
Banyak pasang mata menatap iri ke arah dua orang muda mudi yang sedang berjalan dikoridor sekolah. Yang satunya terlihat cool dam cuek pada sekitar namun satunya lagi berbanding terbalik karena ia terlihat ramah dan murah senyum kepada siapa pun yang menyapanya.
"Udah sana gak usah ngikutin!"
"Gak, gue mau nganterin pacar gue sampai ke kelasnya dengan aman!"
"Gimana mau aman kalau lo tebar pesona sana-sini!" ketusnya.
"Ciee cemburu!" goda Evan sambil mencubit pipi Azzalea gemas.
"Sakit, Evan!"
"Uluh uluh atit ya, sini gue elus-elus biar sakitnya ilang!" tangan Evan sudah bersiap menyentuh pipi Azzalea tapi sayangnya gerakan itu terhenti.
"Misi-misi! Air panas lewat!" Elena menerobos begitu saja kedekatan Azzalea dan Evan. Lalu dia berbalik dan menatap sinis Azzalea.
"Kalau mau pacaran jangan ditengah jalan, emang lo pikir ini sekolah bapak lo!" kesal Elena lalu pergi begitu saja, ia tak habis pikir pagi-pagi sudah mendapatkan pemandangan yang membuat matanya sakit begitu juga hatinya.
"Fans lo tuh cemburu," ejek Azzalea.
"Biarin aja yang penting gue milik lo!" bisik Evan yang langsung mendapat tampolan dari Azzalea. Bukanya marah Evan hanya terkekeh saja sambil mengacak-acak rambut Azzalea.
Setelah sampai didepan kelas Evan menyuruh Azzalea masuk, karena ia memiliki sesuatu yang harus dikerjakan.
"Masuk gih, jangan bolos! Kalau sampai bolos dan ketangkep sama gue, habis lo!" Evan menaikan sebelah alisnya sambil tersenyum semirik.
"Suka-suka gue dong!"
"Ohh berani ya?" Evan melangkah mendekati Azzalea sedangkan gadis itu mundur teratur, hingga tubuhnya menabrak pintu kelas.
"Udah sana masuk! Jadi gadis penurut, ya!" bisik Evan setelah itu berjalan menjauh sambil melambaik tangannya.
Azzalea masih terbengong menatap punggung Evan yang kian lama menjauh, tangannya terulur menyentuh dada yang sudah bertedetak kencang.
"Gue lemah banget banget didepan lo!" batin Azzalea.
Ghea yang baru sampai pun heran melihat sahabatnya bengong didepan kelas, beberapa kali ia mencoba menyadarkan Azzalea namun gagal. Hingga akhirnya Ghea mengguncang tubuh Azzalea agar tersadar.
"Al, Ale! Azzalea, masih pagi lo jangan kesambet gini!" teriak Ghea.
"Cepet keluarin setannya, Al!" pinta Ghea sambil menggoyangkan tubuh Azzalea.
"Apaan sih, Ghea? Setan apaan?" tanya Azzalea sambil menatap tajam sahabatnya itu.
"Lo gak kesurupan, Al?" tanya Ghea.
"Gak!"
"Terus kenapa pagi-pagi udah bengong didepan kelas kalau gak kesambet?"
Azzalea memutar kedua bola matanya dengan malas. kenapa ia baru sadar jika memiliki teman yang absrud seperti ini. Azzalea memilih diam sambil berjalan masuk kedalam kelas, ia tak ingin memperpanjang masalah ini dengan Ghea.
"Ye ditanya malah main pergi aja," kata Ghea yang mengikuti langkah kaki Azzalea.
"Gue itu gak kesambet, Ghea yang baik hati dan tidak sombong rajin menabung!"
"Makasih, terus kenapa kalau gak kesambet?" tanya Ghea penasaran.
"Percuma gue jelasin lo gak akan tau," jawab Azzalea.
"Kok gitu?"
"Soalnya ini cuma dirasain sama orang yang punya pacar, sedangkan lo kan jomblo mana tau!"
"Wah parah! Mentang-mentang udah ada pawang jadi gitu sekarang, kemarin siapa yang galau kalau perasaan bertepuk sebelah tangan? Terus kemarin siapa yang bimbang dan ragu, takut cuma dighosting aja?" cecar Ghea tiada henti.
"Stop! Iya gue semua itu gue, tapi kan sekarang udah jelas dan udah pasti. Weeekks!" seru Azzalea sambil menjulurkan lidahnya pada Ghea.
"Cih, mentang-mentang udah ada yang lindungin makin songong ini anak!" Ghea bersiap mencubit pipi Azzalea namun sayang tak berhasil, Azzalea berhasil menghindar.
"Wah wah kesambet apa ini si patung es gak bolos kaya biasanya?" suara itu membuat Azzalea dan Ghea menoleh, dilihatnya Dafa yang datang bersama Nessa.
"Kesambet setan bucin tuh!" saut Ghea.
"Apaan sih, Ghea! Mana ada setan bucin, kok Nessa belum pernah liat?" tanya Nessa.
"Nanti kalau istirahat, gue kasih tau setan bucinnya!" Ghea terbahak-bahak sambil melirik Azzalea.
"Ciee berduaan aja nih, si tepung mana?" tanya Azzalea.
"Emang belum berangkat? Biasanya kan bareng sama lo, Al?" tanya Dafa.
"Entah, gue tadi dijemput .... Gak tau Cakra dimana," kata Azzalea sambil mengendihkan bahunya.
"Kemaren kan sama lo, Daf?"
"Gak! Kemarin dia kan ilang gitu aja habis lihat live streaming nya si Ale," jawab Dafa.
"Jangan-jangan!" seru Ghea menatap mereka satu persatu.
"Coba lo telepone, Daf!" perintah Azzalea.
Dafa langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Cakra tapi sayangnya hanya suara operator yang terdengar.
"Njir! Cewek gue yang angkat!" seru Dafa.
"Siapa?" tanya mereka bertiga kompak.
"Mbak operator," kata Dafa sambil terkekeh, sedangkan mereka menatap jengah.
"Coba telepon rumahnya!" saran Nessa.
"Baiklah!" Dafa langsung mencari kontak untuk menghubungi rumah Cakra.
"Halo, pagi tante! Ini Dafa, tan .... Cakranya udah berangkat belum ya, tan?"
"...."
"Oh gitu, makasih ya tan!"
Tut!
Dafa menatap ketiga perempuan yang tetlihat penasaran dan khawatir itu.
"Gimana, Daf?"
"Cakra dirumah?"
"Wajah Dafa buat orang makin panik aja!"
"Cakra udah berangkat sekolah!" empat kata itu membuat mereka bertiga lega, berarti Cakra baik-baik saja.
"Tapi kenapa belum sampai dikelas, bentar lagi bel loh?" tanya Ghea.
"Gak biasanya si tepung kaya gini," gumam Azzalea.
"Udah maklumin aja, mungkin di Cakra pengen nenangin diri dulu buat menerima semua kenyataan ini." jelas Dafa.
"Tapi kalau dia kenapa-kenapa, giamana?" tanya Azzalea khawatir.
"Gue kenal Cakra orangnya kaya gimana, dia gak akan lakuin hal-hal bodoh kaya gitu!"
"Selamat pagi anak-anak!" sapa seorang guru yang sudah berjalan menuju meja guru.
"Pagi bu!" seru mereka serentak.
Dafa dan Nessa yang masih berdiri pun langsung bergegas duduk dibangkunya masing-masing, mereka tak ingin dihukum membuat rangkuman yang bisa menghabiskan beberapa lembar kertas itu.
"Ada yang gak masuk?" tanya Bu Arum.
Seluruh siswa saling menatap mencoba mengamati siapa yang tidak hadir saat ini.
"Cakra kemana, Azza?" tanya Bu Arum.
"Cakra, sakit bu!"
"Ohh, kalau sakit suratnya mana?"
"Itu nanti menyusul bu, soalnya tadi dadakan," kata Azzalea ragu.
"Yasudah, kalau gitu besok jangan lupa suartnya dibawa sekalian kalau dia sudah masuk!"
"Baik bu!"
"Sekarang buka halaman 20, kalian pahami dulu materinya nanti saya punya tugas buat kalian semua!"
"Tugasnya apa, bu?" tanya salah satu siswa.
"Membuat puisi!"
"Yaaaaaahhh!" seru semua siswa yang tak suka dengan tugas yang diberikan Bu Arum.
"Kurang?" tanya Bu Arum.
"Cukup, bu!"
"Yasudah sekarang kalian pahami betul-brtul materinya kalau ada sang gak paham bisa tanya!"
Suasana kelas menjadi senyap tak ada lagi suara apapun selain suara lembar kertas yang dibuka, lalu suara bolpoin yang sengaja diketuk-ketukan pada meja. Mereka bingung harus memulai dari mana untuk membuat sebuah puisi, helaan nafas terdengar beberapa kali.
Namun lain Azzalea karena sejak tadi ia terus menatap bangku disebelahnya, biasanya dibangku itu terdapat Cakra yang akan membantunya mengerjakan tugas yang tidak dimengerti, atau hanya melemparkan senyum manis setelah berhasil menganggu Azzalea.
"Lo dimana sih, Cak?" batin Azzalea.
...----------------...
Gimana, kurang greget ya?