
Disinilah Azzalea saat ini, dibawah teriknya matahari bersama beberapa siswa lainnya yang terjaring karena membolos saat jam pelajaran.
Tangannya sudah terasa pegal, sudah hampir tiga puluh menit ia berdiri didepan tiang bendera sambil mengangkat tangan kanannya yang diletakan disudut pelipisnya. Ya, Azzalea mendapatkan hukuman untuk hotmat kepada sang merah putih bersama murid lainnya.
Berkali-kali Azzalea mendengus, ia hanya ingin mencari udara segar dirooftop. Tapi apa yang ia dapat, baru semester satu saja ia sudah dikunciin di ruang uks, sekarang dihukum nanti apa lagi?
Sesekali mata hazel itu melihat Laki-laki yang menariknya paksa sampai ditengah lapangan. Azzalea tidak kenal siapa orang itu yang jelas mereka adalah anggota osis. Mungkin karena Azzalea tidak terlalu perduli dengan orang yang tidak ia kenal sehingga ia tidak tahu siapa Gavin.
Gavin yang merasa ada yang menatapnya pun langsung menoleh pada barisan siswa yang sedang hormat itu. Dilihatnya gadis yang ia temui di rooftop sekolah tengah menatapnya dengan tatapan benci.
Gavin melambaikan tangannya pada Azzalea sambil menunjukkan deretan giginya yang putih itu, seolah ia sedang meledek Azzalea.
"Siapa?" tanya Rafa.
"Siapa?" Gavin balik bertanya pada Rafa yang berada disebelahnya.
"Cewek tadi lah, siapa lagi?" ucap Rafa sambil menatap orang yang ia maksud.
"Gak kenal gue," jawab Gavin.
"Hah? Gak usah bercanda, gue juga gak akan rebut dia dari lo kok!" kata Rafa.
"Gue serius, Raf! Gue gak kenal siapa dia, pas gue lagi ngejar anak yang bolos gue denger suara di rooft yaudah gue samperin eh gak taunya ada cewek itu!" Gavin menjelaskannya secara detail kepada Rafa.
"Dia manusia kan, Vin?" tanya Rafa yang sedikit horor.
"Lo kira dia setan?" tanya balik Gavin.
"Lo liat aja mukanya datar amat, tatapannya tuh kek dingin-dingin gimana gitu!" jelas Rafa.
"Emang dingin, Raf!" Gavin menatap Azzalea sambil tersenyum saat ia mengingat kejadian dirooftop tadi.
"Lo tau, gue aja dikacangin pas ngajak dia kenalan." lanjut Gavin.
"Serius? Lo.... dikacangin?" tanya Rafa.
"Muka gue apa ada tampang penipu?" tanya balik Gavin.
"Yang sabar ya, bos!" ledek Rafa sambil terkekeh.
Teetttt teetttt teeett!
Bel tanda istirahat kedua pun sudah berbunyi, itu berarti hukuman buat Azzalea juga sudah selesai.
Gavin menghampiri mereka diikuti oleh Rafa dibelakangnya. Gavin menatap satu persatu wajah mereka untuk menandai jika nanti mereka melanggar tata tertib sekolah lagi. Hingga tatapannya berhenti pada gadis yang ada didepannya saat ini.
"Oke hukuman kalian sudah selesai, kalian boleh kembali ke kelas kalian masing-masing. Tapi ingat jika kalian mengulangi kesalahan yang sama, saya jamin hukumannya akan lebih dari ini. Bisa dimengerti?" kata Gavin.
"Mengerttiiii!" saut mereka tidak dengan Azzalea.
Gadis itu hanya diam saja sambil menatap malas, Gavin dan juga Rafa.
"Bubar jalan!"
Mereka semua langsung berbalik badan dan membubarkan barisannya. Azzalea terlihat sangat kusut dan kucal, keringat terus saja menetes hingga terkena matanya.
SET!
Gavin menarik pergelangan tangan Azzalea, gadis itu tidak siap mendapat perlakuan seperti itu dari Gavin sehingga tubuhnya menabrak dada bidang Gavin.
Pemandangan ini tak luput dari tatapan siswa siswi yang hendak istrirahat, tak terkecuali Evan dan Vion. Bahkan Cakra, Dafa, Nessa dan Ghea pun melihatnya.
Mereka sampai mengaga tak percaya dengan apa yang mereka lihat itu.
"Itu Lea kenapa bisa sama Kak Gavin?" tanya Ghea sambil menujuk dimana Azzalea berada.
"Kak Gavin itu ketua osis sekolah kita!" jelas Ghea.
"Terus Lea ngapain sama dia, mana kaya adegan dinovel-novel yang gue baca lagi," kata Nessa sambil memperhatikan Azzalea.
"Mana gue tempe, dia tadi pergi gara-gara gak suka sama mapelnya kan?" tanya Dafa.
"Iya!" saut mereka bertiga.
"Terus kenapa bisa ditengah lapangan bareg si ketos?" tanya Daffa lagi.
"Mana gue tempe!" saut Ghea dan Nessa berbarengan.
Sedangkan Cakra tak memperdulikan ucapan ketiga sahabatnya itu, karena matanya sedang fokus menatap Azzalea. Bahkan tangannya sudah terkepal saat melihat Gavin menyeka keringat yang ada diwajah Azzalea.
Bukan hanya Cakra saja melainkan ada satu siswa lagi yang kesal melihat pemandangan itu. Evan, ia sedang menahan dirinya agar tidak lepas kendali dan menghajar seniornya itu.
Terlebih lagi Elena muncul disebelah Evan yang membuat darahnya semakin mendidih.
"Tadi pagi berangkat bareng siapa, siangnya sama siapa eh sekarang udah ganti lagi," kata Elena sambil menatap Azzalea.
"Mana ganteng semua lagi yang deketin dia," saut Andini yang langsung mendapatkan tabokan dari Elena. Karena memang benar yang Andini katakan, Cakra dan Dafa bahkan Gavin mereka memilik paras yang bisa dibilang diatas rata-rata dari siswa lainnya.
"Gue jadi iri," gumam Andini yang bisa didengar Evan.
"Pengen? Makanya cantik!" ledek Vion sambil terkekeh.
Andinu menatap tajam Vion lalu berkata, "Liat baik-baik gue jauh lebih cantik dari dia!" Andini mengibaskan rambutnya tepat didepan wajah Vion.
Sedangkan Evan dan Cakra masih tak bergeming dari tempatnya berdiri, mereka masih mengawasi gadis yang sudah membolak balikkan hatinya.
Sedangkan dilapangan Azzalea masih syok dengan apa yang Gavin lakukan padanya. Gavin menyeka keringat Azzalea sambil merapikan beberapa anak rambut yang menempel pada wajahnya karena terkena keringat.
Lalu Gavin meniup wajah Azzalea sehingga membuat gadis itu tersadar.
"Gak usah segitunya terpesona sama gue, gue tau kok kalau gue ini ganteng!" Gavin mencubit pelan hidung mancung Azzalea.
PLAK!
"Apaan sih!" kesal Azzalea.
"Kok tungkuk gue tiba-tiba terasa dingin, ya?" tanya Gavin.
"Jangan-jangan lo beneran setan?" lanjt Gavin sambil menaikkan sebelah alisnya menatap Azzalea.
"Cih, ya gue setan!" lagi-lagi Azzalea menginjak kaki Gavin yang satunya membuatnya meringis kesakitan.
Setelah mengatakan itu Azzalea benar-benar pergi dari harapan Gavin, bahkan ia tidak menoleh sedikit pun meskipun sudah dipanggil beberapa kali dengan sebuatan `hei`.
Sedangkan Rafa ia tak bisa menghentikan tawanya karena melihat sahabatnya ditolak mentah-mentah oleh seorang gadis yang baru dikenalnya.
"Hahahaa! Makanya jagan jadi buaya, kan dilepeh sebelum dikunyah." ledeknya sambil merangkul bahu Gavin.
"Heh, gue jamin dia bakal bertekuk lutut sama gue!" Gavin dengan percaya dirinya mengatakan hal itu. Dia tak tau saja bahwa saingannya sangatlah banyak, apalagi saingan terberatnya adalah Azka yang tidak akan membiarkan Azzalea berpacaran dengan sembarangan orang.
Sedangkan Evan wajahnya terlihat tidak baik-baik saja, ia yang sudah menyukai Azzalea sejak pandangan pertama pun merasa ragu untuk mendapatkan hati gadis itu. Terlebih lagi soal tantangan yang Rayhan berikan untuknya.
"HAH!" Evan menghela nafasnya yang terasa berat, ia tidak tahu harus bagaiamana. Mungkin seleksi yang sudah ikuti lolos tapi tidak mungkin ia bisa menjadi ketua osis begitu saja terlebih lagi ia masih siswa kelas X.
"Menyerah atau berjuang?" tanya Evan pada dirinya sendiri.
...----------------...
Vote like coment dong, biar author na semangat!