
Gavin dan Rafa yang sedang bertugas didepan gerbang pun menatap sebuah mobil hitam yang masuk melewati mereka. Entah kenapa Gavin penasaran dengan mobil itu, sehingga netranya terus saja mengikuti gerak mobil itu hingga berhenti tak jauh dari gerbang sekolah.
Netra Gavin membulat sempurna tak kala melihat Azzalea keluar dari dalam mobil itu dengan menyampirkan tasnya asal dibahu. Disusul seorang laki-laki setengah berlari mengejar Azzalea, namun gadis itu sengaja tak menghiraukan seseorang yang mengejarnya.
"Menarik!" gumam Gavin.
"Apa?" tanya Rafa penasaran, lalu Gavin menunjuk arah parkiran dimana Azzalea dan Cakra berada. Rafa hanya bisa mengangguk paham apa yang dimaksud sang ketos itu.
"Mereka ada hubungan apa, sih?" tanya Gavin.
"Entah, gue denger sih mereka cuma sekedar sahabatan aja .... soalnya mereka itu ada lima orang kalau gak salah," jelas Rafa yang memang sudah mendengar gosip itu dari beberapa siswa kelas sepuluh.
Asal kalian tahu saja Azzalea sangat terkenal diantara satu angkatannya, karena sikapnya yang datar dan dingin mrmbuatnya mudah dihapalin oleh siswa lainnya.
"Cih, mana ada cowok sama cewek sahabatan tanpa adanya rasa suka!"
"Ada, Vin! Tapi jarang, mungkin dengan perbandingan satu dari sepuluh," kata Rafa.
"Lo gak tau, Raf! Masalah hati gak ada yang tahu, bisa aja kan mulut bilang gak suka gak cinta tapi kenyataannya hati sama prilakunya bertolak belakang dengan apa yang diucapkan!" jelas Gavin.
"Iye pak ketos, yang paling ngerti soal cinta ... gue yang jomblo sejak lahir cuma bisa menghalu aja!"
"Cari lah cewek, Raf! Lo gak bosen apa ngintilin gue mulu kaya anak ayam!" ledek Gavin sambil terkekeh.
"Sekarepmu lah, Vin!"
Tak selang lama sebuah motor sport sudah memasuki khawasan parkir sekolah, wajahnya terlihat ditekuk menjadi beberapa lipatan. Langkahnya terasa tak memiliki tenaga lagi, semangatnya seakan sudah hilang bersamaan dengan dia yang sudah bersama orang lain.
"Lo kenapa, Van?" tanya Rafa.
Ya orang itu adalah Evan yang sedang kehilangan semangat karena melihat sang pujaan hati berangkat bersama laki-laki lain.
Sebenarnya Evan ingin mencegah Azzalea berangkat bersama Cakra, tapi itu hanya dalam pikirannya saja karena kenyataannya Azzalea tetap berangkat bersama Cakra.
"Jangan-jangan pacarnya selingkuh," celetuk Gavin sambil tersenyum pada siswi yang menyapanya.
"Hah, serius Van?" tanya Rafa tak percaya.
Hufft!
Evan hanya menghela nafasnya panjang, karena kenyataannya hampir sama dengan apa yang Gavin bilang. Hanya saja konsepnya yang berbeda karena Azzalea belum resmi menjadi pacarnya.
"Yaelah, Van! Pacar lo belum juga dikenalin sama gue udah ditikung orang aja!" Gavin terkekeh sendiri dengan ucapannua.
"Tauk lah, gue lagi males debat, Vin!" Evan bersandar pada dinding gerbang dengan wajah sedihnya.
"Gue kasih tau ya, Van... mendapatkan sesuatu yang lo suka itu memang mudah, tapi yang sulit itu bagaimana caranya lo menjaga dan memepertahankannya agar tidak pergi!" jelas Gavin yang sudah memiliki banyak pengalaman soal percintaan.
"Tuh, lo dengerin nasehat dari pakar cinta!" Rafa terkekeh sambil mencatat beberapa siswa yang tidak tertib.
"Gue mau nanya deh, Vin," kata Evan sambil berjalan dan berdiri didepan Gavin.
"Hmm?" Gavin menaikkan sebelah alisnya menunggu pertanyaan Evan.
"Kalau lo suka sama orang tapi orang itu gak suka sama lo, apa yang lo lakuin?" tanya Evan, walaupun mereka beda usia tapi tak masalah buat Gavin jika tidak memanggilnya dengan embel-embel kakak karena memang Gavin adalah kakak kelas Evan.
"Ya gue akan buat dia suka sama gue lah, apapun caranya! Tapi gue bakal mundur jika bukan nama gue yang tertulis dihatinya," jawab Gavin dengan percaya diri.
"Jadi lo relain dia?" tanya Evan.
"Ya, gue relain dia buat bahagia, Van! Karena itu yang terpenting buat gue, buat apa dia sama gue kalau gak bahagia!" bijak Gavin, Evan pun memgangguk-angguk paham dengan penjelasan Gavin.
"Tapi pengecualian buat orang yang bener-bener gue cinta! Gue akan lakuin apapun agar dia bisa jadi milik gue," lanjut Gavin sambil menyeringai menatap Evan.
"Cih, sama aja itu pemaksaan!" celetuk Rafa.
"Lo pernah denger gak sih, ada yang bilang witing tresno jalaran soko kulino?" tanya Gavin.
"Cinta tumbuh karena terbiasa bersama," kata Evan.
"Yup! Seratus buat lo, gue akan buat dia terbiasa dengan keberadaan gue... gak mungkin kan kalau dia sampai gak ada rasa sama gue, apalagi gue kan tampan!" dengan menyugar rambutnya Gavin mengatakan itu.
Rafa dan Evan pun hanya memutar kedua bola matanya dengan malas, sedangkan siswi perempuan lainnya memekik histeris saat melihat Gavin menyugar rambut sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah mereka.
"Thans, pencerahannya suhu!" Evan menaik turu kan kedua tangannya didepan Gavin sambil terkekeh.
Kali ini Evan berjalan sendiri di pinggir lapangan basket setelah ikut menghukum beberapa siswa yang melanggar peraturan sekolah, sejak tadi ia tak melihat sahabatnya, Vion. Mungkin karena Vion bertugas di area belakang sehingga mereka tak bertemu.
Tanpa sengaja Evan bertemu dengan sosok yang membuatnya galau sejak pagi, Azzalea. Dia sedang berjalan sendirian dikoridor sekolah, dapat dilihat dengan jelas jika ia dari kantin. Terlihat permen dan susu kotak yang ada didalam gengamannya.
Evan yang berada di pinggir lapangan pun memanggil Azzalea.
"Hey! Es Ale-Ale!" teriak Evan.
"Cih!" Azzalea memutar kedua bola matanya dengan malas saat ia menoleh ternyata ada Evan yang berjalan mensejajarinya hanya saja mereka terpisah oleh pagar pembatas atara lorong dan area lapangan yang tingginya hanya selutut.
"Es Ale-ale baru dari dalame kulkas, ya? Brrttt dinginnya sampai sini tau gak," goda Evan sambil terkekeh.
"Gak jelas!" Azzalea mengabaikan ucapan Evan.
Tapi Evan tak menyerah begitu saja, ia semakin gencar untuk mendekati Azzalea.
"Jangan diem aja dong, Ale... gue datang untuk membuat es ale-ale leleh nih!" celetuk Evan.
"Panggil Azzalea bukan Ale!" protes Azzalea.
"Mereka aja boleh kenapa gue, gak?"
"Karena cuma orang deket yang manggil gue gitu," jelas Azzalwa.
"Gue kan juga mau jadi salah satu orang terdekat lo, Al... apalagi kalau gue bsia jadi belahan jiwa lo, pasti lo akan bahagia banget punya gue," kata Evan tanpa ada rasa malu sedikit pun.
"Seterah lah!"
"Terserah Ale sayang bukan seterah," ralat Evan.
BRUK!
Azzalea melemparkan susu kotak yang ia bawa pada Evan, karena sudah memanggilnya dengan kata 'sayang'.
"Bauaya lagi beraksi ya, bun!" Azzalea mwnatap tajam Evan.
"Sorry gak ngaruh!" lanjut Azzalea sambil melangkah tapi lagi-lagi ia harus berhenti saat Evan memanggilnya lagi.
"ALE ALE SEGAR SEKALEEE!"
Dengan kesal Azzalea berbalik dan menatap Evan tajam karena sudah meledeknya seperti merek minuman. Sedangkan Evan pun hanya terkekeh melihat ekspresi yang ditunjukkan Azzalea.
"ALE ALE SARANGHAE!"
Seketika bola mata Azzalea membulat sempurna saat mendengar teriakan Evan yang kedua kalinya, apalagi saat ini melihat Evan yang sedang menyatukan ibu jari dengan jari telunjuknya membentuk sebuah love. Mata Evan sedikit terpejam karena menahan cahaya matahari yang berusaha menembus kelopak matanya.
"Itu anak udah gak ada urat malu apa ya, teriak-teriak gak jelas!" gerutu Azzalea.
"Cih, dasar kipas!" lanjut Azzalea lalu pergi begitu saja mengabaikan Evan, namun ada sebuah senyum tipis yang menghiasi bibirnya saat melihat tingkah konyol Evan.
Klik!
Klik!
Seseorang berhasil mengabadikan moment langkah itu, sambil menyeringai.
"Bagus!"
......................
.
(Cast Evan Anggara Mahardika)
...----------------...
Jangan lupa tinggalkan Love dan Like nya ya, untuk Evan :)
Kasih kopi atau vote nya buat abang Evan, biar semangat ngejar cinta dek Ale-Ale! 😅
...----------------...