
Bel pulang pun belum berbunyi tapi Evan sudah stay didepan kelas Azzalea yang hanya bersebelahan dengannya saja. Ia masih sibuk menatap ponselnya sambil bersandar pada tembok depan kelas Azzalea, satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celana bahkan sesekali ia menyugar rambutnya yang sudah mulai panjang. Apalagi dibagian depan hampir menutupi matanya, penampilannya sekarang ini terkesan lebih memiliki aura yang membuat siapa saja ingin terus menatapnya.
Tak jarang banyak siswi yang menggodanya atau sekedar menyapa dengan senyum genitnya. Evan yang merasa tak enak jika hanya diam saja pun sesekali mengangguk sambil tersenyum tipis menanggapi mereka.
Kegitan Evan sejak tadi tak lepas dari seseorang yang sudah berdiri didepan pintu sambil menatap Evan, ia terlihat kesal dan sesekali mencebikkan bibirnya.
"Kenapa bibir lo dimaju-majuin gitu, minta dicium? Sono minta sama Evan, pasti mau," canda Ghea sambil terkekeh.
"Apaan sih, Ghe! Gak lucu tau gak!"
"Lah habisnya muka lo itu gak enak banget dilihatnya, apalagi lo itu habis jadian sama pak ketos harusnya bahagia ini malah cemberut gitu?"
"Atau oppa Evan buat Nessa aja, Nessa mau kok menerima dia apa ada nya!" celetuk Nessa dengan wajah tanpa dosa.
"Ini lagi anak kecil udah belajar jadi pepacor?" gertak Azzalea.
"Pepacor, apaan?" tanya Ghea.
"Mungkin hampir mirip sama popcorn?" saut Nessa.
"Ah! Seterah kalian!"
"Terserah, Al! Bukan seterah, suka amat ganti kata," kata Ghea membenarkan perkataan Azzalea.
"Iya-iya!"
"Oh iya Nes, lo gak boleh bilang kaya tadi! Pokok nya jangan pernah lo rebut pacar sahabat lo sendiri kalau gak mau persahabatan lo hancur, paham Nesa?" tanya Ghea.
"Iya paham, lagian Nessa juga gak beneran suka sama Evan! Walaupun Nessa suka tapi dia nya gak suka kan sama saja tak bisa memiliki mendingan cari yang mencintai Nessa apa ada nya!"
"Ini anak pinter amat soal cinta!" cibir Azzalea.
"Jomblo aja pinter gak kek lo, Al!" ledek Ghea kemudian mereka tertawa bersama.
"Biarin yang penting udah ada yang punya!" Azzalea menjulurkan lidahnya pada Ghea lalu menghampiri Evan yang masih fokus pada ponselnya.
"Chatan sama siapa serius banget?" tanya Azzalea yang sudah berdiri disamping Evan.
"Kenapa cemburu?" tanya balik Evan sambil menatap Azzalea.
"Nanya doang sih!"
Evan terkeheh sendiri melihat pacarnya yang terlihat tidak nyaman dan penasaran itu.
"Gue chatan sama anak-anak osis, bahas pertandingan antar sekolah bulan depan! Gak usah cemberut gitu, jelek tau!"
Evan mencubit hidung Azzalea dengan gemas sedangkan yang diperlakukan seperti itu hanya tersipu malu.
"Yuk Ness, kita pulang! Gue gak mau lihat yang ngbucin!" ledek Ghea sambil menarik lengan Nessa agar segera mengikutinya.
"Ale, gue sama Ghea duluan ya!" teriak Nessa sambil melambaikan tangannya.
Bukan Azzalea yang membalas melainkan Evan, Evan memgangguk sambil melambaikan tangannya juga pada Nessa.
"Gak usah carmuk sama cewek lain!" gerutu Azzalea.
"Astaga, dia kan temen lo juga Zalee!"
"Zaalee siapa?"
"Lo lah, Azzalea! Zale, es ale-ale. Tapi gue lebih suka pake Z makanya jadi Zale bukan Sale!" jelas Evan sambil menggandeng lengan Azzalea menuju parkiran.
"Terserah lah mau panggil gue apa, dari mulai bidadari, es ale-ale, sekarang Zale!" gerutu Azzalea namun tetap memgikuti langkah kaki Evan.
"Ayaaanng!" panggil Evan dengan nada selembut mungkin dan sedikit manja, membuat Evan sedikit tak nyaman tapi demi menggoda Azzalea ia akan lakukan.
"Hahaha! Gak cocok banget sih kek gitu .... yang biasa aja gitu loh!"
"Ayaang! Yang ayaaang!" goda Evan sambil nengayunkan tanggannya hal itu membuat Azzalea tertawa lepas. Entahlah kelakuan Evan memang kekanak-kanakan tapi hal itu terlihat sangat lucu dimata Azzalea.
Evan membuka kan pintu mobilnya dan mempersilahkan Azzalea masuk, tak lupa ia menghalangi kepala Azzalea agar tak terbentur. Sungguh perlakuan yang jarang Azzalea dapatkan selain dari orang-orang terdekatnya.
Tak henti-hentinya Azzalea menyungingkan senyum manisnya, penantian nya selama ini akhirnya membuahkan hasil yang sangat indah.
Evan segera memutari mobilnya dan masuk dikursi kemudi setelah memastikan Azzalea duduk dengan nyaman.
Tak hanya tinggal diam, Evan selalu mengajak bicara gadisnya itu hingga tak ada kecanggungan diantara mereka berdua.
"Kira-kira papa mau gak ya nerima gue jadi mantu nya?" tanya Evan sambil menatap jalanan.
"Papa lo?" tanya Azzalea karena tak tau siapa yang dimaksud Evan.
"Om Azka, dia menerima gue gak ya?" tanya Evan sambil mematap wajah Azzalea sekilas lalu kembali fokus kejalanan.
"Pasti! Gue yakin, papa bakal nerima lo sebagai pacar gue," kata Azzalea.
"Gue mau nya jadi calon suami," celetuk Evan dengan wajah serius.
"EVAN! Kita itu masih kelas dua SMA, ya kali mau nikah belum boleh sama pemerintah, Van!" jelas Azzalea.
"Tunangan dulu kan bisa, Zale! Gak harus langsung nikah juga, kan?"
"Terserah, males debat!"
"Jangan ngambek dong, gitu aja ngambek ... Jelek tuh, masa pacar nya ketua osis jelek gini sih!" goda Evan sambil mencubit gemas pipi Azzalea dengan tangan kirinya.
"Bodo amat!"
Hah!
Evan sedikit menghela nafasnya lalu tersenyum lagi menatap Azzalea.
"Ayang jangan ngambek dong, nanti langsung ku bawa ke KUA loh!" ancam Evan.
"EVAN!" teriak Azzalea tak terima.
"Iya sayang!"
"Lo kok ngeselin banget sih jadi orang!"
"Ngeselin tapi bikin kangen kan?" tanya Evan sambil menaik turunkan alisnya.
"Siapa bilang?"
"Gue yang bilang barusan! Ngaku aja gak usah malu-malu, gue malah seneng kok!"
"Iya, puas?"
"Banget sayang!"
Azzalea hanya mendengus kesal sedangkan Evan terlihat senang sudah membuat gadisnya marah-marah.
Tak butuh waktu lama, mobil Evan sudah memasuki pekarangan rumah milik Azzalea. Belum sempat Evan mematikan mesinnya Azzalea sudah keluar terlebih dahulu, membuat Evan hanya menggelengkan kepalanya.
"Wah siapa ini?" sapa Mama Azkia yang sedang menyirami tanaman.
"Siang tante!" sapa Evan.
"Oalah Evan, masuk dulu tante buatin minum!"
"Biarin aja langsung pulang, mah!" seru Azzalea yang masih kesal.
"Udah masuk aja, jangan dengerin Ale ... Dia suka gitu bilangnya suruh pulang padahal gak rela kalau pulang beneran!" jelas Mama Azkia sambil menyuruh Evan duduk diruang tamu.
"Tante buatin minum dulu, ya! Kamu mau minum apa?"
"Apa aja tan!"
"Oke tunggu sebentar," kata Mama Azkoa lalu bergegas menuju dapur sedangkan art yang lainnya masih sibuk dihalaman belakang.
Azzam yang sudah pulang dulu mendengar keributan dilantai bawah pun langsung turun, ia sedikit berlarian menuruni anak tangga.
"Yoo! Kakak ipar disini?" tanya Azzam langsung duduk disebelah Evan.
"Siapa kakak ipar?" suara itu berasal dari pintu masuk yang membuat Evan dan Azzam kaget.
...----------------...
Author sayang banget sama kalian pembaca setianya author! Makasih banget kalian masih stay dan dukung karya athor ini.