
Berjalan dengan dagu terangkat, sorot matanya begitu tajam. Tak ada keramahan yang tergambar di wajah tampan itu. Langkah tegapnya tertuju pada wanita dengan tampilan modis. Gaya pakaian yang kekinian memperlihatkan gaya hidupnya yang glamor. Tas dan pakaian yang di kenakan pun milik brand ternama.
Wanita berumur lebih dari setengah abad itu masih terlihat cantik dengan kulit yang masih tampak kencang. Jelas terlihat bahwa wanita itu merawat diri dengan sangat baik.
Dave mendekati wanita yang telah menunggunya di sebuah meja di restoran, tempat mereka berjanji untuk bertemu. Tanpa basa-basi Dave duduk di hadapan wanita yang tersenyum sumringah menatap anak lelakinya yang sudah tumbuh dewasa.
" Ada perlu apa ?" tanya Dave dingin seakan enggan menatap wajah yang telah menatapnya dengan tatapan sumringah.
'' Dave ,kita sudah lama tidak bertemu. Apa kamu tidak merindukan mama ?" Dave tersenyum sinis mendapati pertanyaan yang keluar dari bibir wanita yang telah melahirkannya.
Percakapan mereka terjeda saat waiters datang membawa buku menu. Dave hanya memesan jus alpukat,sedang sang mana memesan steak dan jus lemon.
" Kok gak pesen makan Dave ?'' tanya sang mama dengan suara lembut.
" Gak lapar" sahut Dave cuek seraya memainkan ponselnya. Sang mana nampak menghela nafas panjang, menyandarkan punggung di sandaran kursi. Menatap wajah anaknya yang sama sekali tak meliriknya.
" Dave...''
''Gak usah basa-basi,apa tujuan anda mengajak saya bertemu '' potong Dave dengan tatapan tajam tertuju pada wanita yang tampak tersentak dengan ucapan anaknya.
" Apa begini cara kamu berbicara pada mamamu Dave ?" tanya sang Mama dengan mimik wajah nelangsa. Dave tersenyum miring.
" Apa anda pernah mengajari saya, bagaimana bersikap pada orang tua ?". Ada rasa ngilu dalam hati wanita itu. Benar yang di katakan sang anak ia tak pernah mengajari apapun . Namun ternyata mendapat sikap dingin dari seorang anak yang terlahir dari rahimnya itu menyakitkan.
" Saya tidak punya banyak waktu, silahkan anda sampaikan apa maksud anda mencari saya '' lanjut Dave setelah waiters yang membawa pesanan mereka kembali menjauh.
'' Dave,apa kita tidak bisa berbicara layaknya keluarga ?'' tanya sang Mama yang merasa tersinggung dengan bahasa formal yang di gunakan Dave pada nya.
'' Apa kita layak disebut keluarga ?'' tanya Dave setelah meminum jus pesanannya. Wanita di hadapannya menghela nafas panjang. Sulit berbicara santai dengan anaknya ini.
'' Maaf Dave,maaf jika selama ini mama kurang memperhatikan kamu. Tapi bisakah kita memperbaiki semuanya ?, Mama ingin memperbaiki hubungan kita Dave. Mama minta maaf, selama ini sudah meninggalkan kamu''. Dave yang merasa jengah menghela nafas kasar.
'' Selama ini anda kemana ?,dimana anda saat saya membutuhkan anda ?,sekarang saya sudah jadi manusia dewasa yang tak lagi membutuhkan anda. Dan anda datang menawarkan maaf ?,luar biasa sekali anda. Saya tanya sekali lagi,apa keperluan anda meminta saya datang kemari ?'' ucap Dave tegas. Tak ada keramahan dalam tutur kata dari lelaki yang menatap tajam wanita yang kini tampak muram wajahnya.
'' Sebenarnya Mama dalam kesulitan Dave,Mama buruh bantuan kamu '' ucap wanita itu dengan nada lirih tanpa berani menatap wajah nyalang di hadapannya. Dave tersenyum sinis. Sudah bisa di tebak, pasti wanita itu membawa masalah sehingga ingin bertemu dengan dirinya.
'' Apa yang anda butuhkan ?'' tanya Dave to the point.
" Dimana suami anda , kenapa mencari saya ?" tanya Dave yang masih mempertahankan wajah dinginnya.
Wanita bernama Lidya itu hanya bisa menghela nafas berat. Mendapati tatap tajam dan aura dingin dari sang anak.
'' Dia sudah meninggalkan Mama '' lirih wanita itu dengan tatapan menerawang.
Yah, Lidya hanyalah selir dari seorang pengusaha ternama. Dan pada akhirnya ia di tinggalkan sang suami untuk kembali pada permaisurinya. Dave semakin sinis menertawakan kesialan sang mama.
'' Berapa yang anda butuhkan ?'' tanya Dave yang sudah malas untuk berbasa-basi.
'' 250 juta,untuk membayar tunggakan kontrakan tempat usaha mama'' jawab wanita itu. Ia di beri sebuah tempat usaha berupa salon oleh mantan suaminya. Namun nyatanya tempat usaha itu memiliki tunggakan yang harus Lidya bayar.
Dave mengambil secarik kertas di sakunya, menuliskan nominal yang di minta sang mama di atas selembar cek.
'' Anggap ini sebagai bentuk bakti saya karena anda telah melahirkan saya. Karena berkat anda saya menemukan orang yang saya cintai.'' ucap Dave seraya menyodorkan cek kearah Lidya. Lidya tercengang, betapa dengan mudahnya sang anak memberikan uang itu. Meski di bumbui kata cukup pedas dari mulut lelaki itu.
Dave berdiri dari duduknya, hendak melangkah pergi. Namun suara sang mama menghentikan nya.
'' Dave !''
'' Tidak perlu berterima kasih '' ucap Dave membungkam ucapan yang hendak keluar dari mulut mamanya.
Tanpa permisi Dave meninggalkan wanita yang masih mengiringi langkahnya dengan tatapan sendu. Ia menghampiri kasir terlebih dahulu sebelum akhirnya menghilang di balik pintu restoran.
Sampai di parkiran,Dave masuk kedalam mobil. Ia tak langsung menghidupkan mesin. Tampak ia bersandar, menengadahkan kepalanya dengan mata terpejam. Bertemu Mama bagi Dave adalah sebuah sesak di dada. Luka itu semakin terasa,luka di abaikan oleh orang tua. Saat kehadiran nya menjadi sebuah alasan sebuah pertengkaran. Ia seperti terlahir tanpa di harapkan.
Dave tersenyum miring, merasakan himpitan sesak di dadanya. Rasa benci pada wanita itu menguasai seluruh raga dan jiwanya. Dan saat kesusahan wanita itu mencarinya menambah daftar kebencian di hari seorang Dave.
Dimana wanita itu saat ia berjuang untuk tetap bertahan dalam keterbatasan ?. Dimana wanita itu saat ia tertatih meniti karier yang kini mulai ia nikmati hasilnya ?. Dengan mudah wanita itu datang dengan sebuah masalah. Hebat sekali pikirnya. Saat dia butuh tangan untuk menguatkan tak ada yang mengulurkan,saat ia butuh peluk menenangkan tak ada rengkuhan yang ia harapkan. Saat ia tertatih butuh penopang tak ada sedikitpun sandaran yang di berikan.
Dave tumbuh dengan keangkuhan dunia yang menertawakan nasibnya. Ia tumbuh diantara rasa sakit saat ada yang mempertanyakan orang tuanya. Ia adalah luka, luka yang mengangah akibat keegoisan mereka yang bernama orang tua.
Dan kini trauma,menjadi bagian tak terpisahkan dari diri lelaki berparas menawan itu. Trauma yang sulit untuk ia sembuhkan. Meski hati telah busa merasakan indahnya cinta. Namun rasa cinta itu belum bisa meruntuhkan dinding yang ia bangun di hatinya. Ia masih tak ingin mengikat diri dalam tali pernikahan.
Ia hanya ingin menikmati desir rasa cinta yang membara di hatinya. Tanpa harus ada komitmen,ia yakin cinta bisa tetap indah meski tanpa pengikat yang baginya sebuah pengekangan.