
"Astaga Azzalea!" pekik Ghea saat melihat Azzalea yang sedang dipapah oleh Cakra berjalan mendekati mereka berdua.
"Lo habis dari manq, kenapa lo gak balik-balik ke kelas?" tanya Nessa.
"Penampilan lo kenapa kucel gini sih?" tanya Ghea.
"Ceritanya panjang," saut Azzalea, sambil duduk diatas motornya.
"Lutut lo kenapa?" tanya Nessa.
Terlihat Cakra mengeluarkan tissu entah dari mana yang jelas saat ini dia sudah menyeka darah yang keluar dari lutut Arzzalea.
"Sshhh, perih!" keluh Azzalea sambil memepuh tangan Cakra.
"Lain kali jangan pakai cara maling. ya!" Cakra menatap kedua manik mata Azzalea.
"Maksudnya?" tanya Ghea dan Nessa bersamaan.
"Dia keluar lewat jendela, kalian tau kan jendela UKS itu tingginya kaya apa?"
"What!" pekik Ghea.
"Kalau lo mau lukain diri lo gak gini caranya, Le!" Nessa memeluk erat tubuh Azzalea.
"Kalian ngomong apa sih!" kesal Azzalea.
"Gue tadi itu tidur di UKS, pas mau keluar eh pintunya ke kunci.. mana gak ada orang lagi," kata Azzalea.
"Lo kan bisa telepon kita," kata Nessa.
"Maunya gitu tapi, ponsel gue kan ke tinggalan di kelas... apes banget kan gue!" ucap Azzalea sesedih mungkin.
"Kira-kira siapa ya yang udah kunciin lo?" tanya Cakra yang membuat acara pelukan itu terlepas.
"Gak tau!" saut Azzalea.
"Akhir-akhir ini lo ada masalah sama siapa aja?" tanya Ghea.
Azzalea menggelengkan kepalanya, pasalnya ia merasa tidak memiliki masalah dengan siapapun. Terlebih lagi mereka belum lama masuk sekolah.
"Putri es gini mana ada bikin ulah," ucap Cakra sambil terkekeh.
"Iya sih, dia bukan tipe orang yang memulai masalah duluan kalau gak disenggol!" saut Ghea.
Azzalea tidak memperdulikan pemikiran mereka karena ingin cepat pulang dan mandi. Saat Azzalea sudah memakai helm dan jaketnya tiba-tiba saja motornya dihentikan oleh Cakra.
"Mau kemana?" tanyanya.
"Pulang!" singkat Azzalea.
"Turun!"
Azzalea menyerkitkan alisnya bingung, namun tetap saja ia turun dari atas motornya.
Cakra lalu mendekati Azzalea, ia bidiri tepat didepan gadis itu membuat Azzalea sedikit mendongak karena tingginya hanya sebatas hidung Cakra.
Set!
Cakra sudah mengikat jaket kulit miliknya di pinggan Azzalea, membuat Azzalea semakin bingung dan ingin melepas jaket itu. Tapi tangannya terhenti saat mendengar perkataan Cakra.
"Buat nutupin paha lo!"
Mata Azzalea membulat sempurna mendengar ucapan Cakra, tapi sebisa mungkin ia langsung merubah ekspresinya menjadi biasa saja.
"Uhuuk! Kita pulang yuk. Ness... males jadi nyamuk." canda Ghea sambil mengandeng lengan Nessa agar berjalan menuju mobilnya.
Ingin rasanya Azzalea menimpuk kedua sahabatnya yang sudah berlari menjauh sehingga hanya ada Cakra dan Azzalea saat ini.
"Duluan," kata Azzalea yang mampu membuyarkan lamunan Cakra.
"Eh tungguin!" dengan cepat Cakra menyalahan mesin motornya dan menysul Azzalea.
Azzalea menaiki motor sportnya seperti sedang balapan diarena, bagaiamana tidak dengan gesitnya ia menyalip satu persatu kendaraan yang ada didepannya. Bahkan saat didepannya ada sebuah truk dan dari arah beralawan ada sebuah mobil, Azzalea dengan santainya menyalip truk itu, Cakra yang sejak tadi dibelakang Azzalea pun menjadi was-was. Ia takut terjadi sesuatu kepada sahabat sekaligus orang yang ia sayangi.
"Itu cewek suka banget bikin jantung," gumam Cakra saat melihat aksi Azzalea tadi.
"Bandel banget sih, udah dibilangin gak boleh ngebut masih saja kaya orang ngajak ribut!" monolog Cakra sambil terus mengikuti motor milik Azzalea yang sudab melajut jauh didepannya.
Tak selang berapa lama akhirnya Azzalea sampau dikediamannya, setelah memarkirkan motonya ia segera masuk kedalam rumah. Sedangkan Cakra ia melajukan motornya kembali setelah melihat Azzalea masuk kedalam rumah dengan aman.
"Kaki lo kenapa?" tanya Azzam yang duduk diruang tamu.
Suara itu mengagetkan Azzalea yang celingukan agar tidak ketahuan sang papa, Azka.
"Suuttt. jangan keras-keras nanti kalau sampai papa habis lo!" ancam Azzalea.
Azzam menyerkitkan alisnya ia tidak paham maksud perkataan Azzalea, tapi ia mengangguk saja.l agar bekapnnya segera dilepas.
"PAAAAHHH!" teriak Azzam menggema diseluruh rumah.
Azzalea memelototkan matanya mendengar Azzam berteriak memanggil sang papa. Padahal ia sudah diperingatkan, jangan sampai papa nya tau karena bisa ribet urusannya.
"Kan gue udah bilang jangan kasih tau—"
"Tau apa?" suara berat nan dingin itu terdengar mensuk telinga mereka, aura kesal sangat jelas terasa.
"Ka—" lagi-lagi Azzam dibekap oleh Azzalea agar tidak mengadu pada sang papa.
"Ada apa sih? Papa lagi sibuk kenapa teriak-teriak?" tanya Azka.
"Gak kenapa-kenapa, pah! Kita cuma lagi bercanda aja kok, ya kan Zam," jawab Azzalea sambil mencubit pelan lengan Azzam.
Azzam pun meringis kesakitan lalu ia mengangguk tapi siapa yang menyangka jika anggukannya itu memberikan kode pada Azka agar melihat lutut Azzalea.
Azka yang paham dengan gerakan mata Azzam pun langsung membulat saat melihat darah kering pada lutut Azzalea. Ya saat naik motor tadi Azzalea tidak merasakan jika darahnya keluar lagi.
"ALE, KAMU KENAPA SAMPAI BERDARAH SEPETI INI?" teriak Azka yang sudah ditebak oleh Azzalea gimana respon sang papa. Sedangkan Azzam hanya bisa terkekeh.
"Ale baik-baik aja, pah!" kata Azzalea agar kepanikan Azka hilang.
"Ayok kita kerumah sakit!" Azka langsung menggendong Azzalea tanpa permisi.
Azzam yang melihat itu pun sampai terbahak-bahak karena ia juga pernah merasakan hal yang sama saat ia terluka. tapi sang papa terlalu berlebihan.
"Siapa yang sakit?" tanya Azkia yang baru masuk kedalam rumah, ia menatap bingung kearag suami yang sedang menggendong putrinya.
"Lea kamu kenapa sayang? Kenapa digendong segala, mana yang sakit?" tanya Azkia.
Sedangkan Azzalea semakin dibuat pusing dengan pertanyaan sang mama.
"MAH PAH AZZALEA GAK SAKIT, JADI CEPET TURUNIN ALE!" tetiaknya membuat mereka menutup telinganya.
"Tapi—"
"Turunin, pah!" pinta Azzalea. Azka yang melihat wajah putrinya cemberut pun langsung menurunkan Azzalea dengan hati-hati.
"Bilang sama papa siapa yang buat kamu sampai seperti ini, biar papa kasih pelajaran orang itu!" kata Azka.
"Paaahh!" rengek Azzalea, "Ale baik-baik aja, oke! Dan lagi Ale luka karena gak hati-hati aja," kata Azzalea.
"Bener?" tanya Azka sambil mengusap pipi Azzalea. Azzalea mengangguk dengan kuat agar Azka percaya.
"Sini mama obatin!" kata Azkia yang sudah duduk disebelah Azzam.
Azzalea nurut saja dari pada ia harus dibawa ke rumah sakit dengan luka yang gak seberapa itu, bukan sembuh yang ada ia malu karena lukanya tidak parah.
Lutut Azzalea tergores dengan pengait yang digunakan untuk mengunci jendela itu. Karena saat jatuh kulitnya bergesakn dengan benda tak tajam namun dapat membuat luka.
"Kok bisa kaya gini?" tanya Azkia.
Kemudian Azzalea menceritakan semuanya dari awal sampai akhir, bukannya dikasihani Azzalea mendapat ceramah dari sang mama karena Azzalea bolos disaat jam pelajaran.
"Kamu jangan ngulang sejarahnya papa kamu yang suka tidur sama bolos kelas!" gerutu Azkia.
"Awwh! Perih mah," rengek Azzalea.
"Makanya jangan banyak tingkah, sekolah aja yang bener!" Azzalea hanya diam ia tak mau berdebat dengan mamanya itu.
"Nasehatin anak kamu itu, By. Mau jadi apa dia nanti kalau perempuan suka bolos!" kesal Azkia.
"Jangan remehkan anakku, Nyun!" ucap Azka sambil mengusap pucuk kepala Azzalea, membuatnya tersenyum lebar.
"Manjain aja terus, manjain!" ketus Azkia lalu pergi ke dapur.
Sedangkan Azka hanya menatap punggung sang istri sambil terkekeh. Istrinya itu selalu terlihat imut saat menggerutu dan marah, sehingga terkadang Azka sengaja membuat Azkia marah karena ingin melihat wajah lucunya.
"Perluh papa kasih pengawal buat kamu. supaya gak ada yang gangguin kamu lagi?" tanya Azka sambil menatap putrinya itu.
"Kasih aja pah, biar gak banyak tingkah!" Azzam ikut memanas-manasi.
"BIG, NO!!!" tolak Azzalea sambil menyilangkan kedua tangannya didepan wajah.
Azka terlalu over dengan kedua anaknya itu, ia tidak ingin terjadi sesutu yang membahayakan mereka berdua. Dan ia juga terlalu memanjakan mereka, tapi Azka tidak semata-mata langsung memberikan apa yang mereka mau. Karena Azka akan memberikan syarat tertentu jika mereka menginginkan sesuatu.
...----------------...