
"Aku gak sudi punya calon mantu sepeti dia, masih kecil aja udah berani ceramahin orang tua!" kesal Azka.
"Tapi yang Evan bilang itu benar, By! Kamu jangan terlalu posesif sama Ale, lagian Evan anaknya baik dan bertanggung jawab!"
"Aku posesifin Ale juga demi kebaikan dia sendiri nantinya, aku cuma takut dia kenapa-kenapa!" ketus Azka.
"Tenang ada Evan yang jagain, sekarang tugas kita cuma memantau jika mereka keluar jalur tinggal kita ingetin aja!"
"Bela aja terus dia, yang ada semakin ngelunjak!" Azka terus saja mengomel layaknya ibu-ibu yang tak dapat jatah antrian.
Awalnya Azkia hanya diam saja tak ingin memperpanjang masalahnya hanya saja sang suami membuatnya ikut naik darah.
"Udah? Udah marah-marah nya?" sentak Azkia dengan tatapan tajam yang membuat Azka langsung kicep.
"Mau sampai kapan kamu kaya gini, By? Kamu gak capek marah-marah mulu?"
Azka hanya diam saja, padahal beberapa saat lalu dialah yang sibuk mengoceh.
"Yang Evan bilang tadi semuanya benar, mungkin saja dia emang ditakdirkan menjadi jodohnya Ale ... Supaya kamu sadar, jika tak seharunya memusuhi masa lalu! Toh, aku lebih pilih kamu dari pada dia, mau sampai kapan kamu seperti bocah!" Azkia marah pada suaminya itu yang terus saja menjelekan Evan dan melarangnya berhubungan dengan Azzalea.
Mungkin saja Evan dipertemukan dengan Azzalea dalam perasaan cinta itu untuk menegur Azka agar tidak membenci orang yang tak salah apapun. Karena soal perasaan tak bisa disalahkan, jika boleh meminta mungkin Rayhan tak ingin memiliki perasaan pada Azkia jika akhirnya tak bisa bersama. Namun mau bagaimana lagi semua itu sudah ada yang mengatur, sedangkan kita hanya memainkan peran dengan sutradara terbaik.
"Nyun!" rengek Azka.
"Ingat kamu itu sudah tua, By! Anakmu sudah dua, jangan ke kanak-kanak seperti ini!" sarkas Azkia.
"Asal kamu tau, aku lebih respek sama orang yang berani izin minta pacaran ke orang tua dari pada mereka pacaran sembunyi-sembunyi! Kamu mau Ale pacaran jadi anak gak jujur sama kita?" tanya Azkia.
"Bukan gitu, Nyun!"
"Lalu apa? Hmm! Kamu mau Ale terjerumus sama kenakalan remaja dulu baru sadar gitu?" sentak Azkia.
Azka langsung memeluk tubuh mungil Azkia, ia tak mau melihat istrinya bersedih dah menangis.
"Iya-iya aku izinin mereka, pacaran gak lebih!" akhirnya Azka mengalah juga sedangkan Azkia pun tersenyum tanpa disadari oleh suaminya itu.
"Kamu harus berterimakasih sama mama, Ale! Karena hanya mama yang bisa mengatur papa kamu!" batin Azkia dengan senyum dan air mata buaya nya.
"Jangan kekang mereka lagi, biar mereka berdua terbuka sama kita!" pinta Azkia sambil mendongak menatap netra suaminya.
"Iya, asal mereka berdua patuh dengan aturan yang ku buat atau jangan hatap mereka bisa pacaran!" jelas Azka sambil mengusap sudut mata Azkia.
"Baiklah!" Azkia memeluk erat pinggang suaminya itu.
"Tapi kamu jangan bilang dulu sama mereka, Nyun! Aku mau tahu seberapa serius bocah tuyul itu sama anak kita!" lagi-lagi Azkia hanya mengangguk saja sambil tersenyum.
......................
Tuk!
Evan menyentil jidat Azzalea dengan gemas karena sejak tadi ia hanya diam saja mirip seperti patung, tidak tau saja jika Azzalea tengah memikirkan perkataan Evan tadi. Ada hubungan apa antara orang tua nya dan juga papa Evan, sayangnya sampai saat ini Azzalea tidak menemukan titik terang.
"Sakit!" Azzalea menatap tajam Evan sambil mengusap jidatnya.
"Mikirin apa?"
"Kepo!"
"Cih, gue larang lo buat mikirin orang lain selain gue!" decak Evan sedikit memajukan bibirnya.
"Apaan sih, yang ada gue bodoh kalau mikirin lo doang! Inget kita sekolah biar pinter, ya!"
"Tau kok, cuma gak suka aja kalau lo mikirin orang lain selain gue!" ketus Evan.
"Kenapa? Cemburu?" tanya Azzalea.
Evan melangkah dan berdiri tepat dihadapan Azzalea, ia terus menatap netra hazel milik Azzalea. Membuat Azzalea salah tingkah, padahal mereka sedang berada diparkiran sekolah. Azzalea takut Evan akan berbuat macam-macam padanya.
Apalagi saat wajah Evan sedikit menunduk dan mensejajakan pada wajahnya, jarak mereka cukup dekat bahkan sangat dekat. Membuat beberapa orang bisa salah paham termasuk Azzalea sendiri.
Evan hanya diam saja, seolah tak mendengar pertanyaan Azzalea karena fokus pada sesuatu. Azzalea yang penasaran pun mengikuti arah mata Evan, dan betapa terkejutnya dia saat tau jika Evan menatap bibirnya.
"Sial, apa dia mau cium gue ditempat umum seperti ini?" batin Azzalea.
"Van, se-sebaiknya jang-jangan disini," gumam Azzalea.
Klik!
"Hah, lo bilang apa, Zaa?" tanya Evan yang tidak mendengar jelas ucapan Azzalea.
"Lo, lo ngapain?" tanya Azzalea gugup.
"Lepasin helm kan, emangnya gue ngapain?" tanya Evan polos tanpa dosa, lalu menatap wajah Azzalea yang terlihat memerah.
"Pipi lo kenapa, Zaa? Lo sakit?" tanya Evan sambil meletakkan punggung tangannya dijidat Evan.
Plak!
"Gak, gue gue baik kok!" seru Azzalea sambil menyingkirkan tangan Evan.
"Terus kenapa wajah lo merah banget?" tanya Evan penasaran.
"Ini semua kan salah lo, cuma lepasin helm kenapa sedekat itu sih! Buat gue salah paham aja!" batin Azzalea.
Melihat Azzalea yang diam saja semakin membuat Evan gusar, ia lalu menangkup kedua pipi Azzalea dan menatapnya dalam.
"Bilang sama gue kenapa?" tanya Evan.
Tiin Tiin Tiiiiiiiin!
"Woy! Kalau mau mojok lihat tempat dong jangan diparkiran gini, nodai mata suci gue aja lo!" teriak seseorang sambil membunyikan tlakson motornya beberapa kali membuat orang-orang menoleh kepadanya termasuk Azzalea dan Evan.
"Berisik, On! Mirip banget sama tukang sayur yang sering mangkal di gang depan!" seru Evan sambil melapaskan tanggannya dari pipi Azzalea.
Vion memakirkan motornya disebelah motor Evan, lalu turun dan membuka helmnya.
"Mau sayur apa bang, semua ada! Sampai sayur bucin pun ada!" ledek Vion bergaya layaknya tukang sayur menawarkan dagangannya. Membuat mereka terkekeh sendiri.
"Nessa mau sayur kol, dong!" saut Nessa yang baru datang bersama Dafa.
"Ohh dedek Nessa mau sayur kol? Tapi kalau Nessa mau abang siap masakin!"
"Cielah abang gak tuh!" saut Evan sambil terkekeh geli melihat tingkah sahabatnya.
"Emangnya bisa masak?" polos Nessa.
"Bisa dong, apapun akang abang lakuin buat dedek Nessa seorang!" gombal Vion.
"Daff, hati-hati ada tikungan!" Azzalea mengingatkan Dafa, pasalnya dia tau perasaan Dafa seperti apa.
"Gue tikung disepertiga malam," kata Dafa langsung merangkul bahu Nessa dan mengajaknya pergi.
"Lagak lo!" teriak Vion.
"Eh lo mau kemana, Van! Gerbang bukan arah sana!" Vion melihat Evan yang mengikuti langkah kaki Dafa pun terhenti dan berbalik menantap Vion.
"Kawal nyonya Evan dulu, lo duluan aja ke gerbang... nanti gue nyusul!" teriak Evan sambil melambaikan tangannya kanannya, sedangkan tangan kirinya menggenggam erat jemari Azzalea.
"Dasar, ketos bucin!" maki Vion.
"Ternyata kehadiran gue dihati lo sudah tergantian, Van!" lanjut Vion layaknya seseorang yang ditinggalkan kekasihnya.
...----------------...
Yooo! Jangan lupa like coment favorit yak!
Selamat menjalankan ibadah puasa Ramdhan 1443 H, bagi yang menjalankannya!