Evanzza

Evanzza
Izinkan Aku Mencintaimu



Lamat-lamat terdengar suara seseorang sedang bersenandung ria, sudut bibirnya terus melukiskan sebuah senyuman. Bahkan ia merasa jika banyak kupu-kupu sedang berterbangan mengelilinginya, siapa lagi jika bukan Evan. Entah sudah sejak kapan ia terus menyunggingkan senyum bahagianya.


Evan tak menyadari jika seorang gadis tengah menggerutu sambil menyebikkan bibirnya, ia merutuki dirinya sendiri yang mau dibonceng oleh Evan. Baru kali ini gadis itu menyesali perbuatannya sendiri, jika tahu akan seperti ini ia tak akan membolos saat jam pejaran. Dan pastinya ia bisa pulang dengan tenang bersama sahabatnya atau seetidaknya ia masih bisa pulang dengan kendaraan umum karena ada tas dan dompetnya. Tapi sekarang semua itu hanya sebuah penyesalan yang tak berarti.


Akhirnya dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Evan yang akan mengantarnya pulang kerumah. Dan soal motornya ia akan menghubungi bengkel langganannya setelah sampai dirumah. Untung saja ibu pemilik warung mau dititipi motornya sampai ada orang bengkel yang mengambil motor sport itu.


"Arrghh!" keluhnya.


Gadis itu sangat ingin memukul kepala Evan tapi ia urungkan saat mereka berhenti di peremlatan jalan yang lampu lalu lintasnya berwarna merah.


Evan melirik sekilas wajah gadis itu yang tak lain adalah Azzalea, lagi-lagi Evan tersenyum manis hanya melihat wajah kesal Azzalea.


"Imut!" gumam Evan.


Banyak pengendara lain yang menatap mereka berdua, mereka terlihat sangat cocok dan serasi. Bahkan tak jarang ada yang meneriaki mereka, terutama para bocil yang masih menggunakan seragam putih birunya.


"Cieee cieee!"


"Suiitt suiitt!"


"Pacaran nih yee!" goda mereka.


Namun seketika mereka terdiam dengan tatapan tajam Azzalea, bahkan Azzalea memberi peringatan dengan tangannya jika ia akan memukul mereka. Evan pun hanya terkekeh saja, sempat-sempatnya Azzalea meladeni bocil-bocil itu.


Greb!


Sebuah tangan melingkar begitu saja dipinggang Evan, membuatnya kaget lalu terkekeh karena setelah pelukan itu sebuah pukulan mengenai kepalanya.


"Pelan-pelan!" gerutu Azzalea yang kaget karena tiba-tiba Evan menjalan motornya tanpa aba-aba sedangkan dirinya masih terfokus pada beberapa bocil itu. Diliriknya lampu lalu lintas yang sudah berwarna hijau, tapi harus kah secepat itu menjalankan motor sampai membuat orang kaget.


"Apa?" teriak Evan yang hanya samar-samar mendengar suara Azzalea.


"Pelan-pelan, batu!" gerutu Azzalea.


Evan yang mendengar itu pun langsung menurunkan laju kecepatannya menjadi 20km/jam. Hal itu semakin membuat Azzalea jengkel.


"Ya jangan pelan banget kaya siput gini," ucapnya dengan kesal.


"Lalu maunya gimana?" tanya Evan.


Azzalea tak menjawab ia hanya diam sambil menatap sekitar, perjalanan itu hanya dihiasi dengan suara deru mesin bercampur dengan angin dan beberapa tlason kendaraan lainnya.


Motor itu terus melaju hingga berhenti disebuah Cafe yang terlihat cukup ramai pengunjungnya. Azzalea menyerkitkan alisnya, ia menatap bingung pada orang yang baru saja memarkirkan motornya itu.


"Turun!"


Azzalea masih tak bergeming, ia menatap Evan dengan tatapan heran. Bukannya cowok itu akan mengantarnya pulang ke rumah lalu kenapa berhenti di Cafe, itulah yang tersirat di pikiran Azzalea.


"Gue cuma mau berterimakasih sama lo, karena udah bantuin gue kemarin," jelas Evan, seolah ia paham arti tatapan Azzalea.


"Kemaren?" tanya Azzalea.


"Kemaren lo kan yang bantuin gue dijalan?" tanya Evan sambil menoleh kebelakang.


"Hmmm," saut Azzalea.


"Jadi sekarang turun, sebagai ucapan terimakasih gue," kata Evan lagi.


Dengan terpaksa Azzalea turun dari atas motor diikuti Evan pastinya. Setelah melepas helm, tanpa sadar tangan Evan meraih tangan Azzalea lalu menariknya memasuki Cafe.


"Lepasin!" pinta Azzalea.


"Suutt! Diem aja, gue cuma males cari lo kalau sampai ilang ditempat ramai kaya gini," jelas Evan sambil melihat sekeliling mencari meja yang kosong.


"Lo kira gue bocil," ketus Azzalea.


"Emang," saut Evan sekenanya.


Kemudian mereka duduk disebuah meja yang berada dipaling pojok dekat dengan jendela, Azzalea merasa senang karena berhasil melepaskan genggaman tangan Evan.


"Mau pesen apa?" tanya Evan sambil melihat isi buku menunya.


"Terserah!"


"Terserah!"


"Kalau ini?"


"Terserah!"


Tanpa bertanya lagi Evan langsung memesan makanan yang ia rasa sesuai selera Azzalea. Hingga beberapa saat terlihat dua geprek ayam dan dua lemon tea audah tersedia didepan mereka.


"Cepet makan kalau pengen pulang," kata Evan melihat Azzalea yang masih diam tak menyentuh makannya.


Dengan terpaksa Azzalea menuruti kemaunan Evan karena ia ingin cepat pulang kerumahnya. Sesekali Evan pun mencuri pandang ke arah Azzalea, ia terlihat menggemaskan apalagi saat makan.


Tanpa sadar tangan Evan terulur dan menyentuh pipi Azzalea.


"Ngapain?" tanya Azzalea, mata mereka berdua saling bertemu.


"Hah?" Evan yang kaget pun langsung mencari alasan yang tepat agar Azzalea tak curiga, "i-itu pipi lo ada sisa ayam!"


Azzalea hanya mengangguk lalu melanjutkan makannya sedangkan Evan sudah panas dingin karena ia ketahuan memegang pipi Azzalea.


"Kenapa gue kaya gini sih!" batin Evan.


Setelah makan mereka berdua memutuskan untuk pulang, tapi sebelum itu terjadi drama diparkir.


Evan tiba-tiba saja berbalik dan mematap Azzalea dalam, sedangkan Azzalea terlihat bingung dengan sikap Evan.


"Za," panggil Evan ia berjalan mendekati Azzalea.


Greb!


Evan menggenggam kedua tangan Azzalea, netranya tak berpaling sedikit pun dari Azzalea.


"Gue tau, mungkin ini terlalu cepat buat lo ... tapi apa yang akan gue katakan itu kebenarannya," kata Evan.


Azzalea masih diam sambil berusaha menarik tangannya, tapi susah.


"Apa?" tanya Azzalea.


"Gue tahu, banyak yang suka sama lo ... saingan gue banyak, Za!" curhat Evan.


"Tapi gue gak akan nyerah gitu aja sama lo, Za! Gue, gue suka sama lo Azzalea !"


"Gue—"


"Lo gak usah jawab sekarang, gue sanggup nunggu kok," kata Evan dengan sebuah senyuman, dia tahu jika Azzalea akan menolaknya tapi ap salahnya jika berjuang lagi.


"Lagian gue juga masih punya hutang sama bokap gue," jelas Evan.


"Hutang?" tanya Azzalea aneh.


"Sebuah syarat yang harus gue penuhi sebelum mendapatkan lo," ucapnya sambil terkekeh.


Azzalea yang tak mengerti hanya mengangguk saja, ia sedang malas berpikir.


"Jadi Azzalea Lestyana, izinkan aku mencintaimu!" pinta Evan.


"Gue akan buktiin semua ketulusan dan keseriusan gue," lanjut Evan lagi.


Azzalea hanya mendengus mendengar ungakpan hati Evan, ada rasa hangat yang tak pernah ia rasakan. Namun dengan cepat Azzalea menyangkalnya, ia berfikir rasa panas itu gara-gara ia makan ayam geprek tadi.


Yang jelas Azzalea tak tahu harus menjawab apa untuk saat ini, padahal biasanya ia langsung menolak dengan tegas saat ada yang menyatakan perasaanya. Tapi saat ini berbeda, ia ragu untuk menolak tapi tak berani juga untuk menerima.


Apalagi Azzalea belum lama mengenal sosok Evan ini. Mengantungkan perasaan orang itulah yang Azzalea lakukan saat ini. Ia belum yakin dengan perasaannya karena rasa aneh ini baru pertama kali ia rasakan.


"Yaudah ayo pulang!" Evan mengengam tangan Azzalea menuju motornya.


Sedangkan Azzalea hanya menurut sambil menatap tangannya yang digengang oleh Evan.


"Hangat!" gumam Azzalea.


...----------------...