
Dering suara ponsel, membangunkan Vea dari tidur lelapnya. Tampak ia menggeliat dan mencari-cari ponsel nya. Setelah ia membuka mata. Baru ia menyadari ia tak berada di rumah ataupun di apartemen miliknya. Suara dering handphone pun bukanlah miliknya.
Terlihat benda pipih itu mengerjap- ngerjap di atas meja yang terletak di samping tempat tidur.
'' Kemana sih orangnya ?'' gumam Vea sambil menyibak selimut. Turun dari ranjang dan menghampiri ponsel yang masih saja berbunyi. Mengernyitkan dahi melihat nama " Mama" tertera di layar ponsel.
Mata Vea tertuju pada pintu penghubung antara kamar dan balkon. Terlihat pintu yang terbuka sedikit. Mungkin Dave di sana ,pikir Vea. Saat melangkah hendak keluar dari kamar ponsel yang sedari tadi berdering kini diam.
Namun Vea menangkap sosok yang di carinya, berdiri bersandar pada pembatas balkon. Menengadah menatap langit yang nampak gelap. Kepulan asap terlihat dari bibir lelaki yang sedang menghisap benda bernikotin itu. Vea melangkah pelan menghampiri Dave yang belum menyadari kedatangan nya.
" Sayang !" sapa Vea seraya melingkar kan tangan di pinggang lelakinya. Dave lantas mematikan putung rokok di teralis besi yang di gunakan sebagai sekat balkon.
Dave menggenggam tangan kekasihnya. Memutar badan dan mendapati senyum manis sang kekasih.
" Kok bangun ?'' tanya Dave seraya menyelipkan helai rambut di belakang telinga Vea.
" Kebangun hp kamu bunyi " sahut Vea sembari menyodorkan ponsel milik Dave.
" Siapa ?"
" Mama kamu,kamu telpon balik deh, takutnya penting " ucap Vea. Dave mengambil benda pipih itu dengan senyum sinis terlukis di bibirnya
" Gak ada yang penting di keluarga ku " ucap Dave dengan nada getir. Kemudian berdiri membelakangi wanitanya. Kembali menengadah menatap pekatnya langit. Vea mengelus punggung kekasihnya,ia tak pernah tahu hubungan ibu dan anak itu. Namun dari yang ia lihat, pasti tidak baik-baik saja.
" Kenapa ?" tanya Vea lembut,kembali memeluk kekasihnya dari belakang. Menyandarkan kepala di punggung kokoh itu. Sesaat keduanya terdiam,menikmati moment intim berdua dalam balutan cinta tanpa hasrat membara. Nyaman,satu kata yang di rasa oleh hati mereka.
Dering ponsel kembali berbunyi,Dave menatap layar dan berdecak kesal. Vea melepas pelukannya.
'' Angkat Yang'' ucap Vea lembut,Dave membalik tubuhnya menatap wajah kekasihnya yang tersenyum manis. Vea mengangguk, meyakinkan sang kekasih untuk mengangkat panggilan dari Mama nya.
'' Ya ?'' ucapan yang terdengar pertama kali saat Dave mengangkat telpon. Entah apa sahutan dari seberang sana.
'' Hmm,aku usahakan'' kata lanjutan yang terdengar tidak bersahabat.
'' Tidak usah menuntut ku apapun,anda tidak berhak'' marah,jelas nada bicara itu adalah nada kemarahan. Raut wajah Dave pun berubah tegang kemudian menutup sambungan telepon tanpa kata penutup.
Vea yang sedari tadi hanya menatap,mendekati Dave yang tampak di kuasai amarah, menggenggam ponsel dengan kuat di tangannya. Vea mendekap tubuh Dave, menyandarkan kepala di dada bidang itu dengan sebelah tangannya mengusap lembut dada yang bergemuruh hebat.
Dave tersenyum,ada ketenangan saat kekasihnya datang dengan pelukan. Emosinya seketika mereda. Ia membalas pelukan itu dan mencium puncak kepala kekasihnya berkali-kali.
"Masuk yuk,dingin !''ajak Dave yang mulai merasakan semilir dinginnya angin. Menandakan malam mulai beranjak kian larut.
'' Yang aku belum mandi,belum ngabarin rumah. Kamu kok gak bangunin aku sih'' Rajuk Vea seraya mengikuti langkah Dave memasuki kamar. Dave meraih tubuh Vea mendekat padanya. Mengecup pelipis wanita tersebut dengan seulas senyum di bibirnya.
'' Kamu WA pakai nomer kamu ?''
'' Ya gak lah yang,pake nomer kamu '' jawab Dave santai.
'' Kan aku pake kode ''
' Tanggal lahir kamu,jadi gampang '' .ucap Dave yang tak lagi di sahuti oleh Vea,dia masuk ke dalam diikuti Dave yang masih setia dengan senyum melihat wanitanya. Vea tidak terlalu peduli,toh di hpnya tak ada rahasia.
'' Aku mau mandi, pinjem baju kamu'' ucap Vea setelah berada di kamar. Baru terasa badannya yang lengket.
'' Udah malem Yang,nanti kamu masuk angin. Makan aja yuk,kamu belum makan'' . titah Dave .
'' Risih Yang ''
'' Ya udah kamu cari aja di lemari,aku tunggu kamu di meja makan. Jangan lama-lama udah malem.'' peringat Dave sambil pergi keluar kamar. Vea tak menyahut,ia menghampiri lemari Dave,mengambil kaos oblong dan celana kolor pendek. Karena hanya celana itu ya g bisa di pakai nya yang lain sudah pasti kebesaran.
Hanya sekitar sepuluh menit Vea berada di kamar mandi. Karena memang sudah terlalu malam. Jam di dinding kamar Dave sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Vea menghampiri Dave yang menunggunya di meja makan. Dave terpaku melihat Vea yang polos tanpa make up,dengan kaos kedodoran serta celana kolor miliknya. Celana yang hampir tak terlihat karena tenggelam di balik kaos kebesaran yang di kenakan Vea.
'' Wow,.... kamu seksi honey '' ucap Dave dengan mata berbinar, kemudian menarik Vea duduk di pangkuan nya. Mencium tengkuk sang kekasih, menikmati harum sabun miliknya.
'' Kamu gak pake daleman ya ?'' bisik Dave dengan nakal menggigit kecil telinga Vea dan sebelah tangannya meremas dada Vea.
'' Sayang '' sentak Vea seraya memukul pelan tangan Dave yang bertengger di atas dadanya. Gelenyar rasa yang membuat Vea gelisah,setiap kali lelaki itu menyentuhnya.
'' Iya,aku gak akan makan kamu,kamu makan dulu ''. ucap Dave tanpa menurunkan Vea dari pangkuan nya.
'' Aku duduk sendiri '' pinta Vea sambil berusaha melepas tangan Dave yang melingkar di perutnya.
'' Gak usah gini aja'' ucap Dave,dengan tangan lainnya mengambil makanan dan meletakkan di hadapan wanitanya.
'' Kamu gak makan ?''
'' Aku udah makan '' sahut Dave pendek. Sesekali Dave menciumi tengkuk Vea yang sedang berusaha konsentrasi dengan makanan nya. Namun rasa geli yang di hantarkan oleh sentuhan Dave membuatnya merasa tidak nyaman.
'' Aduh sayang,plis jangan gini dong'' protes Vea yang merasakan tangan Dave membelai perutnya. Tak ada selera makan jadinya,baru setengah yang ia makan tapi cumbuan Dave tak lagi bisa di tolaknya.
'' Aku gak tahan,kamu seksi banget'' bisik Dave mesum, tangannya sudah menjalar kemana-mana. Akhirnya Vea menyerah.
Menikmati sentuhan kekasihnya,yang menimbulkan gelenyar rasa nikmat di sekujur tubuh. Tak ada lagi kata hanya lenguhan dan desahaan yang keluar dari keduanya. Dan ruang makan tak lagi menjadi tempat yang di peruntukkan sebagai mana seharusnya. Namun menjadi tempat pelepasan hasrat uang menggelora.