
Waktu istrirahat pun tiba, kali ini Elena sudah berdiri disebelah bangku Evan. Sedangkan Evan masih sibuk berbicara dengan Vion membahas rencananya nanti ikut serta dalam balapan nanti malam.
Tentu saja semua itu tanpa sepengetahuan sang papa, untung saja sang papa ada jawal piket malam sehingga semalaman beliau tak ada dirumah. Itulah kesempatan bagus untuk Evan, apalagi sudah lama sekali Evan tak ikut bapalapan mobil.
"Van! Kantin, yuk!" ajak Elena.
"Lo duluan aja, Len ... gue masih sibuk," kata Evan sambil menepis tangan Elena yang sedang menarik telapak tangannya.
"Tapi gue pengen makan bareng lo, Van ... kita kan udah lama gak makan bareng," bujuk Elena dengan nada selembut mungkin.
"Mungkin lain kali, Len!"
"Din, ajak Elena ke kantin gih!" akhirnya Vion angkat bicara juga membantu Evan menghindari Elena. Karena Vion tahu jelas bagaimana sifat Elena, ia tak mudah menyerah begitu saja. Apalagi Evan sudah menceritakan semua isi hatinya pada Vion yang notabenya adalah sahabat.
"Gue gak mau! Pokoknya gue mau ke kantin sama lo, Van!" protes Elena.
"Atau lo nolak gue karena mau ketemu cewek datar itu!" hardik Elena.
"Diem ya, Len! Gue lagi gak mau berdebat sama lo, lagian mau gue ketemu sama siapapun itu bukan urusan lo!" kesal Evan langsung pergi begitu saja dari hadapan Elena diikuti oleh Vion.
"Itu urusan gue, Van! EVAN!" teriak Elena sambil menghentakan kakinya beberapa kali dilantai.
"Kapan sih lo mau menerima perasaan gue," gerutu Elena.
"Kapan-kapan!" celetuk Andini yang membuat Elena semakin kesal. Akhirnya mau tidak mau Elena pergi bersama Andini menuju kantin dan lagi-lagi ia harus melihat pemandangan yang membuatnya semakin kesal.
"Len, lihat tuh si Evan," kata Andini sambil menunjuk sebuah bangku yang cukup ramai.
Elena mengikuti arahan Andini dan dilihatnya Evan sedang duduk disebelah Azzalea, terlihat beberapa kali cowok itu mencari perhatian Azzalea.
Elena berniat untuk membalas Azzalea apalagi kejadian kemarin yang membuat dendamnya semakin kuat. Elena melangkah mendekati meja yang sama dengan Evan, tanpa permisi ia langsung duduk dihadapan Evan.
"Nambah lagi perusuh!" celetuk Cakra dengan malas.
"Van!"
Evan pun tak menghiraukan kedatangan Elena karena misinya hanya mendekati Azzalea bukan yang lain, Elena pun menggerutu sambil menatap tajam Evan.
"Za, cobain ini enak!" Evan menyodorkan mie ayam yang sudah digulung pada sumpit didepan mulut Azzalea.
Azzalea menatap bingung Evan pasalnya yang ia makan sama dengan yang Evan sodorkan.
"Sama juga," celetuk Cakra kesal melihat Evan mencari perhatian Azzalea.
"Emang enaknya dimana, kan sama mie ayam juga?" tanya Nessa polos.
"Enak soalnya cowok ganteng yang nyuapin," jawab Evan sambil terkekeh.
"Yaudah buruan buka mulut lo pegel tangan, gue!" pinta Evan sambil menatap penuh harap pada Azzalea.
"Gak mau!" singkat jelas padat itulah yang keluar dari mulut Azzalea.
"Kalau dia gak mau buat gue aja, Van!" Elena pun ikut bersuara melihat intraksi Evan dan Azzalea itu.
"Tuh cewek lo diurusin dulu!" Cakra menyingkirkan tangan Evan dari hadapan Azzalea.
"Cinta segi berapa sih ini, ribet amat!" sindir Ghea sambil memasukan satu suap bakso ke dalam mulutnya.
"Emang cinta ada seginya, Ghe? Kok Nessa baru tau," kata Nessa polos.
"Ada Nessa gemoy, nanti Nessa kalau jatuh cinta jangan sampai bertepuk sebelah tangan ya!" pinta Dafa.
"Emangnya kenapa?"
"Ya gak akan bisa lah Nessa, karena tepuk tangan kan harus pakai dua telapak tangan!" jelas Dafa dengan sabar sedangkan Nessa mengangguk mengerti.
"Van, suapin gue aja!" Elena memohon pada Evan yang akan memasukkan mie ayam itu kedalam mulutnya.
"Punya tangan, kan?" ketus Evan.
"Punya lah, ini kan tangan," jawab Elena.
"Yaudah makan sendiri!" hal itu membuat mereka tertawa tapi tidak dengan empat orang yang sedang diam dengan pikirannya masing-masing.
Andini yang memesan makanan pun sudah datang dan ikut bergabung dimeja mereka, meski awalnya ragu tapi Andini tetap memberanikan dirinya. Meja itu terasa mencekam, bahkan lalat pun takut untuk mendekat.
"Temen lo tuh horor mukanya!" ledek Dafa sambil terkekeh.
Andini pun melihat kesamping dan betapa terkejutnya dia saat melihat wajah Elena yang sudah siap melahab orang, antara marah dan kesal sudah menjadi satu tapi sayangnya gadis itu tak bisa berkutik saat menatap Azzalea. Ia masih takut dengan ancaman Azzalea kemarin, ia tidak menyangka jika gadis yang seperti patung itu bisa lebih garang dari seekor macan.
"Seta— eh Elena!" dengan cepat Andini meralat omongannya itu agar Elena tidak marah.
Setelah selesai makan, Azzalea pergi terlebih dahulu dan diikuti oleh Ghea dan Nessa. Awalnya Evan akan menyusul tapi sayangnya lengannya lebih dulu ditarik oleh Elena.
"Ikut gue, Van!"
Evan melepaskan tangan Elena dengan kasar, membuatnya harus menghentikan langkah dan menatap Evan.
"Ikut gue bentar, Van! Ada yang pengen gue omongin sama lo, please kali ini aja," kata Elena.
"Kali ini aja?" ulang Evan.
Elena pun mengangguk sambil tersenyum manis dan akhirnya Evan mau mengikuti langkah kaki Elena.
Mereka berdua berjalan dalam diam, Elena yang berada didepan sesekali menyunggingkan senyumnya. Ia merasa senang akhirnya Evan mau berbicara dengannya seperti dulu sebelum kenal dengan Azzalea.
Mereka berdua sampai di sebuah taman yang terlihat cukup sepi, hanya ada beberapa siswa yang bersantai disana tapi mereka tak menghiraukan keberadaan Elena dan juga Evan.
"Lo mau ngomong apa?" tanya Evan tak sabaran.
"Duduk dulu sini, Van!" Elena menepuk bangku yang ada disebelahnya.
"Gak usah, buruan apa yang mau lo omongin?" tanya Evan.
Huftt!
Elena menghela nafasnya sebelum mengungkapkan maksudnya mengajak Evan berbicara. Lalu ia berdiri dan menatap Evan lekat, tapi sayangnya cowok itu tetap diam pada posisinya.
"Gue, gue mau ngomong sesuatu yang penting sama lo," kata Elena serius, Evan yang mendengar itu pun menyerkitkan alisnya.
"Apa?"
"Lo tau gak, Van? Hari paling bahagia buat gue itu kapan?" tanya Elena, spontan saja Evan menggelengkan kepalanya tanda tidak tau.
"Saat gue kenal sama lo," ucap Elena sambil mengenang masa-masa indah waktu awal berjumpa dengan Evan saat masih berseragam putih biru.
"Hmmm,"
"Saat itu gue gak punya temen sama sekali dan lo datang buat ngajak gue kenalan, gue kira masa putih biru gue bakal bosenin tapi gue salah, masa itu terasa indah." Elena tersenyum sambil mematap Evan.
"Gue mau lo perlakuin gue sama sepeti waktu itu, Van!" pinta Elena.
"Gue, gue suka sama lo sejak saat itu... dan gue harap lo juga memiliki rasa yang sama, Van!" Elena menatap lekat kedua netra Evan.
"Lo mau, mau kan jadi pacar gue?" tanya Elena setelah mengumpulkan keberanian dan membuang rasa malu dan gengsinya untuk mendapatkan Evan.
Elena tersenyum penuh arti saat sekelebat ia melihat sosok yang tak lain adalah Azzalea. Tapi sayangnya gadis itu lebih memilih bersembunyi dibalik tembok karena tak ingin menganggu.
"Sorry, Len!" Evan tak meneruskan perktaannya saat Elena tiba-tiba saja menutup mulut Evan dengan jari telunjuknya kemudian ia berhambur memeluk Evan erat.
Azzalea yang merasa seperti penguntit pun memutuskan untuk pergi, padahal ia berniat ke taman itu untuk bersantai menikmati angin sepoi dan bolos kelas tentunya tapi apa yang ia lihat.
"Cih, tapi pagi aja bilang saranghae belum ada 24 jam udah sama yang lain," gerutu Azzalea tanpa sadar.
"Eh tunggu kenapa gue kesel sih, kan gue gak ada hubungan apa pun sama si kipas angin itu!" monolog Azzalea sambil memukul jidatnya pelan.
Azzalea menggerutuki kebodohannya sendiri, karena merasa kesal melihat Evan dipeluk perempuan lain.
"Bodo amat lah!" kesal Azzalea pada dirinya sendiri.
Sementara ditaman dimana Evan berada terdengan suara rintihan dari seorang gadis yang tak lain adalah Elena.
"Aawhhh! Sakit Evan, lo gak bisa lembut sedikit?"
...----------------...
Jangan Lupa Vote gratisnya tiap hari senin ya!
Atau kalian mau Evan sama Elena aja nih, kalau gak mau kasih hadiah 😅