
Untung saja hari ini ada rapat guru sehingga mereka tidak perluh mengikuti pelajaran seperti biasanya, Evan yang sudah resmi menjadi ketua osis pun kini tengah sibuk bersama anggota osis yang lainnya. Gavin dan Rafa masih menjadi anggota osis sehingga mereka bisa membantu Evan.
"Dipercepat aja gimana?" tanya Evan pada ketiga temannya itu.
"Apa nya?" tanya Vion bingung.
"Yang tadi, mumpung ini jam kosong juga kan?" tanya Evan meminta persetujuan.
"Yakin, sekarang?"
"Yakin!"
"Oke kita bergerak pada posisi masing-masing untuk misi penting ini!" Gavin terlihat bersemangat apalagi ia memiliki tugas penting untuk membawa target menuju tempat yang sudah disepakati.
"Kalian siap?" tanya Evan.
"Siap Bos!" saut mereka bertiga serempak yang sudah berdiri tegap dihadapan Evan.
"Misi penting ini harus berhasil, gue gak mau gagal dan ada kesalahan sedikit pun!" tegas Evan dengan wajah serius.
"Siap!"
Setelah itu mereka berpencar untuk menjalan tugas masing-masing, termasuk Evan sendiri yang sudah berjalan menuju titik temu mereka nanti.
"Belum apa-apa gue udah deg-degan gini," gumam Evan sambil memegangi dadanya. Bahkan beberapa kali ia mengambil nafas panjang untuk menertalkan degub jantungnya.
"Jangan sampai ada kesalahan Evan!" monolognya sendiri.
Sedangkan disisih lain Vion dan Rafa tengah mengambil perlengkapan yamg dibutuhkan saat ini didalam mobil Evan, cowok itu memang sengaja membawa mobil agar bisa membawa semua barang yang dibutuhkan.
Setelah mengambil peralatan itu mereka berdua bergegas menuju tempat Evan sebelum keduluan Gavin.
"Gimana?" tanya Evan.
"Beres!" saut Vion sedangkan Rafa hanya mengangguk saja.
Kemudian mereka tinggal menunggu target Gavin membawa target itu datang, sementara mereka bertiga sudah bersiap pada poisisnya.
Disisih lain Gavin tengah kebingungan mencari seseorang, karena orang itu tak ada didalam kelasnya. Bahkan teman-temannya pun tak ada, Gavin sudah mencari sampai ketaman belakang, kantin perpustakaan bahkan ke warung belakang sekolah tapi belum juga ketemu. Gavin mengacak rambutnya frustrasi ia tak ingin misi ini gagal apalagi hari ini sudah ditunggu-tunggu oleh sahabatnya itu.
"Sh it! Kenapa gue gak minta nomer ponselnya sih!" gerutu Gavin didepan kelas Mipa 2.
Gavin hendak menghubungi Evan tapi sebelum itu sudah terdengar suara yang sangat Gavin kenali, bahkan suara itu mampu membuat Gavin panas dingin.
"Ngapain kak?"
Gavin membalikan tubuhnya dengan cepat, dilihatnya gadis dengan rambut yang dikucir kuda memperlihatkan leher jenjangnya sehingga membuat Gavin diam tak berkedip. Ditambah lagi bibirnya yang sedikit tebal membuatnya samakin menggoda.
Glek!
"Cantik banget!" batin Gavin sambil menelan saliva nya.
"Kak!"
"Kok malah bengong sih, cari siapa?" tanya Ghea lagi pasalnya Gavin hanya diam saja sambil menatap wajah cantik Ghea.
"Jangan-jangan kesurupan lagi, Ghe?" celetuk Nessa yang berdiri disebelah Ghea.
"Heh! Siang-siang gini mana ada setan, Nes! Ada-ada aja lo ini," kata Ghea, sedangkan Nessa hanya mengangkat kedua bahunya acuh.
"KAK!" teriak Ghea sambil menepuk bahu Gavin, membuat cowok itu kembali pada dunia nyatanya.
"Apa?" tanya Gavin bingung.
"Kakak ngapain didepan kelas kita? Mau cari siapa?" tanya Ghea.
"Ah itu, siapa Azz—?"
"Azza-azza nehi-nehi," saut Ghea sambil terkekeh.
"Bukan! Azz... Azzalea, ya itu. Dia dimana?" tanya Gavin.
"Kakak kenapa nyariin Ale? Kakak suka sama dia? Kan dia punya nya oppa Evan? Kakak mau nikung temen kakak sendiri, ya! Wah jahat banget sih! Nessa gak setuju ya kalau kakak sama Ale, kan dia cintanya sama oppa Evan!" cerocos Nessa tanpa henti yang membuat Gavin terbengong mendengar semua pertanyaan yang diajukan Nessa.
"Sutt! Nessa lo ngomong apa lagi ceramah sih! Diem dulu napa," kata Ghea lalu menatap Gavin penuh tanda tanya.
"Kakak masih suka Ale, ya?" tanya Ghea.
"Hah! Gak kok, gak! Gue mungkin suka sa gebetan temen gue sendiri, apalagi gue tahu jelas siapa yang Azzalea suka!" jelas Gavin sambil melambaikan tangannya didepan dada.
"Syukurlah!" saut Ghea, "Ale paling di rooftop kak, kakak cari dia disana!"
"Ngapain disana? Gak aneh-aneh kan?" tanya Gavin.
"Cari angin!" saut Ghea sambil tersenyum, kemudian Gavin langsung berlari karena sudah terlalu lama membuang waktu.
Tapi tiba-tiba saja ia mengentikan langkahnya dan berbalik badan, dilihatnya Ghea masih berdiri sambil menatapnya bersama Nessa.
"MAKASIH!" teriak Gavin, Ghea pun mengangguk saja.
Setelah itu mengatakan itu Gavin langsung bergegas menuju rooftop dimana Azzalea berada, ia sampai tak sengaja menabrak beberapa siswa lainnya.
Host host!
Nafas Gavin terengah-engah saat sampai di rooftop, netranya menyisir setiap sudut untuk menemukan Azzalea. Sesekali tangannya bergerak untuk menyeka keringat yang jatuh dipelipisnya.
"Azzalea!" teriak Gavin membuat gadis itu menoleh mendapati Gavin dipintu rooftop.
"Kenapa?"
Greb!
Gavin langsung mencengkram pergelangan tangan Azzalea dan menariknya untuk mengikuti langkah Gavin. Azzalea terus saja memberontak karena Gavin tak memberikan penjelasan apapun selain menariknya.
"Lepasin!"
"Kak!"
"Gavin!"
Gavin tak memperdulikan teriakam dan umpatan yang diberikan Azzalea padanya, tujuannya hanya satu membawa gadis itu ketempat yang sudah disepakati.
Sedangkan Azzalea terus berusaha keras mau bagaimana pun kekuatan Azzalea, ia tak sebanding dengan Gavin yang memiliki badan dan kekuatan lebih besar dari dirinya.
Azzalea dibawa menuju lapangan basket dimana disana sudah disiapkan sedemikian rupa sampai membuat Azzalea tak bisa berkata-kata. Bahkan ia hanya menatap Gavin sebagai pertanyaan namum Gavin hanya diam saja dan menyuruh Azzalea masuk kedalam lapangan basket.
Azzalea memberanikan diri dan melangkah mengikuti setiap kelopak bunga mawar yang sudah ditabur dilapangan sampai membentuk sebuah love. Tapi sayangnya tidak ada siapapun yang berada dilapangan itu.
Dan disaat Azzalea mencari keberadaan Gavin untuk bertanya tiba-tiba saja terdengar langkah seseorang membuat Azzalea berbalik dan mematap orang itu.
"Siapa?" gumam Azzalea.
Seseorang yang sedang melangkah mendekati Azzalea kini tak terlihat wajahnya karena tertutup sebuah buket bunga mawar yang ada beberapa lolipop kesukaan Azzalea, tak lupa ia membawa banyak balon warna-warni ditangan kirinya.
Entah kenapa jantung Azzalea berdetak begitu kencang bahkan tangannya sudah terasa dingin, ditambah lagi beberapa siswa yang tengah berjalan disamping lapangan pun berteriak histeris saat melihat pemandangan romantis itu.
Kini orang itu sudah berdiri tepat dihadapan Azzalea, lalu perlahan ia menggeser buket bunga itu hingga terlihat wajah yang selalu membuat hatinya tak tenang.
"Evan?"
Evan kini tersenyum manis mematap netra Azzalea yang terlihat bening dan indah.
"Maaf sudah membuat mu menunggu selama ini," ucap Evan sedikit tertahan.
"Aku tau begitu banyak keraguan didalam hatimu saat aku menyuruh mu untuk menunggu tanpa ada kepastian!"
"Tapi aku begitu senang, kamu masih berada disisih ku dan menjadi salah satu suport sistemku!"
"Aku janji akan membuat mu bahagia dan menghilangkan semua keraguan dalam hatimu itu!"
"So, Azzalea Lestyana jadi lah seseorang yang selalu mengisi hatiku dan hari-hari ku!" Evan menatap lekat Azzalea yang sedang salah tingkah.
Semua orang masih diam menunggu jawaban Azzalea, begitu juga dengan Elena yang sejak tadi menyaksikan live streaming dilapangan basket itu. Tak jauh berbeda dengan Elena, Cakra pun sangat penasaran dengan jawaban Azzalea.
...----------------...