If

If
Obat Lelah



Brakkkk !!!


Dave melempar map ke atas meja. Memijit keningnya yang terasa berdenyut. Lagi-lagi Daren membuat ulah. Usaha laki-laki itu untuk menghancurkan dirinya memang tak main- main. Bahkan dengan cepat Daren menghalau para klien nya. Jelas lebih banyak yang tertarik bekerjasama dengan Daren, karena background perusahaan keluarga jelas mempengaruhi.


" Sudah hampir semua klien penting kita di dekati oleh Daren. Tapi saya punya bukti yang mungkin bisa menjatuhkan mereka '' ucap Marcell yamg setia duduk di hadapan Dave. Berbagi masalah bersama.


'' Bukti apa ?'' tanya Dave antusias.


Marcell mengeluarkan foto dan sebuah flashdisk yang dia ulurkan pada sang atasan.


" Saya berhasil memasukkan orang ke workshop mereka. Dan ternyata mereka melakukan kecurangan. Bahan baju mereka jauh dari kata layak. Tapi permainan mereka mewarnai kayu patut di acungi jempol. Serat kayu bisa sama persis seperti kayu berkualitas tinggi.'' terang Marcell,Dave mendengarkan seraya melihat foto-foto yang Marcell berikan.


" oke ini bisa jadi bukti ke klien kalau yang kita berikan kualitas. Cell tolong kamu selidiki juga kehidupan pribadi Daren, dia bisa bertindak licik. Saya harus bisa lebih picik." ucap Dave dengan tatapan tajam tak bersahabat.


" Siap Pak '' sahut Marcell sigap.


" Ya sudah kamu boleh pulang " tutur Dave yang langsung diiyakan boleh Marcell. Keadaan kantor telah sepi saat mereka keluar ruangan. Sudah beberapa hari, mete berdua pulang malam. Terlalu banyak hal yang mereka kerjakan untuk tetap bertahan dalam kekacauan yang diakibatkan oleh seorang Daren Atmajaya.


Dave melajukan mobil di lengangnya jalanan pada malam hari. Sudah lebih dari jam sepuluh malam. Berkali-kali ia memijit tengkuknya yang terasa kaku. Matanya sedikit mengantuk namun ia bertahan.


Saat seperti ini yang ada dalam ingatannya hanya sang kekasih. Ia terlalu menahan rindu yang menggebu. Sudah beberapa hari tak melihat wajah cantik itu, bahkan bertukar pesan pun sangat jarang. Kesibukan membuat mereka seakan merenggang. Padahal seharusnya lusa ia akan membawa Vea bertemu sang ibu. Namun entahlah, permasalahan pada perusahaan benar-benar membuatnya tak bisa memikirkan hal lain.


Ia tak mau semua hasil kerja kerasnya hancur sia-sia. Dave sampai di basemen apartemen,turun dari mobil dengan wajah lusuh. Pakaian yang ia kenakan pun tampak acak-acakan. Jas telah tersampir di lengan. Kemeja lengan panjang yang ia lipat asal sampai siku,dengan bagian depan kemeja telah keluar dari celana. Langkah lunglainya menyusuri lobby apartemen untuk menuju lift yang akan membawanya ke lantai dimana unitnya berada.


Rasa penat menggelayut di seluruh tubuh dan pikirannya. Ia sudah melakukan apapun yang ia bisa untuk tetap membuat perusahaannya terus berjalan. Ia terus berusaha mencari klien baru tak peduli dari perusahaan besar atau kecil. Asal harus ada pemasukan. Jangan sampai perusahaannya tumbang.


Kini lelaki itu sampai di depan unitnya dan membuka pintu dengan kode akses. Suara klik menandakan pintu yang terbuka. Dave mengernyitkan dahi saat ia masuk dan mendapati ruang tamu yang terang benderang. Biasanya ia mematikan lampu saat pergi kekantor. Mungkinkah tadi pagi ia lupa ?. Ah entahlah ia tak terlalu mengingat.


Dave berjalan ke arah rak sepatu untuk mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Dave semakin mengernyit saat melangkah ke arah kamar,semua ruangan terlihat terang. Apa se pikun itu dirinya sampai tak mematikan lampu satu pun ?.


Namun langkahnya sontak terhenti saat sebuah pemandangan mengharukan ia lihat di meja makan. Makanan yang tersaji dengan seorang wanita yang tertidur beralaskan lengan di meja makan.


Lelaki itu mengurungkan niatnya masuk ke dalam kamar. Diletakkannya jas dan tas di sofa. Berjalan perlahan mendekati wanitanya. Duduk di sebelah sang wanita yang tampak pulas tertidur. Dave menyibakkan rambut yang menutupi wajah Vea yang tertidur miring.


Dan kini wanitanya menunggu dengan setia. Sungguh tak ada keberuntungan yang melebihi ini. Di pertemukan dengan seorang wanita cantik,cerdas, mandiri,setia dan pengertian.


Dave masih menatap wajah yang terlelap itu. Ia berjanji segera menyelesaikan permasalahan perusahaannya dan setelahnya ia akan meminang sang wanita. Ia tak lagi ragu pada ikatan sebuah pernikahan. Rasa cinta Dave pada Vea mengalahkan segala keraguannya pada pernikahan.


" Sayang,hei honey !" panggil Dave lembut seraya mengusap pipi Vea. Berusaha membangunkan sang pujaan tanpa mengagetkan. Tampak Vea mengerjapkan mata. Tersenyum manis saat menyadari lelakinya yang membangun kan dirinya.


" Sayang,udah pulang. Maaf aku ketiduran " ucap Vea seraya menegakkan tubuh. Dave terus memandangi sang kekasih dengan tatapan dalam penuh cinta.


" It's oke, seharusnya kamu tidur dulu,kamu kan juga capek. Maaf ya aku gak tahu kamu datang,jadi tadi nyelesain kerjaan dulu." ujar Dave lembut dengan telapak tangan membelai pipi Vea.


" Gak surprise dong kalau aku kasih tau " sahut Vea sembari meraih tangan Dave dan mengecupnya.


" Kamu mandi dulu,biar aku angetin makanannya " ujar Vea yang yakin makanan yang tadi di bawanya pasti sudah dingin. Vea sampai di apartemen Dave sekitar jam setengah sembilan,dan kini sudah jam sebelas malam.


" Ya udah,aku mandi dulu " ucap Dave seraya bangkit dan mendaratkan sebuah kecupan manis di dahi Vea sebelum melangkah masuk ke dalam kamar. Vea hanya mengangguk dan tersenyum lembut sebagai jawaban.


Vea bangun dari duduknya, beranjak kearah dapur dan menghangatkan makan malam mereka di microwave. Tak lupa ia merebus air untuk membuat secangkir cokelat panas untuk sang kekasih.


Tak terlalu lama Dave sudah kembali muncul di ruang makan dengan wajah segar. Rambutnya masih tampak basah. Membuat Vea sedikit mengalihkan perhatian dari piring yang sedang ia tata di meja makan.


" Sayang, malem-malem kok keramas. Kalo masuk angin gimana ?'' ucap Vea,Dave hanya tersenyum lebar dan menghampiri Vea yang berdiri tak jauh darinya. Dave merengkuh tubuh Vea dari belakang, menyandarkan dagu di pundak wanita cantik itu.


" Kan ada kamu sayang,yang angetin aku " ucap Dave dengan nada menggoda. Vea memukul pelan lengan Dave.


" Gak usah macem-macem. Makan dulu ayo,belum makan kan ?" tanya Vea seraya melepas tangan Dave yang melingkar di perutnya.


" Gak sempet makan Yang, terlalu banyak agenda " jawab Dave yang mengikuti Vea duduk bersebelahan di kursi meja makan. Vea mengambilkan makanan untuk Dave di bawa tatapan memuja sang kekasih.


" Makasih " ucap Dave saat Vea meletakkan piringnya di depan Dave. Lelaki itu masih sempat memberikan kecupan manis di pipi Vea.


Dalam heningnya malam sepasang kekasih itu menikmati makan malam yang terlambat. Namun bagi Dave ini adalah makan malam istimewa. Hadirnya sang kekasih di apartemennya adalah obat mujarab untuk segala lelah,resah dan gundah hatinya.