rasa yang mampu menenggelamkan kewarasannya.
Vea menghentikan mobilnya di sebuah taman. Pikirannya terasa penat, ia ingin sedikit menyegarkan otaknya. Berjalan di jalan setapak area taman setelah memarkirkan mobilnya. Tak terlalu banyak orang karena uni bukan hati libur. Hanya ada beberapa orang di sana. Matahari mulai meninggi,Vea mengenakan kacamata hitam agar cahaya matahari tak terlalu menyilaukan matanya.
Berjalan diantara bunga yang tertata rapi, hingga pohon yang cukup rindang menaungi dirinya dari sengat langsung sang mentari. Sedikit kesejukan ia rasa saat angin berhembus membelai kulit mulusnya.
Sampai ia di sebuah jembatan kecil ,dibawahnya tampak mengalir sungai kecil dengan air jernihnya. Terlihat bayangan dirinya yang menatap kearah air . Rasa sesak di dadanya masih terasa,ia bingung dengan akhir kisah cintanya.
Mempertahankan cinta tanpa kepastian terlalu rumit baginya. Namun meninggalkan Dave saat ini terlalu menyakitkan rasa. Ia mencintai lelaki itu. Meski ia tak bisa sepaham dengan pemikiran sang kekasih.
" Aku harus gimana ?'' ucapnya lirih seraya menatap langit yang tampak cerah dengan warna birunya. Awan tampak beriring tertiup angin . Andai perasaannya seringan awan,ingin ia terbangkan saja. Dan melupakan cinta yang mengikat hatinya.
Inikah rasa yang harus di tanggung nya saat cinta itu datang dari kesalahan. Andai malam itu ia melakukan kesalahan itu,mungkin ia tak akan bertemu Dave , menghabiskan malam gila dengan lelaki itu. Dan terjebak dalam cinta yang membelenggu. Ah, terlalu banyak kata jika dalam benaknya. Mungkin memang sudah takdirnya menikmati rasa cinta ini. Cinta tanpa ujung,hingga ia tak tahu di mana akan berlabuh.
" Kayaknya Tuhan tuh emang nurunin gue ke bumi buat jadi penjaga lo ya ?'' suara seseorang yang tanpa Vea sadari sudah berdiri di belakangnya. Vea menoleh menarik nafas panjang,mendapati wajah familiar itu .
" Yang ada lo tuh kayak hantu. Tetiba ada di depan gue " gerutu Vea di bakas tawa lelaki yang tak lain adalah Fardan.
" Yah,emang gue lagi menjalankan misi untuk jadi hantu. Biar gue bisa terus menghantui lo " ucap Fardan .
" Basi lo ah " ucap Vea sambil melengos yang di balas kekehan sahabatnya.
'' Kenapa lagi ?'' tanya Fardan yang sudah mengubah template wajahnya menjadi serius. Vea hanya menghela nafas, tatapannya nyalang tak tentu arah .
" Cowok lo marah, gara-gara semalam ?"selidik Fardan. Vea menggeleng lemah.
" Terus kenapa ?, jangan bikin gue khawatir Ve ". ungkap Fardan yang merasa ikut sedih melihat wajah muram wanita yang masih memiliki sebagian dari hatinya.
" Gak usah lo omongin gue juga tau Ve " Vea tertawa sumir mendengar ucapan Fardan.
" Tapi ternyata mencintai dia itu berat " lirih Vea,sudah harus berurusan dengan masa lalu Dave yang merupakan seorang player . Sekarang di hadapkan trauma masa lalu Dave yang tak menginginkan pernikahan bahkan tak menginginkan adanya anak.
Semua terlalu membebani perasaan Vea,ia yang di besarkan dengan adat ketimuran jelas pernikahan adalah sebuah ikatan sakral untuk sebuah hubungan. Kehidupan bebas tak menjadi sebuah budaya yang di maklumkan. Dan memiliki keturunan masih menjadi sebuah kebanggaan setiap pasangan. Dan kini ia di hadapkan dengan pasangan yang menginginkan kehidupan bebas tanpa ikatan,tanpa keturunan.
" Ve " panggil Fardan,membuat Vea menatap lelaki yang selalu menawarkan kenyamanan untuknya. Namun sayang, hatinya tak bisa memilih. Andai ia bisa memilih untuk menjatuhkan hati pada lelaki di hadapannya,mungkin ia tak akan merasa dilema.
Fardan meraih pundak sahabatnya,menatap manik bening itu dengan tatapan yang dalam.
" Ketika kamu merasa cinta itu layak kamu perjuangkan,maka perjuangkan cinta itu sampai kamu lelah. Namun bila cinta itu tak pantas kamu perjuangkan, lepaskan Ve. Sampai kamu tidak lagi merasakan sakit saat cinta tak bisa kamu miliki, terkadang cinta bukan tentang saling memiliki,tapi bagaimana cinta itu bisa membahagiakan'. tulus kata itu jelas tulus dari bibir orang yang tulus juga dengan cintanya .
" Thanks ya Dan " ucap Vea yang di sambut senyum lembut Fardan.
" Udah gak usah galau, don't over thinking, semua bakal baik-baik aja,yang gue liat cowok lo tuh juga cinta banget sama lo,lo mesti yakin apapun yang sedang lo hadapi pasti ada jalan keluarnya". ungkap Fardan yakin seraya menurunkan tangan dari pundak Vea.
'' Semoga aja gak serumit pikiran gue '' sahut Vea.
'' Oke, lupain problem lo,kita ngopi, ayok !'' ajak Fardan mendorong pelan pundak Vea untuk meninggalkan jembatan kecil itu. Vea tertawa renyah seraya melepaskan tangan Fardan. Kini mereka jalan beriringan keluar dari area taman.
'' Kok lo bisa ada di sini sih Dan,lo gak nguntit gue kan ?" tanya Vea menghentikan langkah dengan sorot mata curiga.
" Hahaha.... enak aja lo nuduh gue. Gue tuh tadi mau ngopi-ngopi ganteng nongkrong santuy sambil ngecengin cewek di depan sono " ucap Fardan sambil menunjuk coffe shop yang memang terletak tak jauh dari taman. " Terus liat lo jalan ke taman sendirian,takut aja lo lagi ada masalah soal semalem sana cowok lo. Eh taunya bener lagi galau lo nya " lanjut Fardan .
" Tapi bukan karena lo kok Dan,cuma ada beda cara pandang kita aja soal hubungan " ucap Vea yang merasa tak perlu menceritakan masalah dalam hubungannya dengan Dave.
" Gue pikir lo bakal di larang ketemu gue "ucap Fardan yang kini telah kembali melangkah beriringan dengan Vea.
'' Gak sampai yang ngelarang sih,tapi yah gitu deh cemburu kali ya . Tapi udah gue jelasin juga sih''. Fardan tersenyum getir,tak pernah menyangka hubungan persahabatan yang tua jali. dengan Vea sedari SMA akan menimbulkan sebuah kecemburuan. Tapi ia pun tak bisa memungkiri hati yang masih saja terpaut okeh pesona ayu sahabatnya itu.