
"Kalian itu temen siapa, sih?" kesal Azzalea, ia tak menyangka semudah itu membujuk sahabatnya untuk menerima Evan menjadi salah satu teman mereka.
"Lumayan lah, Le... satu minggu makan gratis," celetuk Ghea tanpa dosa.
"Iya, uang jajan Nessa bisa buat beli novel terbaru," seru Nessa bahagia.
"Terserah!" Azzalea lalu pergi begitu saja tanpa pamit, sedangkan mereka masih menikmati makanannya.
"Mau kemana?" pertanyaan Dava pun diabakan begitu saja oleh Azzalea, ia melenggar pergi karena malas harus berlama-lama dengan Evan.
Saat Dava ingin menyusul, Evan pun memberikan intruksi untuk tetap diam dan biarkan dia saja yang menysul Azzalea.
"Gue aja!" cegah Evan yang langsung lari mengejar Azzalea.
Dava sempat protes, tapi ia langsung diam begitu melihat tatapan tajam Ghea sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Dava yang bingung dengan sikap Ghea.
Kemudian Ghea menyuruh Dava dan Nessa mendekat karena ia ingin membisikan sesuatu.
"Kalian sadar gak sih?" tanya Ghea.
"Apa?" tanya Nessa dan Dava kompak.
"Ini baru dugaan gue ya, bener gak nya gue belum yakin," kata Ghea yang semakin membuat mereka berdua penasaran.
"Apa sih, ngomong yang jelas gue lagi males mikir!" Dava pun mencubit pipi Ghea.
"Iya, Ghe.. Nessa juga gak paham sama yang diomongin Ghea," imbuh Nessa.
Ghea memutar kedua bola matanya dengan malas, hari ini ia baru sadar bahwa teman-temannya tidak ada yang benar sifatnya. Yang satu dingin, yang satu lemot, yang satu emosian, yang satu lagi pecicilan dan mungkin hanya Ghea yang normal.
"Maka nya jadi orang tuh peka dikit, napa!" Ghea memukul pelan kepala Dava.
"Apa sih!"
"Kalian masa gak lihat dari kelakuan Evan tadi, kalau dia tuh sepertinya ada perasaan buat Alea alias Azzalea!" Ghea mengamati Dava dan Nessa bergantian seolah sedang meminta persetujuan.
"Masa sih, Nessa kok gak tau?" tanya Nessa dengan wajah polosnya.
Sedangkan Dava seolah sedang berpikir setelah mendengar perkataan Ghea.
"Mana mungkin?" tanya Dava.
"Cara dia natap Alea tuh beda gitu dari yang lain, terus perhatian dia kaya tadi," ucap Ghea.
Dava mengangguk mengiyakan setiap perktaan Ghea, memang benar Dava sedikit menaruh curiga pada orang yang menyogok mereka dengan makanan, bahkan mau membayar makanan mereka selama seminggu full.
"Bener sih, mana ada orang yang buang-buang uang buat traktir kita selama seminggu lagi," imbuh Dava.
"Nah kan, pikiran kita sama!"
"Nessa gak paham," celetuk gadis imut itu.
"Nessa diem aja kalau gak paham, ini masalah hati susah kalau mau dijelasin!" Ghea terkekeh sendiri dengan perkataannya.
"Terus gimana?" tanya Dava.
"Gimana apa?" tanya balik Ghea.
"Kalau dia beneran suka sama Alea gimanan?" ulang Dava.
"Gak masalah kan, siapa tau dengan kehadian Evan yang sifatnya agak aneh tapi ganteng sih bisa buat gunung es itu leleh, why not?" pendapat Ghea.
"Tapi kan lo tau sendiri, si tepung juga suka Alea!" Dava mengingatkan salah satu dari mereka memang ada yang menyukai Azzalea siapa lagi kalau bukan tepung Cakra.
"Soal itu biar Azzalea aja yang pilih, kita sebagai sahabat cuma bisa dukung yang terbaik buat dia!" Ghea menenggak minumannya perlahan karena kerongkongannya terasa kering.
Dava pun mengangguk setuju dengan ucapan Ghea yang sangat bijak dan dewasa itu. Tak jauh berbeda dengan kedua orang tuanya, ya walaupun Ghea terkesan sedikit tomboy tapi tidak dipungkiri ia sangat sayang dan perduli kepada sahabatnya.
Sedangkan disisih lain Evan masih mengikuti langkah kaki Azzalea, bahkan sudah berulang kali Evan memanggil namanya tetao saja Azzalea tak mau berhenti atau menoleh sedikit saja.
"Za! Tungguin!"
"Azza!"
"Azzalea!
"Tungguin!"
Evan berlari kecil untuk menyeimbangkan langkah kakinya dengan Azzalea, tetap saja gadis itu mengacuhkan panggilan Evan, sudah cukup tadi pagi saja ia berurusan dengan cowok aneh itu. Apalagi dengan Evan yang terus mengikutinya membuat beberapa orang melihat ke arah mereka, Azzalea tak suka menjadi pusat perhatian apalagi melihat tatapan tidak suka dari mereka.
"Za, kenapa cepet-cepet sih jalannya!" gerutu Evan yang sudah disebelah Azzalea.
GREB!
Evan menarik lengan Azzalea yang membuatnya tertarik hingga menatap Evan.
"Sa-ya-ng!" panggil Evan, Azzalea memelototkan matanya hingga bulat sempurna.
"Biasa aja natapnya gue emang ganteng kok," celetuk Evan sambil tertawa renyah.
Azzalea hanya mengdengus kesal dengan orang yang memiliki tingkah kepercayaan diri diatas rata-rata ini.
"Lepas!" perintah Azzalea sambil melirik lengannya yang di cekal Evan.
Evan lalu melepaskannya dan mengangkat kedua tangannya keatas seolah seperti tersangka yang sedang menyerah, tak lupa cengiran khas Evan menghiasi sudut bibirnya.
Saat Azzalea berbalik badan dilihatnya sang ketua osis sedang berjalan ke arahnya, disebelah Gavin ada Rafa yang selalu ada dimana pun gavin berada. Dengan cepat Azzalea berbalik badan lagi menatap Evan, Evan pun terlihat sedikit bingung.
"Sial!" gerutu Azzalea.
"Kenapa banyak banget penganggu sih!" lanjutnya lagi.
"Kenapa?" tanya Evan bingung.
Azzalea tak tahu harus berbuat apa yang jelas ia ingin menghindari Gavin dan juga Evan tentunya. Seperti keluar dari lubang buaya masuk lubang singa itulah yang Azzalea rasakan saat ini.
"Van, lo ngapain?" tanya Gavin yang sudah ada didepan Evan.
"Wah lo punya doi ya sekarang?" tanya Rafa.
Azzalea tak berani berbalik badan, bukan karena takut hanya saja ia sangat malas berurusan dengan orang satu itu, Gavin.
"Jangan pacaran ditengah jalan gini, kasian yang jomblo," celetuk Gavin sambil terkekeh
Evan hanya bisa diam sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, senang bahahia itulah yang dirasakan Evan saat ada orang yang mengira jika Azzalea pacarnya.
"Lo gak mau kenalin cewek lo sama kita, Van?" tanya Rafa.
"Gak bakal kita tikung kok, kecuali adik kelas kemaren!" celetuk Gavin sambil membayangkan wajah Azzalea.
Deg!
Evan paham siapa yang dimaksud Gavin saat ini, karena mereka bertemu digerbang sekolah kemarin saat mengajak Azzalea pulang bersama tapi sayangnya gadis itu lebih memilih Cakra.
Tangan Gavin hampir menyentuh bahu Azzalea untuk membalik badannya karena tak sabar menunggu Evan yang sejak tadi hanya diam saja.
Greb!
"Sorry pacar gue pemalu, kak!" Evan menarik Azzalea masuk kedalam pelukannya, ia tak ingin Gavin melihat wajah Azzalea bisa-bisa langsung ditikung sebelum ia pacaran dengan Azzalea.
"Lo!" protes Azzalea sambil mencoba melepaskan pelukan Azzalea.
"Diem bentar, gue gak mau dia gangguin kita seperti kemarin," bisik Evan.
Benar saja yang dikatakan Evan saat ini, bisa dibilang Evan sedang membantunya tapi tak harus peluk-peluk segala kan.
"Tuh kan kak, dia malu banget hehe!"
"Okelah, jaga baik-baik kalau gitu! Jangan sampai lihat wajah gue, bisa-bisa dia berpaling," kata Gavin sambil menepuk bahu Evan, sedangkan Azzalea wajahnya sudah dibenamkan didada bidang Evan.
"Pasti kak, gue gak akan biarin dia berpaling dari gue... bahkan sedetik pun gak akan gue izinin!" ketus Evan.
Gavin hanya melambaikan tangannya sambil berlalu ddengan diikuti Rafa.
Wangi, yang memabukkan.
Azzalea tengah hanyut dengan wangi mint yang begitu kentara itu. Bahkan ia sampai tak sadar jika Gavin sudah menjauh dan berulang kali Evan memanggil namanya.
"Za! Kak Gavih udah pergi," kata Evan yang sudah memastikan Gavin tak terlihat lagi.
"Azzalea!" panggil Evan, tak ada jawaban lalu ia menunduk untuk melihat Azzalea. Bibirnya melengkung sempurna saat mengetahui Azzalea terlihat nyaman dalam pelukannya.
Evan sedikit menundukkan lagi kepalanya agar tepat ditelinga Azzalea.
"Nyaman ya!" bisik Evan yang membuat badann Azzalea menegang dengan sempurna apalagi nafas Evan terasa hangat menyentuh telinganya.
"Iya, eh gak... nyaman apaan!" protes Azzalea sambil membuang wajahnya kesamping.
"Ciee salting!" goda Evan sambil terkekeh.
Azzalea yang kesal pun mendorong tubuh Evan hingga mundur dua langkah kebelakang, dengan segera Azzalea meninggalkan tempat itu.
...----------------...