Evanzza

Evanzza
Tinggalkan Dia!



Masih pagi namun sudah terjadi perseteruan antara ayah dan anak. Mereka berdua sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah.


"Pokoknya kamu harus berangkat sama papa!"


"Gak mau, Ale bukan anak kecil lagi pah! Ale bisa berangkat sendiri!"


"Papa gak izinin, pokoknya kamu harus berangkat sama papa atau gak usah sekolah sekalian!"


"Paaaaahhh!" rengek gadis cantik yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.


"Apa? Papa yakin pasti kamu mau berangkat bareng sama bocah bau kencur itu kan, asal kamu tau papa gak akam izinin!" sentak sang papa.


"Ale malu!"


"Oh jadi kamu malu dianterin sama papa? Harusnya kamu itu bersyukur papa yang sibuk masih sempat nganterin kamu sampai sekolah! Coba lihat anak-anak lain, bahkan buat ketemu sama orang tuanya saja susah!" murka Azka.


Apalagi Azka mengingat masa mudanya dulu yang jauh dari kasih sayang orang tua. Bahkan Azka sangat jarang memiliki waktu bersama dengan kedua orang tuanya. Hal itu lah yang membuat Azka selalu berusaha membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, agar kedua anaknya tidak merasakan apa yang ia rasakan dulu.


"Bu-bukan gitu pah!" Azzalea sedikit tersentak dengan ucapan sang papa. Memang benar apa yang dikatakan Azka, ia masih menyempatkan waktunya untuk sang anak tapi bukan pemaksaan seperti ini.


"Ale malu kalau dianterin ke sekolah, apa kata temen-temen Ale nanti? Ale udah SMA, pah! Bukan anak kecil lagi yang harus dianterin sampai depan sekolah!" kesal Azzalea, bahkan wajah cantiknya sudah memerah.


"Cuekin aja, gak usah denger apa kata orang!"


"Paaahh!"


"Udah-udah kalian ini kenapa pagi-pagi udah ribut aja, buruan duduk lalu sarapan!" kata mama Azkia sambil membawa lauk ayam kecap.


"Papa itu yang mulai mah, pokoknya Ale gak mau dianterin sekolah, titik gak pake koma!" Azzalea duduk dengan kasar dikursinya lalu melipatkan tangannya didepan dada. Ia membuang wajahnya ke samping, entahlah ia kesal sekali melihat wajah dingin sang papa.


"Papa gak menerima bantahan apapun, Al! Kamu suka atau gak tetap harus nurut sama papa, papa ini orang tua mu!" Azka menatap tajam anak gadisnya itu.


Sedangkan dari arah tangga Azzam baru saja turun sambil menyampirkan tasnya dibahu.


Terlihat jelas wajah kusut Azzalea, moodnya pagi ini benar-benar hancur. Apalagi sang papa tidak bisa dibantah keinginannya. Bahkan piringnya masih saja kosong, tak ada pergerakan sama sekali untuk mengambil sarapan.


"Kamu gak makan, Al?" tanya sang mama.


"Kenyang!" ketus Azzalea, sedangkan Azzam hanya cuek saja karena sudah terbiasa melihat perdebatan kakak dan papa nya itu.


Baktirya mau tidak mau Azzalea ikut dimobil sang papa bersama Azzam. Tiga orang itu hanya diam dalam pikirannya masing-masing. Azka yang fokus pada jalanan sedangkan Azzalea masih merajuk dengan sang papa, buktinya ia terus mengerecutkan bibir nya sejak tadi.


Azzam tak mau ambil pusing, ia lebih memilih sibuk dengan ponselnya saja. Hingga tak terasa mobil itu sudah berhenti didepan sekolah Azzam.


"Berangkat dulu, pah!"


"Hmm, langsung pulang gak usah mampir kemana-mana!" pesan Azka.


Setelah Azzam sudah masuk kedalam sekolah, Azka melajukan kembali mobilnya. Ia milirik gadis cantik yang duduk disebelahnya, lalu ia menarik nafasnya perlahan.


"Al, papa cuma gak mau kamu tersakiti! Semua yang papa lakuin ini demi kebaikan mu, Evan itu bukan orang baik seperti yang kamu fikirkan atau yang kamu lihat!" jelas Azka perlahan agar tak tersulut emosi kembali.


"Dia itu laki-laki breng sek yang suka mainin perempuan!" lanjut Azka lagi.


"Maksud papa apa? Papa jangan menilai orang sesuka hati tanpa tahu kebenarannya!"


Azka hanya diam saja, tangan kirinya meraih ponsel yang ada pada saku celananya. Setelah layar ponsel itu terbuka dan menemukan apa yang ia cari, ponsel itu disodorkan pada Azzalea sambil berusaha fokus pada jalanan karena ia sedang menyetir.


Wajah Azzalea sedikit bingung, kenapa sang papa menyodorkan ponselnya. Namun dalam hitungan detik ponsel itu sudah berpindah tangan.


Netra Azzalea membulat sempurna saat melihat apa yang ada didalam gambar itu, beberapa kali ia memastikan siapa yang ada didalam foto itu. Bahkan Azzalea sampai menzoom foto itu agar terlihat jelas.


Seseorang tengah tertawa renyah bersama seorang perempuan, bahkan mereka berdua terlihat begitu dekat. Bisa dipastikan hubungan mereka lebih dari seorang teman.


Mata Azzalea terasa panas, dadanya bergemuruh seperti akan turun hujan yang sangat deras. Satu tangannya meremas ujung rok sekolah yang ia pakai.


"Siapa gadis ini, kenapa mereka berdua begitu dekat? Kenapa dia tidak bilang jika bertemu cewek lain? Oh, apa kemarin dia buru-buru pulang karena ingin bertemu cewek ini? Selingkuhan?" begitulah pikiran-pikiran yang ada didalam kepala Azzalea.


"Papa harap kamu sadar kalau dia bukan orang baik seperti apa yang kamu pikir, Al!"


"Papa gak mau kamu sedih apalagi sampai menangis, papa harap kamu tau apa yang harus kamu lakukan. Tinggalkan dia!"


Azzalea tak menjawab ia hanya diam saja, pikirannya sudah tak karuan. Ia hanya ingij cepat-cepat bertemu dengan orang yang ada didalam foto itu dan menanyakan semuanya.


Azzalea sengaja mengirim foto itu ke ponselnya sendiri, itu bisa menjadi bukti jika dia mengelak.


Mobil milik Azka sudah berhenti tepat didepan sekolah Azzalea, gadis itu mengembalikan kembali ponsel sang papa. Mata merahnya tak bisa disembunyikan lagi, bahkan disudut matanya sudah ada buliran air bening namun secepat kilat Azzalea menghapusnya.


"Ale sekolah dulu, pah!" pamitnya sambil mencium punggung tangan Azka.


"Nanti papa jemput!"


Azzalea hanya mengangguk saja, langkahnya terasa berat, pandangannya kosong. Azzalea tak ingin berdikir buruk, tapi itu tidak bisa mengingat mereka begiru serasi dan terlihat akrab.


Telinga Azzalea masih bisa dengan jelas mendengar ucapan sang papa, "tinggalkan dia!"


"Gue harus gimana, lo juga kemana? Kenapa dari semalam gak bisa dihubungin sih!" monolognya sambil meliha layar ponselnya yang sedang menghubungi seseorang. Membuat pikirannya semakin kalut saja.


Azzalea berbalik arah, ia malas unruk masuk kedalam kelas. Apalagi bertemu dengan sahabatnya yang akan menanyakan kenapa matanya memerah.


Rooftop, ya itu adalah tempat yang dipilih Azzalea untuk menenangkan diri dan hatinya saat ini. Lihat saja cairan bening yang sejak tadi ia tahan pun akhirnya runtuh juga. Ia terisak sendirian disudut rooftop, dadanya sesak, sakit seperti tertusuk benda tajam.


"Lo dimana? Gue harus apa? Kalau semua itu benar gue gak sanggup?" gumamnya disela-sela tangis.