
Terbangun dari lelap tidurnya,Vea mendapati wajah damai Dave yang masih terlelap. Terbersit tanya dalam benaknya,tentang lelaki tampan itu. Ia tak begitu mengenal latar belakang sang kekasih. Tak pernah sekalipun Dave membicarakan keluarganya. Dan semalam saat mamanya menelpon jelas sekali tak ada kedekatan diantara mereka.
Vea tak bisa meraba kehidupan lelaki yang masih erat memeluknya meski dalam tidur yang lelap. Ada banyak hal yang tidak ia ketahui tentang lelakinya. Perlahan Vea membelai lembut pipi Dave,sampai di bibir lelaki itu, Vea menyentuh dengan ujung jarinya. Mendekatkan wajah,dan memberikan kecupan kecil di bibir Dave.
Dave tersenyum dengan mata yang masih terpejam,namun tak bersuara. Hanya pelukannya yang semakin erat. Vea yang menyadari Dave telah bangun memencet hidung Dave.
" Pura-pura tidur ya ?" ucap Vea yang semakin keras memencet hidup mancung Dave.
" Aduh Yang,sakit '' keluh Dave seraya melepas tangan Vea dari hidungnya. Dan di usapnya dengan ujung jarinya. Mengerucutkan bibir, dan memasang raut kesal. Membuat Vea tersenyum,merasa gemas dengan kelakuan Dave yamg pura-pura kesal memasang wajah sok imut. di kecupnya kembali bibir Dave.
'' Eh mulai berani ya '' ucap Dave sambil menahan senyum dan menarik tubuh kekasihnya semakin merapat. Menggelitik pinggang Vea membuat Vea tertawa lepas seraya memberontak berusaha melepaskan diri.
'' Ampun Yang,ampun '' teriak Vea yang sudah tak tahan di gelitiki Dave. Dave menyudahi aksi jahilnya,kemudian mengungkung tubuh Vea di bawah tubuhnya. Menatap dalam mata sang kekasih seraya sebelah tangannya mengusap lembut pipi Vea berakhir di bibir ranum yamg sekalu membuatnya ingin meluumat dan mencecapnya.
Dave memberikan ciuman manis pada Vea yang pasrah di bawah kungkungannya. Hanya ciuman tak lebih,Dave kembali menatap bola mata itu.
'' Terima kasih ya '' ucap Dave dengan seulas senyum tipis sembari merapikan anak rambut Vea yang tampak berantakan. Vea mengulurkan tangan,menyentuh pipi Dave .
'' Buat apa ?'' tanya Vea lembut dengan tatapan mata mereka yang saling bertaut.
'' Buat kamu yang udah hadir di hidup aku,dan memberi warna indah di hidupku. Dan buat kamu yang sudah meruntuhkan benteng hatiku yang tak percaya dengan cinta. Kamu menyadarkan aku bahwa cinta itu ada dan indah '' ungkap Dave yang masih menatap wanitanya dengan sorot mata penuh cinta.
'' Kenapa ?'' tanya Vea yang membuat Dave mengernyit tak paham.
'' Apanya ?'' Dave mengembalikan pertanyaan yang sama membingungkan.
'' Kenapa harus gak percaya cinta ?'' tanya Vea di perjelas.
Dave bangun,kemudian menyandarkan tubuh di kepala ranjang. Sorot matanya menerawang jauh. Vea ikut bangkit,bersandar pada bahu bidang itu. Menatap sorot mata yang terlihat menerawang. Ada kesedihan di dalam sorot mata itu. Ada sesuatu yang seakan tak mampu untuk Vea sentuh.
" Aku....,aku adalah produk gagal sebuah hubungan. Aku yang katanya buah cinta namun terluka. Mereka meninggalkan aku tanpa pernah perduli dengan apa yang aku rasa. Aku terlahir dari ikatan yang mereka bilang suci. Tapi keberadaan ku tak pernah di hargai. " terlihat mata itu berkaca-kaca. Baru kali ini Dave mampu berbagi cerita tentang luka yang selama ini ia simpan rapat di sisi hatinya.
Vea ikut merasakan kepedihan,tanpa terasa air mata menetes di pipinya. Di balik lelaki yang selalu membuatnya istimewa ada luka yang tersimpan rapi di hatinya. Ia hanya bisa memeluk erat lelaki yang kini tampak menengadah,mempertahankan air mata agar jangan sampai tumpah .
" Itu sebabnya aku selalu berpikir,bahwa cinta bukan tentang ikatan pernikahan,juga bukan tentang keturunan. Aku..." ucapan Dave tercekat. Ia tahu apa yang akan keluar dari bibirnya,akan membuat kekasihnya kecewa.
" Aku tidak ingin punya anak,aku tak ingin menikah " lirih Dave. Vea tersentak,hati ya mencelos.
Namun hendak mendebat pun rasanya tak tepat. Lelaki yang sedang berbicara adalah lelaki yang sedang trauma akan masa lalunya. Ia yang seharusnya menyembuhkan semua trauma yang ada di hati lelakinya.
" Aku cinta sama kamu,aku gak mau kehilangan kamu. Tapi...,tapi aku gak bisa menjanjikan apapun sama kamu. Aku...aku ingin kita terus seperti ini saja "ucapan Dave terbata-bata. Ia sadar pasti mengecewakan Vea. Tapi ia masih tak yakin akan sebuah ikatan cinta.
Meski jelas ada kecewa yang menghampiri hatinya. Vea berusaha untuk tersenyum. menangkup wajah sang kekasih,menatap dalam bola mata sendu itu. Sebuah kecupan ia berikan di bibir lelaki yang tampak putus asa .
" Kita jalani saja, tidak ada yang pernah tau akhirnya dimana. Tetap di sampingku,dan aku akan mematahkan semua keraguan mu. I love you " ucap Vea yang disambut senyum oleh Dave. Direngkuhnya Vea dalam dekapan dada bidang itu.
" I love you Alivea,love you more and more " bisik Dave kemudian mengecup puncak kepala sang kekasih. Dengan wanita ini ia telah menjatuhkan hatinya sejatuh-sejatuhnya,hingga ia tak yakin mampu menepi dari gelombang cinta yang menyeretnya masuk ke dalam pusaran rasa yang membara.
Dan pada lelaki ini pula Vea menjatuhkan hatinya. Saat ini ia mencintai lelaki yang tak bisa menjanjikan apa-apa untuknya. Mencintainya dengan gila,tak lagi ada logika di dalamnya. Karena ia hanya ingin bersamanya,saat ini meski ia tak tahu tentang nanti.
Cukup lama dua sejoli itu saling berpelukan dalam diam. Menikmati pikiran masing-masing. Yang sesungguhnya memiliki ketakutan yang sama. Takut akan hubungan yang mereka jalani. Vea yang pasti tak akan mungkin terus bertahan dalam hubungan tanpa kepastian. Namun melepaskan bukanlah jalan. Meyakinkan Dave untuk sebuah pernikahan mungkin akan menjadi sebuah tantangan yang berat .
Dave pun merasa tak aman dengan hubungan ini. Ia sadar bahwa ketakutan nya seakan tak beralasan,ia juga bisa melihat ada banyak pasangan yang berhasil dalam pernikahan. Namun untuk meyakinkan hatinya ia terlalu pengecut. Bayang kisah masa lalunya masih samar terlihat.
Ia seperti anak yang terbuang,ketika cinta tak lagi sejalan. Kedua orang tuanya tak ada yang menoleh saat ia terisak menangisi mereka yang pergi meninggalkannya. Dan pertengkaran yang terkadang masih ia dengar,saat tak sengaja dua orang yang pernah saling mencinta dan menikah bertemu ketika menjenguknya.
Hingga akhirnya neneknya melarang mereka datang untuk menjenguk Dave. Dengan neneknya ia menjalani hidup yang tak mudah. Menjadi korban keegoisan orang tuanya. Menyisakan trauma yang masih membekas dalam hati dan pikiran.