
Rencana pernikahan yang diadakan dalam waktu dekat cukup membuat sepasang kekasih itu di sibukkan dengan berbagai hal. Pagi itu sebelum berangkat ke kantor dua sejoli itu mengadakan meeting dengan Zee, sebagai WO yang mereka pilih untuk memperindah hari sakral mereka.
" Jadi lo maunya gimana Ve ? "tanya sang sahabat yang kini duduk di sofa sambil bersedekap melihat sepasang kekasih yang sedang berdebat.
" Ya out door aja,gak usah ngundang banyak orang cukup keluarga aja. Intimate wedding gitu. Cukup sahabat dan keluarga aja '' ucap Vea.
'' Ya gak bisa gitu dong sayang, rekan kerja aku banyak, belum rekan kerja Papa kamu dan Mas Aksara. Temen Mama Vina , Mama Atika juga. '' ujar Dave memberi pengertian pada sang kekasih.
'' Udah gini aja deh,gue bakal nyari hotel yang bisa buat acara out door dan in door. Jadi nanti pas akad kalau lo pengen intimate wedding,lo cukup undang temen sama keluarga lo doang. Terus nanti acara resepsi kita bikin indoor. Gimana ?'' Zee menawarkan jalan tengah.
'' Gue si oke,kamu gimana Yang ?'' ujar Dave sambil menatap wanita di sampingnya yang sudah tampak malas.
'' Kalau aku sih pengennya yang simpel aja.'' sahut Vea yang sebenarnya malas untuk pesta pernikahan besar-besaran. Terlalu melelahkan baginya.
'' Udah deh Ve ngikut aja lo,pusing gue. Lo gak bisa egois mikirin kepengennya lo doang dong. Gue yakin bokap lo juga bakal ngundang banyak orang. Sekelas keluarga Dwilangga gak mungkin cuma ngundang keluarga.'' ucap Zee yang sedikit kesal dengan sahabatnya itu
'' Iya gue ngikut. '' jawab Vea, karena memang tak mungkin pesta pernikahannya hanya di rayakan kecil-kecilan.
'' Jadi udah deal ya, tempat gue yang nyari lo jangan banyak protes. Acara lo tuh terlalu cepat. Gue juga butuh kerja ekstra ini '' keluh Zee .
'' Iya gue percayakan ke lo,tenang nanti gue kasih bonus. Sekarang yang penting lo kerjain semaksimal mungkin '' tutur Vea yang tak ingin ada celah di hari bahagianya.
'' Oke, nanti gue kabarin kalau udah dapat tempat.
" Oke '' sahut Vea seraya menatap jam di tangannya. " Gue balik ada meeting setelah ini '' lanjut Vea seraya berdiri dan hendak beranjak dari ruang kerja Zee. Zee hanya mengangguk , melihat sang sahabat pergi diikuti oleh kekasihnya.
Dave mensejajarkan langkahnya dan meraih pinggang sang kekasih.
" Yang !" panggil Dave yang merasa sedikit di abaikan okeh kekasihnya.
" Hm, Kenapa ?" tanya Vea, keduanya melangkah masuk ke dalam lift.
" Marah ya ?" tanya Dave hati-hati. Vea mengernyit, seraya menengadah menatap lelakinya.
" Enggak, marah kenapa ?"
" Karena acaranya gak sesuai keinginan kamu " ucap Dave,Vea tersenyum, kemudian menangkup pipi kekasihnya.
" Gak marah sayang,aku juga paham kok gak mungkin kita bikin acara kecil-kecilan. Papa juga pasti gak akan setuju. Kenapa khawatir begitu ?" keduanya saking menatap dalam. Dave meraih tubuh wanitanya dalam pelukan.
" Aku cuma takut kamu marah aja Yang " ujar Dave seraya mencium wangi rambut sang kekasih. Vea tersenyum di balik dada bidang kekasihnya.
Ia tahu Dave sangat menjaga moodnya. Akhir-akhir ini sering kali perdebatan mewarnai kebersamaan mereka. Ini bukan kali pertama mereka mendebatkan soal acara pernikahan mereka.
Meski pada akhirnya mereka akan saling mengalah dan meminta maaf. Namun perdebatan tak bisa terhindari.
Dua hari setelah meeting dengan Zee,kini mereka di haruskan fitting baju. Jam makan siang mereka gunakan untuk mendatangi butik Nena. Namun sudah seperempat jam waktu istirahat Vea yang menunggu Dave di depan ruangan. Tapi yang di tunggu tak kunjung keluar.
" Yang ,!" panggil Vea seraya membuka pintu ruang kerja Dave.
" Ya, kenapa Yang ?" tanya Dave yang ternyata masih berkutat di depan laptop.
" Astaga Yang,aku tungguin dari tadi. Ternyata masih kerja ?. Kan kemarin aku udah bilang hari ini fitting baju " ucap Vea dengan nada keras karena kesal melihat calon suaminya justru masih berkutat dengan pekerjaan.
" Lho emang hari ini ?" tanya Dave bodoh. Vea mendengus kesal, menatap tajam Dave dengan tangan bersedekap di dada.
" Duh maaf Yang aku lupa, beneran. Maaf banget,mana jam dua aku ada meeting sama klien lagi " keluh Dave .
" Aku dah ngomong dari kemarin lho Yang, seharusnya kamu minta kosongin jadwal dong. Ya udahlah aku pergi sendiri ". pungkas Vea ,kali ini ia benar-benar di bikin kesal sang kekasih. Pasalnya rencana fitting hari ini sudah di rencanakan dari kemarin- kemarin. Dan seenaknya saja Dave lupa malah justru membuat jadwal meeting.
" Gak apa-apa,kamu pergi sendiri ?" tanya Dave tidak ada peka-pekanya sama sekali. Tidak kah dia lihat betapa keruh wajah wanitanya ?.
" Gak apa-apa ,nanti biar diantar mas Diaz. Biar nanti dia juga yang bantu pilih gaunnya " ucap Vea seraya melangkah meninggalkan ruangan Dave.
Dave tercengang mendengar jawaban sang kekasih,ia langsung bangkit dari kursi kerjanya. Menyambar jas yang ia sampirkan di sandaran kursi.
" Eh,eh kok gitu,gak bisa " ucap Dave panik seraya berlari mengejar Vea yang sudah berada di ambang pintu. Di cekalnya pergelangan tangan Vea. Di tariknya tubuh sang kekasih hingga membentur dada bidangnya. Kemudian tangannya melingkari tubuh Vea dengan erat.
" Enak aja Diaz yang nemenin kamu. Di suruh milih lagi. Siapa dia coba ?, aku lho Yang calon suami kamu " tajuk Dave membuat Vea menyembunyikan senyum di dada bidang Dave.
" yang lupa sama acara fitting baju siapa ?,malah mau meeting. Ya udah aku pergi aja sama Mas Diaz, pasti dia gak keberatan. Mungkin gantiin di pelaminan juga gak keberatan dia ". goda Vea yang tahu kekasihnya sedang cemburu.
Dave yang tak suka mendengar ucapan sang kekasih, melepas pelukannya dan menyambar bibir Vea. Di ciumnya dengan sedikit kasar meluapkan kekesalannya. Membuat Vea sampai kehabisan nafas. Dipukulnya dada Dave saat pasokan udara terhambat masuk ke dalam paru-paru.
" Kalo ngomong jangan macem-macem ,aku gak suka " ucap Dave seraya menatap wajah wanitanya dan mengusap bibir Vea yang basah karena ciumannya.
Vea tersenyum kemudian berjinjit, mengecup pipi Dave dan berbisik di telinga lelakinya.
" I love you, calon suami " dan sukses menerbitkan senyum di bibir lelaki itu. Di dekapnya tubuh Vea hingga merapat erat di tubuhnya. " I love you too, calon istri " balas Dave.
" Jadi mau meeting atau fitting ?" tanya Vea setelah Dave mengurangi pelukannya.
" Fitting " jawab Dave tegas seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dan sesaat kemudian terjadi percakapan Dave dengan sekertaris nya untuk menjadwal ulang meeting dengan kliennya.
Perdebatan-perdebatan kecil saat persiapan pernikahan sering terjadi. Sebagai bumbu dalam hubungan yang sedang bertahap menuju satu tingkatan yang lebih serius. Menguji ego dari setiap diri untuk bisa mencoba saling memahami.