Evanzza

Evanzza
Masih normal



Azzalea bisa bernafas lega ketika melihat orang-orang itu sudah kabur, ia langsung duduk diaspal dengan acuh. Tenaganya sudah terkurang habis bahakn ia sampai ngos-ngosan.


Orang yang Azzalea tolong ikut duduk disamping Azzalea, ia memegangi perutnya yang terasa sakit bahkan darah segar yang ada disudut bibirnya pun sudah mengering.


Mereka pintar sekali memilih jalan yang cukup sepi jika dijam-jam seperti ini, buktinya hanya beberapa orang yang berlalu lalang tapi sayangnya mereka tak berani untuk membantu atau sekedar merelai perkelahian itu.


"Makasih!" ucapnya.


Azzalea melirik sekilas lalu mengangguk sebagai jawaban, ia bahkan tak melepas helmnya meski terasa sesak.


"Gue gak tau kalau gak ada lo, mungkin gue udah berakhir dirumah sakit!" lanjutnya lagi sambil sedikit terkekeh.


"Gue niatnya mau cari angin, biar ngilangin suntuk... eh gak taunya makin suram!" Ia tak berduli perkataannya didengar atau tidak oleh Azzalea yang dia tahu hanya ingin memiliki tempat untuk bercerita tanpa harus ditanggapi.


"Oh iya, kenalin gue Evan... nama lo siapa?" tanya Evan sambil mengulurkan tangannya kepada Azzalea.


Azzalea hanya meiliriknya sekilas, lagi-lagi ia tak ingin menanggapi uluran tangan Evan. Evan yang melihat itu hanya bisa tersenyum kecut.


"Lo mirip sama orang yang gue suka, dia bahkan gak mau kenalan sama gue... dan anehnya gue bisa suka sama dia sejak pertama ketemu," curhat Evan.


"Yang dia ceritain gue? Eh lo gak boleh terlalu percaya diri, Le... belum tentu kan lo yang dia maksud," batin Azzalea.


Azzalea menatap sekilas wajah Evan yang terlihat banyak memar, lalu ia mengambil sesuatu yang ada disaku hoody nya.


Azzalae mendekati secara perlahan, Evan yang sedang fokus pada pikirannya tidak sadar jika gadis itu sudah ada didepannya.


Tangan Azzalea terulur ke wajah Evan yang mengeluarkan darah, ia menempelkan plaster disana. Tangan dingin itu yang mampu menyadarkan Evan dari lamunannya.


"Eh?" Evan tak sengaja menatap kedua manik mata yang sangat ia kenali tapi entah kenapa ia lupa siapa orangnya.


Jantung Evan seakan menolak untuk diam, debaran yang ia rasakan saat bersama Azzalea kini ia rasakan lagi.


"Masa ia jantung gue berdebar sama cowok?" batin Evan.


Azzalea tak berniat berkata atau pun menjelaskannya pada Evan, ia mengambil lolipop yang ada disaku hoodya. Setelah membuka lolipop itu ia menyuapkannya pada Evan, hal yang tiba-tiba itu membuat Evan terbengong dan tak bisa berkata-kata. Hanya tangannya saja bergerak memegangi dadanya yang berdetak lebih cepat.


Deg!


Deg!


Deg!


Evan melihat kepergian Azzalea dalam diam, ia masih bergelut dengan jantungnya yabg terus berdetak cepat.


Wuss!


Motor sport milik Azzalea melewati Evan dengan cepat, ia bahkan tak sadar motor itu adalah milik Azzalea yang digunakan kesekolah.


"Gak mungkin kan gue jatuh cinta sama orang yang udah nolongin gue, dia cowok loh!" monolog Evan.


"Heh, sadar Van! Lo masih normal," gerutunya.


Evan lalu menyentuh pelipisnya yang sudah terbungkus plaster dan juga lolipop yang ada dimulutnya terasa manis.


"Manis!" gumam Evan.


Perlahan Evan berdiri dan berjalan dengan tertatih menuju motornya. Ia bingung harus kemana, karena jika pulang dengan keadaan seperti ini Rayhan pasti akan marah. Tapi jika tidak pulang ia akan membuat Rayya khawatir.


"Oke jangan takut, Van... paling lo cuma diceramahin saja sama papa! Evan menyemangati dirinya sendiri kemudian nyalakan mesin motornya dan bergegas pulang.


Sedangkan sisih lain, Azzalea sudah sampai disebuah Cafe tempatnya berjanjian dengan kedua sahabatnya itu.


"Lo lama banget sih, Le!" protes Ghea saat melihat Azzalea berjalan mendekati meja mereka.


"Ada masalah," kata Azzalea sambil menyeruput minuman milik Nessa.


"Sorry, Nes.. gue haus banget!" Azzalea langsung mendudukan tubuhnya dikursi sebelah Ghea.


"Lo habis ngapain? Tangan lo sampai luka gitu, kalau om Azka tau bisa masuk rumah sakit lo," ucap Ghea sambil terkekeh.


"Berantem," saut Azzalea singkat jelas padat.


"What! Lo berantem sama siapa? Kok bisa, wah bener-bener kalau om Azka tau bisa-bisa lo sekolag harus dikawal lagi!" cerocos Ghea tanpa henti.


"Jangan sampai papa tau," kata Azzalea sambil menatap tajam Ghea, karena Ghea serung keceplosan dengan kedua orang tuanya.


"Berantem sama siapa?" tanya Nessa.


"Entah!" saut Azzalea sambil memanggil pelayan.


"Kok entah emang lo gak tau lawan lo siapa?" tanya Ghea.


"Gue gak tau namanya," kata Azzalea tanpa dosa.


"Kebiasaan banget, lo gak tau namanya tapi tau orangnya!" celetuk Nessa.


"Yup! Seratus buat lo, Nes!"


Mereka berdua hanya memutar kedua bola matanya dengan malas.


"Tapi, salah dua dari mereka gue tau orangnya tapi gak tau namanya!" jelas Azzalea.


"Ciri-cirinya?" tanya Nessa.


"Percuma gue bilang kalian gak bakal tau, karena salah satu dari mereka itu yang mau nganterin gue pulang!" kata Azzalwa.


"Kita tau kok," saut Ghea dengan senyum mengejek.


"Dari mana?" tanya Azzalea penasaran, pasalnya ia belum bercerita kepada dua sahabatnya itu.


"Grub sekolah," saut Nessa.


"Disana ada foto lo sama empat cowok yang mau nganterin lo pulang!" jelas Ghea.


"Hah?" tanya Azzalea tak percaya.


Dengan gemas Nessa menujukkan foto yang memperlihatkan dia sedang berdiri sambil menunggu seseorang, didepannya sudah ada Gavin yang naik mobil disampingnya ada Kevin sebelahnya lagi ada Evan dan dibelakang mereka ada Cakra.


"Lo jadi treding topik satu sekolah," ucap Nessa.


"What!" pekik Azzalea tak percaya.


"Selamat ya mbak saleb, banyak yang dukung lo sama si ketos," kata Ghea sambil menunjukkan foto Azzalea waktu ditengah lapangan sedang bersama Gavin yang mengusap keringatnya.


"Tapi dia lebih cocok sama Evan dari kelas sebalah, menerut gue sih!" kali ini Nessa yang memberi pendapat sambil menunjukkan foto Azzalea bersama Evan waktu dikoridor yang sepi itu.


"Gila Le! Lo buat banyak hati terluka," uvap Ghea sambil menatap Azzalea.


"Gue gak perduli, gue gak kenal mereka juga," saut Azzalea.


"Cakra juga gak lo kenali?" tanya Ghea sambil menatap sahabatnya itu.


"Kenal!"


Kemudian mereka bercerita kesana kemari hingga tak terasa langit sudah berubah warna. Mereka memutuskan untuk segera pulang terlebih lagi Azzalea yang kabur membawa motornya sendiri padahal sudah jelas tidak boleh membawa motor dalam beberapa hari ini.


"Semoga papa gak tau!" gumam Azzalea.


...----------------...